Wanaloka.com – Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia dalam hal kekayaan keanekaragaman hayati, termasuk kepemilikan bagi sedikitnya 13 spesies kuda laut (Hippocampus). Tak heran, Indonesia menjadi rumah bagi kuda laut yang tersebar di berbagai wilayah perairan nasional. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring perkembangan riset dan penemuan spesies baru.
Namun beberapa spesies kuda laut di Indonesia kini berada dalam kategori terancam berdasarkan tingkat keterancaman global maupun nasional. Hasil riset tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Project Seahorse – Institute for the Oceans and Fisheries, University of British Columbia, Kanada menunjukkan kuda laut kini tidak lagi sekadar tangkapan sampingan (bycatch), tetapi juga telah menjadi komoditas perdagangan bernilai ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Kuda laut kering dimanfaatkan untuk obat tradisional dan suvenir. Tingginya nilai ekonomi membuat pemanfaatan kuda laut terus terjadi dengan harga mencapai Rp1 juta hingga Rp8 juta per kilogram. Dalam setiap kilogramnya, terdapat ratusan hingga ribuan ekor kuda laut, tergantung ukuran spesiesnya.
“Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut,” kata salah satu dari tim riset, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri dalam lokakarya “Eksplorasi Opsi Pengelolaan Penangkapan dan Perdagangan Kuda Laut di Indonesia” di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.
Ancaman lain datang dari kerusakan habitat pesisir, seperti lamun dan makroalga yang menjadi tempat hidup kuda laut. Kuda laut sangat bergantung pada habitat karena bukan “perenang” yang kuat. Hewan ini biasa mengaitkan ekornya pada lamun, alga, atau terumbu karang untuk bertahan di perairan.
“Ketika habitatnya terganggu, mereka akan kesulitan bertahan hidup,” terang dia.
Dari 13 spesies kuda laut yang diketahui hidup di perairan Indonesia, tim riset menemukan delapan spesies diperdagangkan. Meliputi Hippocampus histrix, H. barbouri, H. comes, H. mohnikei, H. kelloggi, H. kuda, H. spinosissimus, dan H. trimaculatus. Spesies H. trimaculatus menjadi yang paling banyak ditemukan di wilayah Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
“Khususnya yang ada di Indonesia, kuda laut ada yang berstatus critically endangered, endangered, dan vulnerable,” ungkap dia.
Sedangkan spesies H. mohnikei menjadi perhatian karena secara global hanya tercatat di kawasan Selat Malaka. Namun, tim menemukan spesimen dan laporan kemunculannya dari nelayan di Madura.
“Ini merupakan kejadian baru bagi Indonesia,” imbuh periset lainnya, Muthya Farah dari Project Seahorse.
Riset ini melibatkan 343 responden dari berbagai kalangan. Mulai dari nelayan, pedagang, pengepul, pembudidaya, penyelam wisata, hingga masyarakat umum di berbagai wilayah Indonesia.
Survei dilakukan pada Mei – September 2025, kemudian dilanjutkan di Aceh serta Sumatra Barat pada Februari–Maret 2026. Penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam dengan masyarakat pesisir dan pelaku perikanan untuk memetakan pola penangkapan dan perdagangan kuda laut di Indonesia.
“Kami menanyakan pengalaman nelayan, apakah pernah menangkap kuda laut sebagai bycatch atau memang sengaja menargetkannya. Kami juga memberikan edukasi dasar mengenai status konservasi, cara hidup, dan reproduksi kuda laut,” ujar dia.
Biasanya kuda laut tertangkap secara tidak sengaja saat menebar jalan untuk menangkap ikan. Di beberapa daerah, seperti Tegal, kuda laut dikenal sebagai “tabungan rekreasi” bagi nelayan. Ada juga yang melaut untuk menargetkan kuda laut, sehingga ikan yang ikut tertangkap menjadi tangkapan sampingan.
“Namun di beberapa daerah, bycatch tersebut dijual karena memiliki nilai ekonomi,” imbuh dia.
Tim riset juga memetakan wilayah penangkapan berdasarkan kategori bycatch dan target catch. Daerah seperti Batam, Bintan, dan Kepulauan Riau tercatat sebagai wilayah target tangkapan utama karena memiliki kuota penangkapan.
Pengelolaan kuda laut berkelanjutan
Kuda laut menarik menjadi objek penelitian karena karakter biologisnya unik. Mereka punya kemampuan adaptasi kamuflase yang tinggi. Bahkan kuda laut jantanlah yang mengandung dan melahirkan anak. Telur dari betina dipindahkan ke kantong tubuh jantan untuk dierami selama sekitar satu hingga dua bulan hingga siap lahir.
“Di dalam kantong itu, embrio diberi oksigen dan diatur kadar garamnya sampai siap dilahirkan,” jelas Masayu.
