Selain penyimpanan, Tuti juga membagikan strategi pengolahan daging kurban yang tepat. Ia menyarankan agar daging tidak dimasak dalam kondisi masih beku karena dapat menyebabkan tekstur menjadi alot.
“Penggunaan bumbu kaya antioksidan serta teknik memasak dengan suhu dan waktu yang cukup juga dianjurkan untuk menghasilkan olahan yang lebih sehat dan lezat,” kata dia.
Daging sebaiknya dimasak hingga matang sempurna, baik dengan cara direbus, dipanggang, dibakar, maupun digoreng. Namun, masyarakat perlu menghindari untuk memasak daging hingga gosong, terutama pada olahan sate atau daging bakar.
Untuk menghasilkan daging sate yang lebih empuk, Tuti menyarankan penggunaan parutan nanas atau membungkus daging dengan daun pepaya sebelum dimasak.
Sementara untuk daging kurban yang telah disimpan beku, proses penyegaran dapat dilakukan dengan merendam daging yang masih berada di dalam kemasan ke dalam air dingin hingga kembali segar sebelum diolah sesuai kebutuhan.
Risiko zoonosis
Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Herwin Pisestyani menegaskan pemilihan hewan kurban yang sehat tidak hanya penting dari sisi syariat. Namun juga menjadi langkah utama dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Hewan kurban seperti sapi, kambing, dan domba rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk yang dapat menular ke manusia atau disebut zoonosis,” ujar Herwin.
Ia menjelaskan, salah satu zoonosis yang umum ditemukan pada kambing dan domba adalah orf, yakni penyakit kulit akibat infeksi virus pox. Penyakit ini ditandai dengan munculnya keropeng dan penebalan kulit di area mulut, hidung, kaki, hingga puting susu hewan.
Penularan penyakit orf kepada manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan bagian kulit hewan yang terinfeksi, terutama jika terdapat luka terbuka pada kulit manusia.
Selain orf, masyarakat juga diminta mewaspadai skabies yang disebabkan tungau, seperti Psoroptes bovis dan Sarcoptes scabiei. Hewan yang terinfeksi biasanya mengalami gatal, bulu kusam, dan muncul kerak pada kulit.
“Penularan ke manusia bisa terjadi melalui kontak langsung,” jelas dia.
Herwin turut menyoroti ancaman tuberkulosis hewan akibat infeksi Mycobacterium bovis. Penyakit tersebut dapat menular melalui udara yang tercemar maupun konsumsi susu yang tidak dimasak dengan baik.
“Penularan bisa terjadi jika seseorang menghirup debu atau tetesan air dari hewan yang terinfeksi atau melalui luka pada kulit,” terang dia.
Selain zoonosis, terdapat pula penyakit menular antarhewan seperti pink eye, septicaemia epizootica, hepatic fascioliasis, diare, penyakit mulut dan kuku (PMK), serta lumpy skin disease.
Ia menilai penyakit-penyakit tersebut dapat memicu kerugian ekonomi sekaligus meningkatkan risiko kesehatan masyarakat apabila tidak ditangani secara tepat.
Lebih lanjut, Herwin menekankan hewan kurban yang layak harus memenuhi syarat kesehatan dan ketentuan syariat. Secara medis, hewan sehat dapat dikenali dari kondisi fisik yang tegap, mata cerah, bulu bersih, responsif terhadap lingkungan, serta memiliki nafsu makan yang baik.
Ia juga menyampaikan hewan kurban sebaiknya bebas dari cacat fisik seperti patah tanduk, telinga robek, maupun ekor putus. Dari sisi usia, sapi dan kambing idealnya telah mengalami pergantian gigi permanen sebagai tanda cukup umur untuk dikurbankan.
Untuk mencegah penyebaran penyakit, panitia kurban diimbau memastikan setiap hewan memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dinas terkait.
Selain itu, hewan perlu ditempatkan pada kandang penampungan yang layak, memperoleh pakan dan air minum yang cukup. Serta dipuasakan selama 12 jam sebelum penyembelihan dengan tetap diberikan air minum.
Jika ditemukan hewan sakit atau mati mendadak, panitia diminta segera melapor kepada petugas kesehatan hewan. Penanganan dapat dilakukan secara cepat dan risiko penyebaran penyakit dapat diminimalkan. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post