Jumat, 9 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kadar Glukosa Penderita Diabetes Turun Usai Konsumsi Kratom

Ekstrak kratom memiliki sifat antioksidan yang mampu melindungi sel dari radikal bebas, seperti spesies oksigen reaktif (ROS) dan oksida nitrat.

Minggu, 22 September 2024
A A
Ilustrasi ekstrak daun kratom untuk obat diabetes. Foto tangkapan layar BRIN.

Ilustrasi ekstrak daun kratom untuk obat diabetes. Foto tangkapan layar BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Daun kratom masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat karena klaim manfaat kesehatan dan kontroversinya. Tanaman yang berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia ini, salah satunya digunakan untuk keperluan medis tradisional, seperti obat untuk diabetes. Bahkan Pusat Riset Vaksin dan Obat, Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan riset terkait aktivitasnya secara farmakologis, terutama proses pengujian kratom untuk obat diabetes dengan uji in vivo dan in vitro.

“Sebab secara empiris didapat data dari beberapa teman di Kalimantan yang mempunyai riwayat diabetes. Mereka mengonsumsi kratom, ternyata level glukosanya menjadi rendah. Kondisinya pun menjadi lebih bagus dibandingkan sebelum mengkonsumsi kratom,” papar Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat, Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Masteria Yunovilsa Putra dalam BRIN Insight Every Friday (BRIEF) edisi 133 bertema “Kratom: Traditional Uses vs Modern Applications”, Jumat, 20 September 2024.

Kementerian Perdagangan Indonesia pun secara resmi mengatur kebijakan penanganan, pemanfaatan, dan perdagangan kratom yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2024.

Baca Juga: Irwan Meilano, Gempa Bumi Tak Hanya dari Zona Megathrust di Pantai Selatan

Ada 40 jenis senyawa alkaloid

Kratom (Mitragyna speciosa) merupakan tanaman endemik di Asia Tenggara, terutama di wilayah Malaysia dan beberapa daerah di Thailand. Habitat mayoritas di Indonesia terdapat di Kalimantan. Umumnya kratom diekspor ke Amerika dan Eropa.

Kratom adalah tumbuhan Rubiaceae, satu keluarga dengan kopi. Nama local di Kalimantan Barat adalah “purik” atau “ketum”, sedangkan di Kalimantan Timur adalah “kedamba” atau “kedemba”.

Masteria menjelaskan, penggunaan kratom secara tradisional dikonsumsi langsung daun keringnya atau diseduh dengan air panas, dan diminum sebagai teh. Terdapat beberapa tipe daun dari Kratom ini, yaitu kratom yang memiliki urat daun berwarna hijau dan merah.

Baca Juga: Kamajaya Bantu Petani Pastikan Awal Musim Tanam Lebih Akurat

“Kratom dipercaya dapat mengobati infeksi usus, nyeri otot, batuk, diare, serta dapat meningkatkan energi dan suasana hati atau mood booster. Pada abad ke-19, di Malaysia dan Thailand para pecandu opium menggunakan kratom untuk mengatasi kecanduan,” ungkap dia.

Pada 1921, senyawa kratom pertama kali diisolasi oleh Hooper. Risetnya berlangsung sejak 103 tahun lalu, bahkan sampai saat ini masih menjadi kontroversi. Dalamsalah satu paper Journal of The Chemical Society Transactions pada 1921 menyebutkan, Ellen Field mengisolasi senyawa mitragynine dan mitraversine dari Mitragyna speciosa. Dia menyebutkan, kratom digunakan untuk pengobatan pada kecanduan opium dan anestesi lokal.

Baca Juga: Fahmy Radhi, Hentikan Ekspor Laut Sebab Sama Saja Menjual Negara

Setidaknya terdapat 40 jenis senyawa alkaloid dalam daun kratom. Lima senyawa utamanya adalah mitragynine, paynantheine, speciogynine, 7-hydroxymitragynine dan speciocilatine. Kandungan senyawanya bervariasi di setiap daerah, yaitu antara 50 hingga 70 persen.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: alkaloid kratomBRINekstrak daun kratomgejala putus obatin vitro dan in viivoMitragyna speciosaobat diabetes

Editor

Next Post
Guru Besar Bidang Geomorfologi Lingkungan Fakultas Geografi, Prof. Djati Mardiatno. Foto geo.ugm.ac.id.

Djati Mardiatno, Masyarakat Bisa Lakukan Mitigasi Kekeringan Mandiri

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media