Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Suara Perempuan Petani Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim

Perempuan petani tidak hanya sekadar pendamping. Mereka ingin dilibatkan dalam musyawarah desa dan rencana pembangunan pertanian

Senin, 30 September 2024
A A
Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.

Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perempuan petani asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Etik Linawati memaparkan berbagai kesulitan yang dihadapi para perempuan petani akibat perubahan iklim. Biaya produksi pertanian semakin tinggi, namun hasil panen menurun dan harga pasar fluktuatif.

“Ada enam bidang yang terdampak langsung pada perempuan petani akibat perubahan iklim. Dari sisi ekonomi, kesehatan, hubungan dengan keluarga, kelembagaan, lingkungan, dan sosial,” kata Etik.

Demi bertahan hidup, banyak perempuan petani terpaksa menjual aset keluarga, seperti sertifikat tanah dan perhiasan. Kondisi ini tak jarang memicu stress dan gangguan kesehatan mental di kalangan petani.

Baca Juga: Begini Kongkalikong Proyek Swasta Disulap Jadi PSN Rempang

Sebenarnya, salah satu solusi untuk mengatasi kondisi itu, menurut Etik adalah meningkatkan kreativitas perempuan petani dalam mengolah hasil panen. Namun dukungan dari pemerintah, terutama dalam hal pengolahan pasca panen, dirasakan masih sangat terbatas.

“Dana desa yang dialokasikan untuk pengolahan pasca panen sangat minim. Asuransi untuk gagal panen juga sulit untuk diakses,” tutur Etik.

Sementara, perempuan petani asal Blitar,Jawa Timur, Naning menyoroti isu kekeringan yang menyebabkan kelangkaan sumber daya air di wilayahnya.

Baca Juga: Longsor Tambang di Solok Berada di Zona Potensi Gerakan Tanah

“Kami terpaksa menunggu air irigasi pada malam hari, sehingga waktu istirahat berkurang dan produktivitas menurun,” kata dia.

Ketidakpastian musim juga menjadi penyebab gagal panen dan menurunnya kualitas hasil pertanian. Ia juga mengusulkan perlunya asuransi gagal panen serta keterlibatan aktif perempuan dalam pengambilan kebijakan di tingkat desa.

“Perempuan petani tidak hanya sekadar pendamping. Kami ingin dilibatkan dalam musyawarah desa dan rencana pembangunan pertanian,” tegas Naning.

Baca Juga: Tambang Ilegal di Solok Longsor, 12 Tewas dan 2 Orang dalam Pencarian

Sementara Perempuan petani asal Pati, Jawa Tengah, Gunarti menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam pertanian.

“Mahasiswa pertanian, terutama dari IPB University, harus terjun langsung ke lapangan untuk membantu petani mengembangkan benih lokal unggul. Kami tidak bisa terus bergantung pada pemerintah,” ujar Gunarti.

Testimoni tiga perempuan petani itu disampaikan dalam kegiatan Rembug Petani Perempuan di Balai Rakyat Indonesia, Agribusiness and Technology Park (ATP), IPB University pada 25-26 September 2024. Acara tersebut digelar Tani dan Nelayan Center (TNC) IPB University bekerja sama dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Gerakan Petani Nusantara (GPN), dan Lapor Iklim untuk memperingati Hari Tani Nasional 2024.

Baca Juga: Begini Siklus Zat Beracun Arsen Mengontaminasi Tubuh Melalui Makanan

Perbaikan sektor pertanian

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: gagal panenHari Tani NasionalIPB Universityperempuan petaniperubahan iklim

Editor

Next Post
Lokasi pekerja PT WNII terjatuh akibat kecelakaan kerja, Morowali, Sulawesi Tengah, 28 September 2024. Foto Istimewa.

Kecelakaan Kerja Lagi di Kawasan IMIP, Pelatihan K3 Penting dan Bukan Formalitas

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media