“Sesar Garsela ini memang sudah kita petakan di Peta Gempa Nasional tahun 2017 dan juga di Peta Gempa tahun 2024,” ujar Rahma melalui sambungan teleconference, Kamis, 19 September 2024.
Menurut Rahma sesar Garsela memiliki dua segmen yakni segmen rakutai dan segmen kencana. Namun masih diperlukan investigasi lebih lanjut guna memastikan penyebab gempa yang terjadi di Kabupaten Bandung, terlebih bila melihat pusat kerusakan yang berada 5 Km di sisi barat pusat gempa.
Ia memprediksi gempa tersebut tidak terkait langsung dengan gempa megathrust karena berbeda letak dan posisi lempeng.
Baca Juga: Djati Mardiatno, Masyarakat Bisa Lakukan Mitigasi Kekeringan Mandiri
“Yang terjadi di Bandung itu ada di lempeng Eurasia, sedangkan kalau Megathrust itu pertemuan antara lempeng Eurasia dan Indo Australia. Secara langsung tidak terkait,” jelas dia.
Rahma juga mencatat bahwa meskipun gempa ini tidak berhubungan langsung dengan megathrust, ada kemungkinan aktivitas seismik di Pulau Jawa dipengaruhi oleh pergerakan lempeng di bawahnya. Oleh karena itu, investigasi lebih lanjut diperlukan, termasuk studi terhadap sesar lokal di sekitar Kertasari dan dampaknya terhadap wilayah tersebut.
Beradaptasi dengan gempa
Meskipun dihimpit banyak sesar aktif daratan dan zona megathrust, Gayatri menghimbau masyarakat untuk tidak panik dan menekankan pada pentingnya edukasi dalam beradaptasi dan memitigasi dampak dari bencana gempa.
Baca Juga: Kadar Glukosa Penderita Diabetes Turun Usai Konsumsi Kratom
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah selalu waspada di manapun berada dengan mengetahui ancaman gempa yang mungkin terjadi. Ia juga meminta agar masyarakat melakukan perencanaan di berbagai level hingga ke lingkungan keluarga.
“Melakukan persiapan pribadi tentunya, jadi sudah paham, kalau terjadi gempa apa yang harus kita lakukan. Minimal kita sudah siap tas siaga bencana,” ujar dia.
Pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiagaan dalam menghadapi bencana gempa juga perlu ditingkatkan karena jika masyarakat bergerak sendiri hasilnya tidak akan optimal. Sebagai langkah konkret, Gayatri menggarisbawahi pentingnya edukasi kebencanaan yang konsisten dan terus-menerus dilakukan oleh pemerintah bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya.
Baca Juga: Irwan Meilano, Gempa Bumi Tak Hanya dari Zona Megathrust di Pantai Selatan
“Edukasi ini bertujuan untuk menjaga kesiapsiagaan masyarakat tanpa menimbulkan ketakutan yang berlebihan,” imbuh dia.
Rahma menambahkan, untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, mitigasi struktural dan kesadaran publik terhadap prosedur penyelamatan diri saat gempa terjadi penting disampaikan. Penguatan bangunan sesuai dengan standar tahan gempa, penyusunan rencana evakuasi, serta penyediaan tas siaga adalah langkah-langkah yang dapat mengurangi dampak kerusakan dan korban jiwa dalam kejadian gempa mendatang. [WLC02]
Discussion about this post