Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Walhi Sulawesi Desak Penghentian Investasi Kendaraan Listrik yang Merusak Hutan

Ketika tambang nikel merusak hutan, mencemari laut, pabriknya digerakkan dengan batu bara, bisakah kendaraan listrik yang dihasilkan disebut produk ramah lingkungan?

Senin, 14 November 2022
A A
Ilustrasi pertambangan. Foto dok. Aliansi Sulawesi

Ilustrasi pertambangan. Foto dok. Aliansi Sulawesi

Share on FacebookShare on Twitter

“Yang paling buruk di Sulawesi Tengah saat ini, tambang dan pembangunan pabrik peleburan niken telah menciptakan konflik agraria,” ungkap Sunardi.

Baca Juga: Penting, Pertolongan Pertama Psikologi Penyintas Pasca Bencana

Di Kabupaten Morowali Utara, sawah dan kebun petani diambil paksa perusahaan tanpa konsultasi dan kompensasi. Masyarakat harus hidup tanpa tanah yang merupakan satu-satunya sumber penghidupannya. Perluasan pertambangan nikel di Pulau Sulawesi menjadi malapetaka bagi masyarakat, khususnya petani dan perempuan.

Terlepas dari dampak besar tambang dan smelter nikel terhadap hutan, sungai, pesisir, dan masyarakat di Pulau Sulawesi, Aliansi Sulawesi yakin bahwa nikel, baterai, dan kendaraan listrik bukanlah obat mujarab bagi krisis iklim global, karena:

Pertama, peningkatan produksi nikel di Indonesia, serta baterai dan kendaraan listrik di belahan bumi Utara, secara langsung berkontribusi terhadap rusaknya hutan hujan, khususnya di Pulau Sulawesi. Hutan hujan ini sangat penting bagi lingkungan, kehidupan masyarakat, dan iklim dunia. Hutan hujan di Pulau Sulawesi menyerap karbon yang dikeluarkan oleh pabrik-pabrik di Indonesia, serta industri dan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di belahan bumi utara.

Baca Juga: Fans Kpop Ajak Pemimpin Dunia Komitmen Lindungi Hutan, Bukan Memusnahkan

Smelter nikel PT Vale Indonesia.Foto dok. Aliansi Sulawesi
Smelter nikel PT Vale Indonesia.Foto dok. Aliansi Sulawesi

“Jadi sangat salah menyebut industri kendaraan listrik yang bahan bakunya dari perusakan hutan disebut produk ramah lingkungan dan solusi bagi perubahan iklim,” tegas Sunardi.

Kedua, 80 persen energi listrik yang menggerakkan smelter nikel di Sulawesi bersumber dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Tentu bertentangan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, bisnis ramah lingkungan, dan mitigasi perubahan iklim yang saat ini sedang disuarakan para pemimpin dunia. Penggunaan tenaga batu bara di smelter sebenarnya menggandakan emisi yang terkait dengan produksi nikel.

Ketiga, peningkatan permintaan batu bara membuat produksi nikel lebih tinggi di Sulawesi sehingga mempercepat perusakan hutan di pulau-pulau lain, terutama di Kalimantan yang menjadi pusat utama kegiatan penambangan batu bara di Indonesia.

Baca Juga: Tiga Gempa Guncang Garut Malam Ini

“Selama produksi kendaraan listrik melibatkan penghancuran hutan hujan di Sulawesi dan Kalimantan dan meningkatkan emisi karbon, produk itu tidak dapat dianggap sebagai solusi perubahan iklim,” tegas Amin.

Keempat, pertimbangan terakhir adalah penggunaan energi kotor sebagai daya untuk mengisi kendaraan listrik. Selama bahan bakar fosil digunakan sebagai sumber tenaga listrik paling dominan di dunia, kerusakan lingkungan dan iklim akan terus berlanjut. Sebab semakin banyak orang menggunakan mobil listrik, tambang nikel dan batu bara akan terus menggerogoti hutan hujan. Juga semakin banyak pembangkit listrik berbahan bakar batu bara akan dibangun.

Investasi dan pembiayaan industri nikel di Indonesia, khususnya di Pulau Sulawesi dari hulu hingga hilir, semakin memperkuat laju kerusakan hutan hujan. Kondisi itu berkontribusi pada laju perubahan iklim yang kian mengerikan. Kehidupan masyarakat adat dan lokal yang saat ini miskin akan semakin miskin, karena sumber mata pencaharian mereka juga rusak bahkan hilang.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Juragan Kebun Kopi Vorstenlanden Lewat Film

Untuk menyelamatkan hutan hujan yang tersisa di Indonesia dan kehidupan masyarakat, khususnya perempuan dan masa depan anak-anak di pulau Sulawesi, Aliansi Sulawesi mewakili seluruh masyarakat, petani dan keluarga nelayan yang terkena dampak kerusakan lingkungan akibat pertambangan dan industri nikel, menyerukan:

Pertama, pemimpin-pemimpin negara Group 20 khususnya Presiden Amerika, China, PM Kanada, Jepang, Inggris, Pemimpin Uni Eropa serta Kanselir Jerman untuk menghentikan dukungan investasi yang merusak hutan hujan di seluruh dunia, khususnya di Pulau Sulawesi, Indonesia.

“Kami menuntut penghentian dukungan investasi di sektor pertambangan, khususnya pertambangan nikel,” kata Sunardi.

Baca Juga: Copas, Kopi Herbal Tanpa Kafein dari Biji Pepaya

Kedua, kepada lembaga-lembaga keuangan internasional untuk menghentikan dukungan pembiayaan pada sektor pertambangan, khususnya pertambangan nikel di Indonesia. Lembaga-lembaga keuangan internasional harus mengalihkan pembiayaan mereka pada bisnis yang berkelanjutan, khususnya yang melindungi hutan hujan di seluruh dunia.

Ketiga, kepada pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Jokowi untuk segera menghentikan penerbitan izin-izin usaha pertambangan, khususnya izin usaha pertambangan nikel. Juga menuntut Jokowi mencabut izin-izin pertambangan yang telah merusak hutan hujan di Pulau Sulawesi dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Keempat, mengajak semua orang di seluruh dunia untuk mendukung Aliansi Sulawesi dan masyarakat Sulawesi untuk menghentikan perusakan hutan hujan di Indonesia, khususnya di Sulawesi.

“Melindungi hutan hujan adalah cara paling ampuh untuk melestarikan kehidupan di bumi kita,” seru Aliansi Sulawesi. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: hutan hujan Sulawesikendaraan listrikKTT G20mitigasi perubahan iklimpencemaran sungai dan lautperusahaan tambang nikelRamah lingkungantambang dan smelter nikeltenaga batu baratercemar limbah nikelWalhi Sulawesi

Editor

Next Post
Tiga orang meninggal dunia tertimbun longsor di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, pada Minggu, 13 November 2022. Foto Dok BNPB.

Tiga Orang Meninggal Dunia Tertimbun Longsor di Pesisir Barat Lampung

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media