Senin, 16 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tak Hanya Megathrust, Pakar Ingatkan Warga Waspada Sesar Aktif di Daratan

Rabu, 25 September 2024
A A
Bangunan rumah roboh akibat gempa M5,0 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 18 September 2024. Foto Dok. BNPB.

Bangunan rumah roboh akibat gempa M5,0 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 18 September 2024. Foto Dok. BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

“Sesar Garsela ini memang sudah kita petakan di Peta Gempa Nasional tahun 2017 dan juga di Peta Gempa tahun 2024,” ujar Rahma melalui sambungan teleconference, Kamis, 19 September 2024.

Menurut Rahma sesar Garsela memiliki dua segmen yakni segmen rakutai dan segmen kencana. Namun masih diperlukan investigasi lebih lanjut guna memastikan penyebab gempa yang terjadi di Kabupaten Bandung, terlebih bila melihat pusat kerusakan yang berada 5 Km di sisi barat pusat gempa.

Ia memprediksi gempa tersebut tidak terkait langsung dengan gempa megathrust karena berbeda letak dan posisi lempeng.

Baca Juga: Djati Mardiatno, Masyarakat Bisa Lakukan Mitigasi Kekeringan Mandiri

“Yang terjadi di Bandung itu ada di lempeng Eurasia, sedangkan kalau Megathrust itu pertemuan antara lempeng Eurasia dan Indo Australia. Secara langsung tidak terkait,” jelas dia.

Rahma juga mencatat bahwa meskipun gempa ini tidak berhubungan langsung dengan megathrust, ada kemungkinan aktivitas seismik di Pulau Jawa dipengaruhi oleh pergerakan lempeng di bawahnya. Oleh karena itu, investigasi lebih lanjut diperlukan, termasuk studi terhadap sesar lokal di sekitar Kertasari dan dampaknya terhadap wilayah tersebut.

Beradaptasi dengan gempa

Meskipun dihimpit banyak sesar aktif daratan dan zona megathrust, Gayatri menghimbau masyarakat untuk tidak panik dan menekankan pada pentingnya edukasi dalam beradaptasi dan memitigasi dampak dari bencana gempa.

Baca Juga: Kadar Glukosa Penderita Diabetes Turun Usai Konsumsi Kratom

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah selalu waspada di manapun berada dengan mengetahui ancaman gempa yang mungkin terjadi. Ia juga meminta agar masyarakat melakukan perencanaan di berbagai level hingga ke lingkungan keluarga.

“Melakukan persiapan pribadi tentunya, jadi sudah paham, kalau terjadi gempa apa yang harus kita lakukan. Minimal kita sudah siap tas siaga bencana,” ujar dia.

Pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiagaan dalam menghadapi bencana gempa juga perlu ditingkatkan karena jika masyarakat bergerak sendiri hasilnya tidak akan optimal. Sebagai langkah konkret, Gayatri menggarisbawahi pentingnya edukasi kebencanaan yang konsisten dan terus-menerus dilakukan oleh pemerintah bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya.

Baca Juga: Irwan Meilano, Gempa Bumi Tak Hanya dari Zona Megathrust di Pantai Selatan

“Edukasi ini bertujuan untuk menjaga kesiapsiagaan masyarakat tanpa menimbulkan ketakutan yang berlebihan,” imbuh dia.

Rahma menambahkan, untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, mitigasi struktural dan kesadaran publik terhadap prosedur penyelamatan diri saat gempa terjadi penting disampaikan. Penguatan bangunan sesuai dengan standar tahan gempa, penyusunan rencana evakuasi, serta penyediaan tas siaga adalah langkah-langkah yang dapat mengurangi dampak kerusakan dan korban jiwa dalam kejadian gempa mendatang. [WLC02]

Sumber: UGM, BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINGempa Daratgempa MegathrustGeologi UGMmitigasi gempasesar aktifSesar GarselaSesar Kertasari

Editor

Next Post
Asteroid di antara Bumi dan bulan. Foto BRIN.

Mengenal Bulan Mini yang Mengelilingi Bumi pada 25 dan 29 September 2024

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ikan mati massal. Foto akbarnemati/pixabay.com.Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?
    In Rehat
    Kamis, 12 Februari 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media