Deteksi upwelling dilakukan melalui pendekatan ilmiah berbasis interaksi laut dan atmosfer. Salah satu indikator utamanya adalah kekuatan dan konsistensi angin monsun tenggara yang mendorong massa air permukaan menjauh dari pantai melalui mekanisme transport Ekman. Kondisi ini memicu naiknya air laut dalam ke permukaan.
Parameter lain seperti penurunan suhu permukaan laut, pendangkalan termoklin, serta peningkatan produktivitas fitoplankton menjadi penanda penting dalam mengidentifikasi wilayah potensial penangkapan ikan. Kombinasi data oseanografi tersebut memungkinkan pemetaan zona perikanan yang lebih akurat dan berbasis sains.
Ia juga menekankan dinamika upwelling tidak terlepas dari pengaruh sistem iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD). Kedua fenomena ini memengaruhi pola angin dan arus laut yang berkontribusi terhadap intensitas dan variabilitas upwelling.
Di sisi lain, pemanfaatan fenomena ini menghadirkan tantangan nyata bagi nelayan. Kondisi laut yang dinamis, ancaman siklon tropis, serta gelombang ekstrem menjadi risiko keselamatan yang tidak bisa diabaikan. Nelayan diimbau terus memantau informasi cuaca dan iklim dari BMKG.
“Di sisi lain, gelombang tinggi dan kondisi laut ekstrem dapat membahayakan aktivitas penangkapan ikan,” Widodo mengingatkan.
Tak hanya faktor keselamatan, aspek ekonomi juga menjadi perhatian. Operasi penangkapan ikan di laut lepas dengan kondisi gelombang tinggi membutuhkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang lebih besar, sehingga berdampak pada efisiensi usaha nelayan.
Melalui riset ini, BRIN mendorong pemanfaatan data oseanografi, meteorologi, dan klimatologi secara terintegrasi untuk mendukung sektor perikanan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Pendekatan berbasis sains ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas tangkapan, tetapi juga menjamin keselamatan nelayan dalam menghadapi dinamika laut yang semakin kompleks.
Di sisi lain, musim kemarau yang diprediksi lebih awal pada April 2026 sering dikaitkan dengan kekeringan di daratan. Namun bagi sektor kelautan, transisi musim ini justru menjadi momentum peningkatan kesuburan laut yang luar biasa melalui fenomena upwelling.
Widodo menjelaskan awal kemarau memicu pergerakan angin timuran yang kuat. Angin ini mendorong massa air permukaan laut ke arah lepas pantai, kemudian digantikan massa air dingin kaya nutrien dari lapisan yang lebih dalam.
“Massa air yang terangkat ini membawa ‘pupuk alami’ berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton. Inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita,” ujar dia.
Berdasarkan kajian riset yang dipublikasikan Widodo dalam Majalah Indo-Maritime 2014, fenomena upwelling di selatan Jawa memiliki karakteristik unik yang dikenal secara internasional dengan sebutan RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling). Hasil riset menunjukkan bahwa intensitas RATU sangat dipengaruhi dinamika musiman dan variabilitas iklim global.
Dalam penelitian tersebut, pemanfaatan teknologi Argo Float, robot penyelam otomatis yang beroperasi hingga kedalaman 2.000 meter menjadi kunci dalam merekam data profil temperatur dan salinitas secara real-time.
Hasil analisis data menunjukkan keberadaan lapisan thermocline yang terangkat ke atas selama proses upwelling menjadi indikator utama dalam memetakan daerah penangkapan ikan. Riset ini berhasil mengidentifikasi wilayah selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan habitat krusial bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis penting, termasuk Tuna Sirip Biru Selatan (Southern Bluefin Tuna), Cakalang, dan Tuna Mata Besar.
Riset juga mencatat sinergi antara angin timuran dan fenomena El Niño dapat memperkuat intensitas upwelling, yang secara langsung berdampak pada pelonjakan stok ikan pelagis.
Fenomena ini berimplikasi bagi sektor perikanan. Fitoplankton diduga mulai berkembang pada April-Mei 2026, dan mulai melonjak pada Juni 2026, puncaknya di Juli-Agustus 2026. Prediksi ini akan menarik keberlimpahan ikan pelagis kecil seperti lemuru di Selat Bali.
“Dinamika laut ini sangat dipengaruhi variabilitas iklim. Jika El Niño 2026 terjadi, potensi penguatan upwelling tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya,” imbuh dia.
Kajian riset tersebut juga menegaskan peningkatan risiko kekeringan yang panjang akibat El Nino, yang mengancam ketahanan pangan dari sumber darat, kemungkinan bisa digantikan sumber pangan dari laut. Pemantauan dinamika laut dan atmosfer secara kontinu merupakan langkah strategis BRIN dalam menjaga kedaulatan pangan nasional dari sektor maritim. [WLC02]






Discussion about this post