Selasa, 7 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kadar Glukosa Penderita Diabetes Turun Usai Konsumsi Kratom

Ekstrak kratom memiliki sifat antioksidan yang mampu melindungi sel dari radikal bebas, seperti spesies oksigen reaktif (ROS) dan oksida nitrat.

Minggu, 22 September 2024
A A
Ilustrasi ekstrak daun kratom untuk obat diabetes. Foto tangkapan layar BRIN.

Ilustrasi ekstrak daun kratom untuk obat diabetes. Foto tangkapan layar BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Daun kratom masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat karena klaim manfaat kesehatan dan kontroversinya. Tanaman yang berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia ini, salah satunya digunakan untuk keperluan medis tradisional, seperti obat untuk diabetes. Bahkan Pusat Riset Vaksin dan Obat, Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan riset terkait aktivitasnya secara farmakologis, terutama proses pengujian kratom untuk obat diabetes dengan uji in vivo dan in vitro.

“Sebab secara empiris didapat data dari beberapa teman di Kalimantan yang mempunyai riwayat diabetes. Mereka mengonsumsi kratom, ternyata level glukosanya menjadi rendah. Kondisinya pun menjadi lebih bagus dibandingkan sebelum mengkonsumsi kratom,” papar Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat, Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Masteria Yunovilsa Putra dalam BRIN Insight Every Friday (BRIEF) edisi 133 bertema “Kratom: Traditional Uses vs Modern Applications”, Jumat, 20 September 2024.

Kementerian Perdagangan Indonesia pun secara resmi mengatur kebijakan penanganan, pemanfaatan, dan perdagangan kratom yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2024.

Baca Juga: Irwan Meilano, Gempa Bumi Tak Hanya dari Zona Megathrust di Pantai Selatan

Ada 40 jenis senyawa alkaloid

Kratom (Mitragyna speciosa) merupakan tanaman endemik di Asia Tenggara, terutama di wilayah Malaysia dan beberapa daerah di Thailand. Habitat mayoritas di Indonesia terdapat di Kalimantan. Umumnya kratom diekspor ke Amerika dan Eropa.

Kratom adalah tumbuhan Rubiaceae, satu keluarga dengan kopi. Nama local di Kalimantan Barat adalah “purik” atau “ketum”, sedangkan di Kalimantan Timur adalah “kedamba” atau “kedemba”.

Masteria menjelaskan, penggunaan kratom secara tradisional dikonsumsi langsung daun keringnya atau diseduh dengan air panas, dan diminum sebagai teh. Terdapat beberapa tipe daun dari Kratom ini, yaitu kratom yang memiliki urat daun berwarna hijau dan merah.

Baca Juga: Kamajaya Bantu Petani Pastikan Awal Musim Tanam Lebih Akurat

“Kratom dipercaya dapat mengobati infeksi usus, nyeri otot, batuk, diare, serta dapat meningkatkan energi dan suasana hati atau mood booster. Pada abad ke-19, di Malaysia dan Thailand para pecandu opium menggunakan kratom untuk mengatasi kecanduan,” ungkap dia.

Pada 1921, senyawa kratom pertama kali diisolasi oleh Hooper. Risetnya berlangsung sejak 103 tahun lalu, bahkan sampai saat ini masih menjadi kontroversi. Dalamsalah satu paper Journal of The Chemical Society Transactions pada 1921 menyebutkan, Ellen Field mengisolasi senyawa mitragynine dan mitraversine dari Mitragyna speciosa. Dia menyebutkan, kratom digunakan untuk pengobatan pada kecanduan opium dan anestesi lokal.

Baca Juga: Fahmy Radhi, Hentikan Ekspor Laut Sebab Sama Saja Menjual Negara

Setidaknya terdapat 40 jenis senyawa alkaloid dalam daun kratom. Lima senyawa utamanya adalah mitragynine, paynantheine, speciogynine, 7-hydroxymitragynine dan speciocilatine. Kandungan senyawanya bervariasi di setiap daerah, yaitu antara 50 hingga 70 persen.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: alkaloid kratomBRINekstrak daun kratomgejala putus obatin vitro dan in viivoMitragyna speciosaobat diabetes

Editor

Next Post
Guru Besar Bidang Geomorfologi Lingkungan Fakultas Geografi, Prof. Djati Mardiatno. Foto geo.ugm.ac.id.

Djati Mardiatno, Masyarakat Bisa Lakukan Mitigasi Kekeringan Mandiri

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Kebun eukaliptus PT Adindo Hutan Lestari di Kalimantan Utara. Foto Yayasan Auriga Nusantara.Mengapa Viskosa Harus Masuk Aturan UU Anti Deforestasi Uni Eropa?
    In Rehat
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi salah satu kucing ras jumbo. Foto Kadisha/Pixabay.com.Mengenal Kucing Ras Jumbo untuk Dipelihara di Rumah
    In Rehat
    Kamis, 25 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media