Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ancaman Bencana Hidrometeorologi, Gempadewa: Hentikan Tambang

Gerakan masyarakat peduli alam Desa Wadas (Gempadewa) mendesak dihentikannya aktivitas pembukaan tambang kuari yang berdampak banjir di wilayah pemukiman warga.

Minggu, 26 Maret 2023
A A
Dampak pembukaan jalur tambang di Desa Wadas, pemukiman warga dilanda banjir. Foto Ist.

Dampak pembukaan jalur tambang di Desa Wadas, pemukiman warga dilanda banjir. Foto Ist.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Gerakan masyarakat peduli alam Desa Wadas (Gempadewa) mendesak dihentikannya aktivitas pembukaan tambang kuari di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Hal ini dilatari ancaman bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut. BMKG mengategorikan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, waspada dampak hujan lebat yang dapat berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.

Sejak Sabtu siang, 25 Maret 2023, hujan melanda wilayah Desa Wadas. Tidak seperti biasanya, selang satu jam hujan mengguyur wilayah tersebut, banjir menerjang pemukiman warga.

“Hari ini, Desa Wadas sedang mengalami banjir,” kata Siswanto, dalam siaran pers Gempadewa pada Minggu, 26 Maret 2023.

Baca Juga: Dampak Pembukaan Jalur Tambang di Desa Wadas, Pemukiman Warga Dilanda Banjir

Gempadewa menyebutkan, banjir dampak pembukaan hutan di perbukitan untuk akses jalan yang menghubungkan lokasi tambang batu andesit di Wadas dan lokasi Waduk Bener di Desa Bener yang berjarak sekira 12 kilometer.

Banjir dengan aliran deras datang dari arah berbukitan, membawa tanah dan bebatuan melewati ruas jalan desa dan pemukiman warga.

“Baru akses jalan saja sudah menyebabkan banjir. Apalagi kalau ada tambang, mau jadi apa Wadas,” kata Priyan Susyie, anggota Wadon Wadas (kelompok perempuan menolak tambang).

Baca Juga: Siapkan Mitigasi, Indonesia Diprediksi Alami Hawa Panas dan Curah Hujan Tinggi

Baik Priyan Susyie dan Siswanto berharap rencana tambang bisa dihentikan karena berpotensi membahayakan warga.

“Jika Wadas sampai ditambang maka akan terjadi banjir bandang yang lebih besar lagi,” kata Priyan Susyie.

Gempadewa dan Wadon Wadas sejak awal menentang keberadaan tambang kuari di desa mereka. Berbagai aksi dilakukan, dan upaya jalur hukum juga ditempuh mereka untuk menghentikan penambangan kuari Desa Wadas.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: banjir WadasBencana HidrometeorologiDesa WadasGempadewaKabupaten Purworejopenambangan batu andesit Desa WadasProvinsi Jawa TengahWadon Wadas

Editor

Next Post
Para pendaki Wissemu dari Universitas Parahiyangan di puncak Gunung Elbrus. Foto unpar.ac.id.

Harto Memilih Urung Mendaki Hingga Puncak Elbrus, Ini Alasannya

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media