Tak sekadar satwa laut yang unik, Kepala Pusat Riset Sistem Biota (PRSB) BRIN, Decky Indrawan Junaedi mengungkapkan, kuda laut memiliki peran ekologis yang sangat vital. Satwa ini bertindak sebagai species indicator atau penanda alami dari kondisi kesehatan lingkungan perairan.
“Karena sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air dan terhadap pencemaran. Ada atau tidaknya kuda laut ini menjadi indikator penurunan kualitas lingkungan habitatnya,” ujar Decky.
Keberadaan kuda laut di wilayah lamun, bakau, maupun terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan yang masih baik dan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.
Dari sisi rantai makanan, kuda laut mengonsumsi krustasea kecil dan plankton. Keberadaannya berfungsi menjaga keseimbangan agar tidak terjadi ledakan populasi plankton yang bisa merusak perairan.
Menurunnya populasi kuda laut dapat menjadi penanda ada degradasi lingkungan pesisir yang berpotensi memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat.
“Dengan kita mengonservasi kuda laut, artinya menjaga, melindungi, jangan sampai punah, secara tidak langsung kita menjaga lingkungannya, termasuk menjaga ikan-ikan yang di sana tetap bisa beranak-pinak,” jelas Decky.
Melindungi populasi kuda laut, secara tidak langsung bangsa ini ikut menjaga keutuhan ekosistem laut yang lebih luas. Tantangan besarnya adalah bagaimana menghindari praktik penangkapan langsung dari alam yang tidak terkendali. BRIN mendorong agar arah pengelolaan kuda laut bergeser ke ranah pemanfaatan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Jangan hanya pemanenan langsung di alam. Pemanfaatan dan pengelolaan harus diarahkan ke yang lebih berkelanjutan,” tegas Decky.
Opsi-opsi lain perlu didorong, misalnya ke aspek wisata bahari, fotografi, dan sebagainya. Ketika bicara konservasi, BRIN bukan hanya melihat sekadar perlindungan, tetapi harus bisa memanfaatkannya secara berkelanjutan.
Untuk mewujudkan pengelolaan tersebut, BRIN aktif membangun jejaring global. Salah satu sinergi yang sedang berjalan adalah kemitraan dengan Project Seahorse dari University of British Columbia, Kanada. Kolaborasi ini diharapkan dapat melahirkan penelitian jangka panjang yang komprehensif mengenai ekologi kuda laut di Indonesia.
BRIN juga sedang melaksanakan kerja sama penelitian internasional lainnya. Seperti pemodelan aktivitas nelayan terkait daerah tangkapan (fishing ground) di sekitar Selat Malaka menggunakan alat perekam khusus dari Ocean Solution Technology (OST) Jepang.
BRIN juga bersiap untuk dapat membantu KKP dalam usaha penyediaan dan pendataan stok ikan bagi kebijakan perikanan tangkap. Ia berharap kekayaan hayati tidak hanya sekadar dijaga secara pasif, tetapi mampu memberikan nilai manfaat nyata bagi kemakmuran bangsa Indonesia melalui pengelolaan yang berbasis sains dan berkelanjutan.
“Saya pribadi percaya, solusi nasional itu harusnya datang dari kelautan. Karena dua per tiga wilayah kita adalah laut, sehingga solusi sebagian besar seharusnya berasal atau datang dari laut,” kata dia.
Pelibatan masyarakat pesisir dalam mendukung keberlanjutan kuda laut sangat penting. Jika si kuda laut ini masih ada, berarti kondisi lingkungan tempat tinggalnya masih membuat dia betah tinggal di sana, karena kondisinya masih baik.
Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat KNTI, Sugeng Nugroho mengatakan, laut bagi nelayan bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang budaya yang harus dijaga keberlanjutannya. Konservasi kuda laut perlu dilakukan secara luas dengan melibatkan masyarakat pesisir dan nelayan tradisional sebagai penjaga ekosistem laut.
Ia menyoroti berbagai ancaman terhadap ekosistem laut, mulai dari eksploitasi sumber daya yang berlebihan hingga penggunaan alat tangkap destruktif yang merusak habitat pesisir seperti terumbu karang dan padang lamun.
“Kegiatan konservasi ini harus dilakukan dalam pengertian luas. Artinya, harus melibatkan para nelayan, karena nelayan tradisional bukan hanya seorang nelayan, tapi juga penjaga laut,” tegas Sugeng.
Perwakilan Project Seahorse, Jana McPerson mengatakan, kerja sama internasional tersebut bertujuan mendorong konservasi laut melalui pendekatan berbasis spesies kuda laut. Juga meningkatkan kesadaran terhadap ancaman terhadap ekosistem laut dan masyarakat pesisir.






Discussion about this post