Kontaminasi juga dapat mencapai sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka waktu lebih lama. Artinya, meskipun air permukaan tampak kembali jernih, ancaman toksik masih dapat tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu.
Dari sisi kesehatan publik, paparan pestisida bisa terjadi melalui kontak langsung seperti mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar. Ignas menjelaskan bahwa jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, dapat menyebabkan gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung dosis paparan.
“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik,” ungkap dia.
Mitigasi darurat
Untuk mitigasi jangka pendek, ia merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk keperluan apa pun sampai dinyatakan aman. Upaya netralisasi atau remediasi in-situ juga perlu dilakukan jika sumber pencemaran masih teridentifikasi.
Baca juga: Banjir Bandang menjadi Alarm Ekosistem Hutan yang Runtuh
Sebagai lembaga riset nasional, BRIN melalui Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air memiliki peran penting dalam membantu mengidentifikasi jenis dan konsentrasi pestisida, memodelkan penyebaran kontaminan, serta memberikan rekomendasi teknologi pengolahan air baku yang efektif bagi PDAM terdampak. BRIN juga dapat mengukur dampak toksikologi pada biota lokal dan memprediksi waktu pemulihan ekosistem.
Ignas menekankan pentingnya strategi jangka panjang, mulai dari penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran B3, pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online, hingga diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis. Restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian juga menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.
“Kami mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis,” tegas Ignas.
Ia juga meminta masyarakat aktif melaporkan hal mencurigakan di sepanjang sungai kepada pihak berwenang demi mencegah kejadian serupa terulang kembali. [WLC02]
Sumber: BRIN






Discussion about this post