Sabtu, 14 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Suara Perempuan Petani Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim

Perempuan petani tidak hanya sekadar pendamping. Mereka ingin dilibatkan dalam musyawarah desa dan rencana pembangunan pertanian

Senin, 30 September 2024
A A
Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.

Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor IPB University Bidang Riset, Inovasi dan Pengembangan Agromaritim, Prof. Ernan Rustiadi  menyebut begitu besar peranan perempuan petani.

“Selama ini, tokoh petani seringkali diasumsikan sosok laki-laki. Padahal, ada peran yang signifikan oleh petani perempuan sehingga enam bidang tersebut perlu disuarakan,” ucap dia.

Terkait arah pembangunan pertanian ke depan dalam menghadapi perubahan iklim, Ernan menyampaikan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pertanian akan diarahkan menuju pertanian regeneratif.

Baca Juga: Tim Advokasi Tolak Tambang Ajukan Uji Materiil PP 25 yang Berikan IUPK untuk Ormas Agama

“Pertanian regeneratif bertujuan untuk meningkatkan kualitas lahan dengan merehabilitasi dan merevitalisasi seluruh ekosistem, seperti tanah dan air. Selain itu, pendekatan ini juga mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mendorong penggunaan pupuk yang berbasis agen hayati,” papar Ernan.

Saat ini, IPB University telah mengembangkan banyak varietas yang ramah dan adaptif terhadap perubahan Iklim. IPB University telah memiliki 130 varietas baru yang berorientasi tahan iklim. Termasuk di antaranya padi yang tahan di lahan kering.

“Kami akan memberikan perhatian khusus inovasi yang ramah gender. Ke depan, IPB University sangat konsen terhadap pertanian modern dengan teknologi baru, untuk itu IPB University mendirikan Program Studi Smart Agriculture,” imbuh dia.

Baca Juga: Anggota DPR dan Akademisi Satu Suara Tolak Kebijakan Ekspor Pasir Laut

Kepala Tani dan Nelayan Center (TNC) IPB University, Prof. Hermanu Triwidodo berharap, TNC bisa menjadi penghubung antara petani dan nelayan dengan para peneliti dan akademisi sehingga lahir kerja kolektif dalam mendorong perbaikan di sektor pertanian.

“Kegiatan ini diharapkan dapat membangun silaturahmi yang hampir padam. Kami berharap para petani perempuan pejuang dapat mencurahkan pengalaman di lapangan sebagai bagian dari upaya refleksi pada acara ini,” ujar Hermanu.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Kenduri Tani yang bertema “Refleksi Petani Nusantara: Adaptasi terhadap Perubahan Iklim dan Kebijakan Pertanian” yang berfokus pada peran strategis petani perempuan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebijakan sektor pertanian.

Baca Juga: Yang Unik dari Bencana Palu 2018 , Gempa Bumi Berpusat di Darat yang Memicu Tsunami

Kegiatan ini dihadiri oleh petani perempuan dari berbagai daerah, seperti Banyuwangi, Blitar, Yogyakarta, Bogor, Manggarai Barat, Pasuruan, Tuban, Pati, Banyumas, Tegal, Brebes, Garut, Indramayu, dan Subang. Mereka berdiskusi tentang pengalaman dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan di sektor pertanian.

Dalam suasana inklusif, para petani perempuan berbagi tantangan serta strategi adaptasi mereka untuk menggali lebih dalam permasalahan yang dihadapi petani perempuan serta solusi praktis yang dapat diimplementasikan

Nantinya, hasil diskusi ini menjadi bahan masukan dalam perumusan kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap perubahan iklim di sektor pertanian. Acara ini juga menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun di lahan pertanian, tetapi juga dalam kebijakan yang mendukung petani, terutama perempuan, yang selama ini sering kali terpinggirkan dalam pengambilan keputusan. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: gagal panenHari Tani NasionalIPB Universityperempuan petaniperubahan iklim

Editor

Next Post
Lokasi pekerja PT WNII terjatuh akibat kecelakaan kerja, Morowali, Sulawesi Tengah, 28 September 2024. Foto Istimewa.

Kecelakaan Kerja Lagi di Kawasan IMIP, Pelatihan K3 Penting dan Bukan Formalitas

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?
    In Rehat
    Kamis, 12 Februari 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media