Senin, 23 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Studi Oxford, Transisi Cepat ke Energi Terbarukan Lebih Mahal adalah Salah

Acapkali pemerintah dan sejumlah pihak menunda transisi energi dengan alasan berbiaya mahal. Hasil penelitian justru menunjukkan, transisi energi harus secepatnya demi menekan risiko kerusakan planet.

Jumat, 16 September 2022
A A
Ilustrasi panel surya. Foto schropferoval/Pixabay.com.

Ilustrasi panel surya. Foto schropferoval/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Studi peer-review oleh kelompok peneliti Oxford University yang terbit di jurnal Joule pada 13 September 2022 mengungkapkan, mencapai sistem energi net-zero karbon pada 2050 sangatlah mungkin dan menguntungkan. Bahkan transisi ke sistem energi dekarbonisasi pada 2050 diperkirakan menyelamatkan dunia setidaknya US$ 12 triliun dibanding melanjutkan penggunaan bahan bakar fosil seperti saat ini.

“Ada kesalahpahaman yang meluas, bahwa beralih ke energi bersih dan hijau akan menyakitkan, mahal dan penuh pengorbanan. Itu salah,” kata pimpinan tim penelitian di Institute for New Economic Thinking di Oxford Martin School, Profesor Doyne Farmer, dalam siaran pers yang diterima Wanaloka.com pada 15 September 2022.

Dengan kata lain, gagasan bahwa go green akan mahal adalah salah. Justru transisi cepat ke energi bersih lebih murah daripada transisi lambat, apalagi tanpa transisi. Penelitian tersebut merupakan kolaborasi antara Institute for New Economic Thinking di Oxford Martin School, Oxford Martin Programme di the Post-Carbon Transition and Smith School of Enterprise & Environment di University of Oxford, dan SoDa Labs di Monash University.

Baca Juga: Pelarangan Ekspor Batu Bara Bukan Solusi, Harus Percepat Transisi Energi Terbarukan

Farmer menjelaskan, biaya energi terbarukan turun selama beberapa dekade. Lebih murah daripada bahan bakar fosil dalam banyak situasi. Penelitiannya menunjukkan, energi terbarukan akan menjadi lebih murah dibanding bahan bakar fosil pada hampir semua penerapannya pada tahun mendatang.

“Jika mempercepat transisi, energi terbarukan secara cepat akan menjadi lebih murah. Mengganti bahan bakar fosil sepenuhnya dengan energi bersih pada 2050 akan menghemat triliunan,” kata Farmer menegaskan.

Sementara biaya nuklir telah meningkat secara konsisten selama lima dekade terakhir, sehingga sangat tidak mungkin untuk bersaing secara biaya dengan jatuhnya biaya energi terbarukan dan penyimpanan.

Baca Juga: Buku Green Energy, Indonesia Belum Optimalkan Energi Baru Terbarukan yang Melimpah

Apalagi dunia, Farmer menambahkan, sedang menghadapi krisis inflasi simultan, krisis keamanan nasional, dan krisis iklim. Semua itu disebabkan ketergantungan manusia pada bahan bakar berbiaya tinggi, tidak aman, menghasilkan polusi, dengan harga fluktuatif.

Studi ini menunjukkan, kebijakan ambisius untuk secara dramatis bertransisi secepat mungkin, bukan cuma sangat dibutuhkan demi alasan iklim. Melainkan juga untuk menghemat triliunan dolar secara global dalam biaya energi.

“Memberi kita energi yang lebih bersih, lebih murah, lebih aman pada masa depan,” imbuh Farmer.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: energi terbarukanKrisis Iklimkrisis keamanan nasionalmahalmurahOxfordtransisi energi

Editor

Next Post
Ilustrasi instrumen listrik. Foto image4you/pixabay.com

Migrasi Listrik 450 VA ke 900 VA Masih Wacana, Fokus Pendataan Subsidi

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media