Kamis, 11 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ungkap Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa Lewat Sedimen dan Legenda

Penelitian ini untuk memahami ancaman megathrust di zona subduksi selatan Jawa yang hingga kini masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai sejarah gempa dan tsunami besar.

Rabu, 10 Juni 2026
A A
Peta potensi tsunami dari dampak skenario gempa megathrust pantai selatan Jawa. Foto @widjokongko/twitter

Peta potensi tsunami dari dampak skenario gempa megathrust pantai selatan Jawa. Foto @widjokongko/twitter

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian paleotsunami yang di sepanjang pesisir selatan Jawa hingga Bali. Riset itu mengungkap indikasi kuat bahwa tsunami besar pernah terjadi sekitar 400 tahun lalu.

Peneliti PRKG BRIN, Eko Yulianto menjelaskan, jejak peristiwa itu hingga kini masih dapat ditemukan dan ditelusuri melalui berbagai bukti ilmiah. Jejak tersebut diperoleh melalui kombinasi bukti geologi, mikrofosil laut, arkeologi, hingga kajian terhadap narasi budaya masyarakat pesisir.

“Permasalahannya, tidak ada dokumen sejarah yang dapat menjelaskan kapan ruptur raksasa terakhir benar-benar terjadi. Jika gempa megathrust terjadi sebelum periode sejarah tertulis, memorinya mungkin sudah hilang dari catatan sejarah,” ujar Eko saat workshop Advancing Multi-hazard exposure information in the Java Trench region, Indonesia: for enhanced risk assessment and resilience di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin, 8 Mei 2026.

Hingga 2026, tim peneliti telah melakukan investigasi paleotsunami di 12 lokasi utama yang tersebar dari Jawa Barat hingga Bali. Ada empat lokasi representative yang disorot, yaitu Cibuaya di Banten, Pangandaran di Jawa Barat, Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Tabanan di Bali.

Di Pangandaran, peneliti menemukan lapisan pasir tsunami yang memisahkan endapan lumpur mangrove dengan sedimen yang lebih muda di atasnya. Analisis radiokarbon terhadap sisa tumbuhan yang berada di bawah lapisan pasir menunjukkan umur sekitar 400 tahun.

“Ini merupakan indikasi pertama bahwa tsunami besar kemungkinan pernah memengaruhi pesisir selatan Jawa sekitar empat abad yang lalu,” Eko menjelaskan.

Temuan lain di Pangandaran berasal dari lingkungan rawa pesisir yang menunjukkan ada lapisan sedimen berulang. Struktur tersebut diduga terbentuk akibat beberapa gelombang tsunami yang datang secara berturut-turut dalam satu kejadian besar.

Bukti yang mengarah pada periode waktu yang sama juga ditemukan di Situs Batu Kalde, Pangandaran. Selain lapisan budaya yang mengandung fragmen gerabah Hindu-Buddha dan cangkang moluska, peneliti menemukan sejumlah struktur batu yang roboh. Meski belum dapat dipastikan sebagai dampak tsunami, kondisi tersebut membuka kemungkinan adanya guncangan gempa atau genangan besar yang terjadi pada masa lalu.

Di Kulon Progo yang berlokasi tidak jauh dari Bandara Internasional Yogyakarta, tim menemukan lapisan pasir yang mengandung beragam mikrofosil laut seperti foraminifera, radiolaria, dan ostrakoda. Yang menarik, sebagian organisme tersebut berasal dari lingkungan laut dalam.

“Kehadiran mikrofosil laut dalam menjadi bukti kuat bahwa material tersebut terbawa peristiwa genangan laut besar. Bukan banjir pesisir biasa,” ujar Eko.

Temuan serupa juga diperoleh di Cibuaya, Banten. Di lokasi tersebut ditemukan lapisan pasir yang kaya akan mikrofosil laut, tepat di bawah lapisan batang-batang pohon yang terkubur di rawa. Penanggalan radiokarbon menunjukkan pohon-pohon tersebut mati sekitar 300 hingga 400 tahun lalu.

Hubungan stratigrafi tersebut mengindikasikan suatu peristiwa genangan laut besar kemungkinan terjadi terlebih dahulu. Kemudian diikuti perubahan lingkungan yang menyebabkan pohon-pohon tumbang dan tertimbun dalam sedimen rawa.

Sementara di Tabanan, peneliti menemukan susunan bongkah batu dan fragmen genteng yang orientasinya mengarah ke daratan. Struktur tersebut menunjukkan ada aliran air yang sangat kuat dari arah laut.

