Wanaloka.com – Peristiwa banjir bandang dan longsor di Sumatra Utara meluas dan belum surut. Sebelumnya, bencana hidrometeorologi itu menerjang banyak wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, dan Mandailing Natal. Berdasarkan pembaruan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir bandang juga terjadi di Kabupaten Humbang Hasundutan, Deli Serdang, serta Pakpak Bharat.
Kabupaten Humbang Hasundutan
Banjir bandang melanda Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Peristiwa tersebut dipicu oleh curah hujan yang tinggi disertai angin kencang, sehingga aliran air meluap dan menghanyutkan material dalam volume besar.
Musibah ini melanda wilayah Kecamatan Pakkat, tepatnya di Desa Panggugunan, Selasa, 25 November 2025 sekitar pukul 18.00 WIB. Arus banjir bandang yang datang secara tiba-tiba membuat warga tidak sempat menyelamatkan diri maupun harta benda mereka, sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fasilitas pemukiman.
Lima orang ditemukan tewas akibat terseret banjir bandang, sementara empat lainnya belum ditemukan. Selain itu, 7 orang mengalami luka berat dan 2 lainnya luka ringan atas peristiwa ini. Sementara bencana tanah longsor menyebabkan dua orang mengalami luka berat.
Baca juga: Darurat Cuaca Ekstrem di Sumatra Barat, 13 Wilayah Terdampak dan 12 Warga Tewas
Seluruh korban luka-luka ini telah dievakuasi dan menjalani perawatan intensif di RSUD Doloksanggul. Operasi pencarian dan evakuasi kembali dilanjutkan, Kamis, 27 November 2025, dengan dukungan penuh tim gabungan.
Selain korban jiwa dan luka-luka, kerusakan material juga cukup signifikan. Enam rumah mengalami rusak berat, satu fasilitas ibadah rusak ringan, serta satu akses jalan tertutup material longsoran akibat banjir bandang.
Di lokasi longsor, sekitar sebelas titik akses jalan terputus, sementara saluran, jembatan, dan tembok penahan tanah mengalami kerusakan dan masih dalam proses pendataan lebih lanjut. Lahan pertanian warga turut terdampak, memberikan tekanan tambahan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil tani.
Bencana banjir bandang ini terjadi di Kecamatan Pakkat, tepatnya di Kelurahan Panggugunan. Sementara tanah longsor teridentifikasi berdampak ke sejumlah wilayah meliputi Desa Sampean di Kecamatan Doloksanggul, Desa Parbotihan, Sihikkit, Sampetua dan Janji Nagodang di Kecamatan Onan Ganjang, Desa Aek Sopang di Kecamatan Pakkat dan Desa Janji Hutanapa di Kecamatan Parlilitan.
“Cuaca ekstrem atas dampak dari fenomena siklon tropis Senyar menjadi faktor utama yang memicu pergerakan tanah dan aliran banjir bandang tersebut,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari dalam rilis tertulis, Kamis, 27 November 2025.
Baca juga: Aceh Dikepung Banjir, Simeulue Diguncang Gempa 6,5 M
Sejak kejadian, tim gabungan telah bergerak cepat melakukan evakuasi korban, pembersihan material longsoran, serta pembukaan akses jalan dengan bantuan alat berat seperti eskavator dan backhoe loader. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial juga mendirikan dapur umum dan menyiapkan tempat pengungsian sementara di rumah penduduk. Upaya pencarian korban hilang tetap dilanjutkan dengan mengutamakan keselamatan petugas mengingat kondisi medan yang berat.
Kabupaten Deli Serdang
Banjir di Kabupaten Deli Serdang juga merendam permukiman warga dan areal persawahan. Curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus diperparah pasangnya air laut, sehingga ketinggian air mencapai sekitar 20 hingga 60 sentimeter. Peristiwa banjir ini terjadi Rabu, 26 November 2025, sekitar pukul 15.15 WIB.
Kondisi terkini, genangan air masih bertahan di sejumlah titik dengan ketinggian mencapai 20 hingga 60 sentimeter. Hingga kini belum ada tanda-tanda air mulai surut, sehingga pemerintah daerah tetap siaga dan terus melakukan pemantauan lanjutan untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas.
Banjir tersebut melanda dua kecamatan, yakni Kecamatan Hamparan Perak di Desa Paluh Kurau, serta Kecamatan Labuhan Deli di Desa Karang Gading. Kedua wilayah ini menjadi titik konsentrasi genangan air yang merendam rumah warga, fasilitas umum, serta area pertanian. Kedalaman air yang terus meningkat membuat sebagian warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Baca juga: Siklon Tropis 95B Jadi Siklon Tropis Senyar, Siaga Cuaca Ekstrem di Aceh dan Sumatra Utara
Dari hasil pendataan sementara, tercatat 427 kepala keluarga atau sekitar 1.618 jiwa terdampak banjir ini. Rinciannya, Desa Paluh Kurau menyumbang 226 KK dengan 814 jiwa terdampak, sementara Desa Karang Gading mencatat 201 KK atau 804 jiwa terdampak.
