Sabtu, 10 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Anna Fatchiya, Program Adaptasi Dampak Perubahan Ikim Gagal Tanpa Libatkan Perempuan Petani

Penelitiannya menunjukkan penyuluhan pertanian sebagai ujung tombak pembangunan di pedesaan belum sepenuhnya responsif gender, seperti hanya mengundang petani laki-laki sehingga pengambilan keputusan didominasi laki-laki.

Jumat, 2 Mei 2025
A A
Guru Besar Penyuluhan Gender IPB University, Prof. Anna Fatchiya. Foto Dok. IPB University.

Guru Besar Penyuluhan Gender IPB University, Prof. Anna Fatchiya. Foto Dok. IPB University.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Selama ini, peran sentral perempuan dalam sektor pertanian sangat penting, namun tidak tampak. Kontribusi signifikan perempuan tani sering kali tertutupi dominasi laki-laki dalam forum-forum pengambilan keputusan.

Perencanaan dan pelaksanaan sampai evaluasi program pembangunan lebih melibatkan laki-laki, sehingga kebutuhan dan masalah yang dihadapi perempuan kurang terakomodasi. Akibatnya, tak jarang program-program pemerintah di bidang pertanian menunjukkan bias gender.

“Istilah seperti ‘buta gender’ atau ‘tidak responsif gender’ muncul untuk menggambarkan kondisi ini, yang dipengaruhi oleh budaya patriarki yang masih kuat,” ujar Guru Besar Penyuluhan Gender IPB University, Prof. Anna Fatchiya.

Baca juga: Menolak Tambang, Masyarakat Adat Halmahera Timur Alami Represi Polisi

Secara garis besar, peran perempuan dalam rumah tangga petani terbagi menjadi tiga. Peran peran reproduksi (perawatan dan pekerjaan domestik), peran produksi (terlibat dalam seluruh siklus usaha tani, pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan), serta peran sosial (aktif dalam kelompok tani, koperasi desa, posyandu, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya).

Isu perempuan petani yang menjadi kepala rumah tangga juga sering terabaikan. Kelompok tani cenderung didominasi kepala rumah tangga laki-laki, meskipun banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Penelitian yang dilakukannya menunjukkan penyuluhan pertanian sebagai ujung tombak pembangunan di pedesaan belum sepenuhnya responsif gender. Misalnya, hanya mengundang petani laki-laki dan pengambilan keputusan didominasi laki-laki.

Baca juga: Neng Eem, Nasib Masyarakat Adat Terlunta-lunta di Tanah Sendiri

“Padahal, perempuan seharusnya memiliki akses informasi dan sumber daya lain, berpartisipasi, dan turut mengontrol yang sama dalam program-program pembangunan, serta mendapatkan manfaat yang adil,” ucap dia.

Perempuan dan perubahan iklim

Dalam konteks perubahan iklim, peran perempuan menjadi semakin vital. Anna menegaskan, program-program untuk meningkatkan adaptasi dan resiliensi petani atas dampak perubahan iklim akan gagal jika tidak melibatkan perempuan.

Sebagai contoh, keputusan terkait perubahan pengelolaan usaha tani seperti penentuan pembelian bibit yang tahan dari dampak perubahan iklim, penggunaan modal usaha, dan lain-lain umumnya berada di tangan istri. Dengan demikian keterlibatan mereka dalam penyuluhan menjadi sangat penting.

Baca juga: Bulan Purnama, Waspada Potensi Banjir Rob di Pesisir Surabaya Hingga 5 Mei 2025

“Perempuan menjadi pihak yang paling terdampak kegagalan panen dan kesulitan ekonomi keluarga. Bukan sekali dua kali mereka menjadi yang terakhir dalam menikmati sumber daya keluarga,” tegas dia.

Di sisi lain, Anna menambahkan, kondisi ketidaksetaraan gender dan pandangan negatif terhadap kemampuan kepemimpinan juga kerap menghambat partisipasi dan suara perempuan.

“Pemberdayaan perempuan dan pengakuan atas kontribusi mereka yang tidak terlihat menjadi sangat penting dalam pembangunan pertanian yang inklusif dan berkelanjutan,” ucap Dosen Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University.

Baca juga: Ada 15 Titik Semburan Lumpur Panas Muncul di Mandailing Natal

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bias genderFakultas Ekologi Manusia IPB Universityperempuan petaniperubahan iklimProf. Anna Fatchiya

Editor

Next Post
Kantung semar, salah satu tanaman khas Indonesia. Foto ambquinn/pixabay.com.

Ada Keberlanjutan Ekonomi Masyarakat dari Dampak Konservasi Kekayaan Hayati

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media