Wanaloka.com – Ada temuan ratusan roti berjamur dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kering yang didistribusikan saat bulan puasa. Di Jawa Tengah ditemukan di Kabupaten Blora yang kemudian dikembalikan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG, juga di SMPN 1 Delanggu di Kabupaten Klaten.
Kemudian di Sumatra Selatan ditemukan di SDN 1 Tugu Papak di Kecamatan Semaka, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, SDN 1 Pulau Benawang di Kecamatan Kotaagung Barat, dan sejumlah SD di wilayah Kotaagung Timur.
Meski dinilai praktis dalam penyimpanan dan distribusi, program MBG yang diwujudkan dalam bentuk roti sebaiknya tetap tidak mengabaikan mutu dan kelayakan konsumsi.
Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati mengatakan peristiwa tersebut semestinya menjadi perhatian serius banyak pihak. Meski program ini bertujuan meningkatkan asupan gizi untuk anak sekolah, namun aspek keamanan pangan harus tetap menjadi prioritas utama.
Roti yang sudah berjamur memperlihatkan ada pertumbuhan mikroorganisme. Artinya, produk tersebut tidak layak untuk konsumsi.
Baca juga: Walhi: Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS Melanggengkan Krisis Iklim
“Kejadian seperti ini umumnya berkaitan dengan masalah penyimpanan, distribusi, atau masa simpan yang tidak terkontrol dengan baik. Evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, serta pengawasan mutu makanan dalam program MBG perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Zullies di Fakultas Farmasi UGM, Jumat, 5 Maret 2026.
Berjamur tak harus setelah kedaluwarsa
Ia menjelaskan roti yang berjamur biasanya ditumbuhi kapang (mold), seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus. Selain pertumbuhan jamurnya sendiri, beberapa jenis kapang dapat menghasilkan mikotoksin, yaitu senyawa toksik yang dihasilkan jamur.
Contohnya adalah aflatoksin, ochratoxin, atau toksin lainnya, yang tergantung jenis kapangnya. Meski tidak semua jamur menghasilkan toksin, secara prinsip makanan yang sudah berjamur tidak boleh dikonsumsi.
“Sebab secara awam, kita tidak bisa memastikan jenis jamur yang tumbuh dan apakah sudah menghasilkan toksin atau belum,” jelas dia.
Baca juga: Sofyan Sjaf, Membangun Desa Berdasarkan Al-Quran adalah Membangun Ekologi






Discussion about this post