Wanaloka.com – Perempuan Adat memiliki kewenangan untuk menentukan masa depan, bukan sekadar diakui sebagai penjaga tradisi dan kehidupan. Penguatan kepemimpinan Perempuan Adat jadi salah satu agenda utama Pertemuan Nasional (Temunas) IV Persekutuan Perempuan Adat Nusantara (PEREMPUAN AMAN) yang dibuka di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 15 Oktober 2026.
Mengusung tema “Memperkokoh Kepemimpinan Transformatif Perempuan Adat: Merawat Pengetahuan Menuju Kehidupan yang Berdaulat”, pertemuan yang berlangsung hingga 19 Oktober 2026 ini menjadi ruang konsolidasi gerakan sekaligus evaluasi organisasi.
Forum lima tahunan tersebut juga akan menentukan kepemimpinan Perempuan AMAN untuk periode 2026–2031.
Ketua Umum Perempuan AMAN, Devi Anggraini mengatakan, organisasi ini dibangun untuk melahirkan pemimpin, bukan pengikut. Selama lima tahun terakhir, PEREMPUAN AMAN memperkuat pengorganisasian, pendokumentasian pengetahuan, kaderisasi, dan advokasi hak-hak Perempuan Adat.
Saat ini, Perempuan AMAN telah memiliki 120 wilayah pengorganisasian. Namun, kata Devi, capaian organisasi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari sejauh mana kerja-kerja tersebut mengubah kehidupan dan memperbesar kewenangan Perempuan Adat dalam mengambil keputusan.
“Perempuan AMAN dibangun untuk memperbesar kekuatan Perempuan Adat agar dapat menentukan kehidupan dan masa depannya, tidak dipilihkan oleh orang lain,” kata Devi dalam siaran pers yang diterima Wanaloka.com, Jumat, 16 Oktober 2026.
Ia menegaskan, pengakuan terhadap keberadaan Masyarakat Adat perlu diikuti perlindungan hak kolektif dan perubahan relasi kuasa yang selama ini membatasi Perempuan Adat dalam menjalankan haknya. Kepemimpinan transformatif, menurut dia, harus memperkuat kekuatan kolektif sekaligus melahirkan pemimpin-pemimpin baru.
Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, menekankan posisi strategis Perempuan AMAN dalam menghubungkan perjuangan di tingkat komunitas dengan ruang kebangsaan. Konsolidasi Perempuan Adat, kata dia, perlu memperkuat kepemimpinan kolektif sekaligus memastikan pengetahuan dan pengalaman menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan yang berdaulat.
“Posisi Perempuan AMAN sesungguhnya berada pada posisi yang sangat strategis, bagaimana bergerak dari komunitas menuju ke ruang kebangsaan,” kata Rukka.






Discussion about this post