Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Peneliti BRIN Bagikan Strategi Mitigasi Darurat

Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis.

Senin, 16 Februari 2026
A A
Peneliti BRIN melakukan penelitian di Sungai Cisadane. Foto Dok. BRIN.

Peneliti BRIN melakukan penelitian di Sungai Cisadane. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Insiden pencemaran Sungai Cisadane akibat dugaan tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida menjadi alarm serius bagi lingkungan dan kesehatan publik. Dampak pencemaran dilaporkan meluas hingga radius 22,5 kilometer, sehingga memengaruhi wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Kota Tangerang Selatan.

Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Ignasius D.A. Sutapa menegaskan kasus ini merupakan krisis ekologis yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi. Mengingat Sungai Cisadane merupakan arteri vital yang menyuplai kebutuhan air baku, irigasi, serta menopang ekosistem perairan di wilayah padat penduduk dan industri.

“Selama ini, sungai tersebut memang disinyalir menghadapi persoalan pencemaran kronis dari limbah domestik, industri, dan pertanian. Namun, insiden kali ini bersifat akut karena melibatkan volume besar zat beracun yang masuk secara tiba-tiba ke badan air,” ujar Ignas melalui pesan tertulisnya, Jumat, 13 Februari 2026.

Penyebaran pestisida hingga 22,5 kilometer terjadi akibat mekanisme hidrodinamika sungai. Ketika beban pencemaran dalam jumlah besar masuk secara mendadak, kapasitas alami sungai untuk melakukan dilusi dan asimilasi terlampaui. Kontaminan kemudian terbawa arus melalui proses dispersi dan difusi mengikuti debit aliran sungai.

Baca juga: Monsun Asia Menguat, Waspada Potensi Hujan Lebat di Aceh hingga Papua

Karakteristik kimia pestisida turut mempercepat penyebaran. Jika zat tersebut memiliki kelarutan tinggi dalam air dan relatif stabil dalam lingkungan perairan, maka konsentrasinya dapat bertahan cukup lama untuk menyebar secara homogen sepanjang koridor sungai.

“Kondisi ini memungkinkan wilayah hilir, termasuk lokasi pengambilan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), ikut terdampak,” lanjut dia.

Dampak ekologis hingga kesehatan

Dampak ekologisnya dinilai sangat serius. Konsentrasi pestisida yang tinggi dapat menyebabkan kematian massal biota air seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton. Insiden ikan mati mendadak kerap menjadi indikator paling jelas adanya pencemaran toksik di perairan.

Selain toksisitas akut, Ignas menyoroti potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi. Residu pestisida atau metabolitnya dapat terakumulasi dalam jaringan organisme air, lalu berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut. Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis.

Baca juga: Wilayah Sumatra Banjir Lagi, Pencabutan Izin Korporasi Harus Ada Keterbukaan Informasi

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Ekosistem PerairanPencemaran ToksikPusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRINSungai CisadaneZat Beracun

Editor

Next Post
Air melimpas ke jalan raya Purwodadi-Semarang, akibat tanggul tidak mampu menampung debit air di Dusun Mlati, Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Senin, 16 Februari 2026. Foto BPBD Kabupaten Grobogan.

Banjir Rendam 34 Desa di Grobogan, Beberapa Tanggul Jebol

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media