Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Studi Oxford, Transisi Cepat ke Energi Terbarukan Lebih Mahal adalah Salah

Acapkali pemerintah dan sejumlah pihak menunda transisi energi dengan alasan berbiaya mahal. Hasil penelitian justru menunjukkan, transisi energi harus secepatnya demi menekan risiko kerusakan planet.

Jumat, 16 September 2022
A A
Ilustrasi panel surya. Foto schropferoval/Pixabay.com.

Ilustrasi panel surya. Foto schropferoval/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Studi peer-review oleh kelompok peneliti Oxford University yang terbit di jurnal Joule pada 13 September 2022 mengungkapkan, mencapai sistem energi net-zero karbon pada 2050 sangatlah mungkin dan menguntungkan. Bahkan transisi ke sistem energi dekarbonisasi pada 2050 diperkirakan menyelamatkan dunia setidaknya US$ 12 triliun dibanding melanjutkan penggunaan bahan bakar fosil seperti saat ini.

“Ada kesalahpahaman yang meluas, bahwa beralih ke energi bersih dan hijau akan menyakitkan, mahal dan penuh pengorbanan. Itu salah,” kata pimpinan tim penelitian di Institute for New Economic Thinking di Oxford Martin School, Profesor Doyne Farmer, dalam siaran pers yang diterima Wanaloka.com pada 15 September 2022.

Dengan kata lain, gagasan bahwa go green akan mahal adalah salah. Justru transisi cepat ke energi bersih lebih murah daripada transisi lambat, apalagi tanpa transisi. Penelitian tersebut merupakan kolaborasi antara Institute for New Economic Thinking di Oxford Martin School, Oxford Martin Programme di the Post-Carbon Transition and Smith School of Enterprise & Environment di University of Oxford, dan SoDa Labs di Monash University.

Baca Juga: Pelarangan Ekspor Batu Bara Bukan Solusi, Harus Percepat Transisi Energi Terbarukan

Farmer menjelaskan, biaya energi terbarukan turun selama beberapa dekade. Lebih murah daripada bahan bakar fosil dalam banyak situasi. Penelitiannya menunjukkan, energi terbarukan akan menjadi lebih murah dibanding bahan bakar fosil pada hampir semua penerapannya pada tahun mendatang.

“Jika mempercepat transisi, energi terbarukan secara cepat akan menjadi lebih murah. Mengganti bahan bakar fosil sepenuhnya dengan energi bersih pada 2050 akan menghemat triliunan,” kata Farmer menegaskan.

Sementara biaya nuklir telah meningkat secara konsisten selama lima dekade terakhir, sehingga sangat tidak mungkin untuk bersaing secara biaya dengan jatuhnya biaya energi terbarukan dan penyimpanan.

Baca Juga: Buku Green Energy, Indonesia Belum Optimalkan Energi Baru Terbarukan yang Melimpah

Apalagi dunia, Farmer menambahkan, sedang menghadapi krisis inflasi simultan, krisis keamanan nasional, dan krisis iklim. Semua itu disebabkan ketergantungan manusia pada bahan bakar berbiaya tinggi, tidak aman, menghasilkan polusi, dengan harga fluktuatif.

Studi ini menunjukkan, kebijakan ambisius untuk secara dramatis bertransisi secepat mungkin, bukan cuma sangat dibutuhkan demi alasan iklim. Melainkan juga untuk menghemat triliunan dolar secara global dalam biaya energi.

“Memberi kita energi yang lebih bersih, lebih murah, lebih aman pada masa depan,” imbuh Farmer.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: energi terbarukanKrisis Iklimkrisis keamanan nasionalmahalmurahOxfordtransisi energi

Editor

Next Post
Ilustrasi instrumen listrik. Foto image4you/pixabay.com

Migrasi Listrik 450 VA ke 900 VA Masih Wacana, Fokus Pendataan Subsidi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media