Sekitar 814 jiwa memilih mengungsi ke masjid Jami’arida dan masjid Al-Falah yang berada di Desa Paluh Kurau. Proses pendataan masih berlangsung mengingat kondisi air yang belum sepenuhnya surut.
Kerugian materiel juga cukup signifikan. Sebanyak 427 unit rumah terendam banjir, diikuti kerusakan pada kurang lebih 1,19 hektare lahan persawahan. Beberapa fasilitas umum turut terdampak, meliputi satu unit fasilitas ibadah, empat unit fasilitas pendidikan, satu unit fasilitas kesehatan, serta satu kantor desa yang mengalami gangguan operasional akibat genangan air.
Sebagai langkah penanganan awal, BPBD Deli Serdang langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk mempercepat proses pendataan dan kaji cepat dampak banjir, termasuk kerusakan lahan pertanian. Pemerintah Kecamatan Hamparan Perak bersama Desa Paluh Kurau juga telah membuka dapur umum di beberapa titik untuk memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak dan para pengungsi. Upaya ini dilakukan guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Baca juga: Sanitasi Buruk di Indragiri Hulu, Ratusan Warga ISPA hingga Lima Anak Meninggal Terjangkit Flu Babi
Penanganan banjir melibatkan berbagai unsur, di antaranya TRC BPBD Kabupaten Deli Serdang, pemerintah kecamatan di wilayah terdampak, serta pemerintah desa setempat yang turut membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Kabupaten Pakpak Bharat
Di Kabupaten Pakpak Bharat juga dilanda banjir bandang di beberapa lokasi, Selasa, 25 November 2025. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan aliran air meluap hingga merendam permukiman dan infrastruktur di lima kecamatan. Kondisi tersebut membuat warga tidak sempat melakukan antisipasi, sehingga banjir berlangsung cepat dan menimbulkan dampak yang cukup signifikan.
Wilayah yang terdampak mencakup Kecamatan Salak, Kerajaan, Tinada, Sitellu Tali Urang Julu, dan Sitellu Tali Urang Jehe. Banjir yang melanda secara serentak di sejumlah kecamatan ini menimbulkan gangguan aktivitas masyarakat. Akses transportasi di beberapa titik menjadi terhambat akibat genangan air dan material yang terbawa arus banjir.
Peristiwa ini mengakibatkan satu orang tewas, sementara jumlah korban terdampak lainnya masih dalam proses pendataan. Kerugian material yang tercatat sementara meliputi dua unit rumah mengalami rusak berat dan satu akses jalan rusak serta tidak dapat dilalui secara normal. Kondisi ini menyulitkan proses mobilisasi warga dan petugas menuju lokasi terdampak.
Baca juga: Banjir Bandang dan Longsor Sumatra Utara, Akses ke Tapanuli Tengah dan Sibolga Terisolisir
Sebagai respons awal, BPBD Pakpak Bharat telah menurunkan tim untuk melakukan evakuasi warga dan pendataan kerusakan di seluruh wilayah terdampak. Namun, kondisi medan yang cukup sulit serta akses yang terbatas membuat proses penanganan berlangsung secara bertahap. Situasi ini juga mendorong perlunya dukungan tambahan untuk mempercepat pemulihan.
Sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi, antara lain tambahan personel, logistik, peralatan, alat komunikasi, dan pasokan listrik guna memperkuat penanganan di lapangan. Kebutuhan tersebut penting mengingat cakupan wilayah terdampak yang luas dan keterbatasan sumber daya di lokasi kejadian.
Kabupaten Tapanuli Tengah
Berdasarkan update Kamis, 27 November 2025, pukul 03.45 WIB, banjir masih menggenangi sejumlah titik dengan dampak luas. Peristiwa ini merupakan akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak 17 November 2025 hingga 24 November 2025, sehingga memicu kenaikan debit air, meluapnya aliran sungai, serta longsor di beberapa lokasi.
Banjir melanda 11 kecamatan, yang mencakup 15 kelurahan dan 8 desa. Dari sisi korban, tercatat empat orang tewas, sementara jumlah pengungsi dan korban luka masih dalam pendataan. Banjir ini berdampak pada 1.902 kepala keluarga, dengan distribusi terdampak terbesar berada di Kecamatan Kolang sebanyak 1.261 KK, disusul Kecamatan Sarudik 338 KK, Pandan 150 KK, Lumut 78 KK, Barus 65 KK, dan Tukka 10 KK.







Discussion about this post