Baca juga: Demi Palestina, Jatam Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan Geothermal Afiliasi Israel di Halmahera
Adrin juga menekankan pentingnya mitigasi, terutama pengendalian air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah, penetapan zona bahaya, serta pemasangan sistem peringatan dini longsor. Ia mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap tanda-tanda awal seperti munculnya retakan tanah atau amblesan kecil.
“Peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari,” papar dia.
Tanda-tanda kemunculan sinkhole
Sementara fenomena sinkhole (lubang runtuhan) ditemukan di beberapa tempat di kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sinkhole pertama muncul di rumah warga pada 7 Januari 2026 dengan ukuran 2 meter x 5 meter dan kedalaman 4 meter. Beberapa hari kemudian dengan jarak 12 kilometer, muncul sinkhole kedua di lahan pertanian terbuka dengan ukuran yang lebih kecil berkisar 3 meter x 4 meter dan kedalaman sekitar 3 meter.
Kemunculan sinkhole disinyalir karena wilayah pemukiman Gunungkidul berada pada kawasan pegunungan karst. Fenomena yang sama sebelumnya muncul di Sumatera Barat usai dilanda bencana longsor dan banjir bandang.
Baca juga: Tak Ada Fase Aman Melihat Gerhana Matahari Cincin Tanpa Penapis
Guru Besar Teknik Geologi UGM, Prof. Wahyu Wilopo mengatakan sinkhole merupakan fenomena terjadinya runtuhan permukaan tanah secara vertikal sehingga terbentuk suatu lubang dengan kedalaman yang bervariasi. Runtuhan ini dapat disebabkan adanya rongga yang terjadi akibat proses alami, proses pelarutan batuan, hingga kegiatan tambang. Sedangkan proses pelarutan dapat berlangsung lebih intensif apabila terdapat intensitas air yang lebih banyak.
“Sinkhole merupakan proses alami yang dapat dipercepat dari aktivitas manusia dan faktor alam. Hampir semua fenomena sinkhole yang muncul dipicu curah hujan tinggi,” jelasnya Wilopo, Jumat, 20 Februari 2026.
Fenomena munculnya sinkhole juga dipengaruhi delapan persen daratan di Indonesia yang terdiri dari kawasan karst. Akibatnya sering terjadi runtuhan permukaan tanah yang berbentuk lubang, baik karena faktor alam maupun dampak aktivitas manusia.
Terdapat beberapa tanda terjadinya sinkhole agar masyarakat dapat melakukan mitigasi lebih cepat. Pertama, munculnya retakan di permukaan tanah atau batuan dengan pola membulat, setengah, dan seperempat. Kedua, permukaan tanah atau batuan turun dibandingkan dengan lokasi sekitarnya. Keadaan ini lebih mudah terlihat apabila terjadi hujan, air hujan akan terkumpul dalam satu tempat. Ketiga, banyak muncul lubang-lubang kecil yang dapat membesar.
Baca juga: Tantangan Teknologi Ekstraksi Logam Tanah Jarang di Indonesia
“Apabila teridentifikasi tanda-tanda tersebut, sebaiknya masyarakat segera melapor pada pihak berwajib dan tidak mendekatinya,” pesan dia.
Kemuculan sinkhole dalam skala besar dapat berdampak besar terhadap lingkungan dan manusia. Dampak lingkungan seperti perubahan topografi, hilangnya ekosistem flora dan fauna akibat runtuhan, pencemaran air tanah, hingga erosi. Dampak yang dapat ditimbulkan dalam aktivitas manusia seperti ancaman keselamatan dan relokasi pemukiman apabila terjadi di area tersebut.
Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan keamanan daerah tempat tinggal. Masyarakat dapat melakukan ronda lingkungan terutama pasca hujan untuk memastikan tanda-tanda terjadinya sinkhole maupun bencana hidrometeorologi.
“Marilah selalu siaga pada lingkungan sekitar terutama saat masih musim penghujan,” kata dia. [WLC02]






Discussion about this post