Berdasarkan hubungan dengan lapisan abu vulkanik yang diduga berasal dari letusan Gunung Tambora tahun 1815, usia kejadian tsunami di lokasi tersebut diperkirakan kembali berada pada kisaran 400 tahun lalu.

Setelah mengompilasi data radiokarbon dari berbagai lokasi, para peneliti menemukan pola yang menarik. Umur endapan tsunami ternyata tidak tersebar secara acak, melainkan mengelompok pada beberapa periode tertentu. Klaster termuda berada pada sekitar 400 tahun lalu, sementara klaster yang lebih tua muncul pada periode sekitar tahun 800–1000 Masehi, 100–300 Masehi, dan 400–700 Sebelum Masehi.

“Pola ini menjadi hipotesis kerja terbaik kami mengenai pengulangan tsunami besar di sepanjang margin selatan Jawa. Namun data tambahan masih diperlukan untuk memastikan apakah seluruh kejadian tersebut terkait dengan megathrust regional atau kombinasi tsunami lokal dan regional,” papar dia.

Memori kolektif masyarakat pesisir

Salah satu temuan yang paling menarik dari penelitian ini justru muncul di luar ranah geologi. Setelah menemukan indikasi tsunami besar sekitar 400 tahun lalu, para peneliti mulai mempertanyakan apakah jejak peristiwa tersebut masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat pesisir.

Kajian kemudian diarahkan pada berbagai narasi tradisional yang berkembang di pesisir selatan Jawa, termasuk tradisi mengenai Ratu Kidul dan naskah Serat Sri Nata.

Ketika deskripsi dalam naskah tersebut dibandingkan dengan kesaksian korban tsunami modern, ditemukan sejumlah kemiripan yang mencolok. Seperti perilaku laut yang tidak biasa, suara keras dari arah laut, angin kencang, suasana gelap, kepanikan massal, kerusakan yang luas, dan banyak korban jiwa.

“Ini tentu bukan bukti suatu peristiwa tsunami tertentu benar-benar tercatat dalam naskah tersebut. Namun temuan ini membuka kemungkinan narasi tradisional dapat menyimpan fragmen memori lingkungan yang bertahan sangat lama setelah peristiwa fisiknya sendiri hilang dari sejarah tertulis,” ia mengungkapkan.

Melalui pendekatan multidisiplin yang menggabungkan geologi, mikropaleontologi, arkeologi, dan sejarah budaya, penelitian ini menunjukkan rekonstruksi sejarah bencana masa lalu dapat dilakukan melalui berbagai sumber pengetahuan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: gempa MegathrustGunung CiremaiPenelitian PalaetsunamiPesisir SelatanPRKG BRINTsunami Purba

Editor

Next Post
Konpers Walhi se-Kalimantan mengkritisi deforestasi Pulau Kalimantan di Samarinda, 10 Juni 2026. Foto Dok. Walhi.

Walhi Kalimantan Serukan Pulihkan Alam Pulau Kalimantan

Discussion about this post

TERKINI

  • Bayi gajah lahir di Tesso Nilo, Riau, Juni 2026. Foto Dok. Kementerian Kehutanan.Dua Bayi Gajah Sumatera Lahir di Riau dan Lampung, Panjang Umurlah Kalian!
    In News
    Kamis, 11 Juni 2026
  • Konpers Walhi se-Kalimantan mengkritisi deforestasi Pulau Kalimantan di Samarinda, 10 Juni 2026. Foto Dok. Walhi.Walhi Kalimantan Serukan Pulihkan Alam Pulau Kalimantan
    In Lingkungan
    Kamis, 11 Juni 2026
  • Peta potensi tsunami dari dampak skenario gempa megathrust pantai selatan Jawa. Foto @widjokongko/twitterUngkap Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa Lewat Sedimen dan Legenda
    In IPTEK
    Rabu, 10 Juni 2026
  • Sidang pembuktian jalan 135 km di PTUN Jayapura, 9 Juni 2026. Lovenila/Greenpeace.Sidang Pembuktian Gugatan Jalan 135 Kilometer di Merauke, Hakim Minta Pembangunan Dihentikan
    In News
    Rabu, 10 Juni 2026
  • Workshop Advancing Multi-hazard Exposure Information in the Java Trench Region, Indonesia: For Enhanced Risk Assessment and Resilience di Jakarta, 8 Juni 2026. Foto Dok. BRIN.Ancaman Gempa Megathrust, Sesar Aktif di Jawa Belum Banyak Terpetakan
    In Rehat
    Selasa, 9 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media