Sabtu, 10 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Anna Fatchiya, Program Adaptasi Dampak Perubahan Ikim Gagal Tanpa Libatkan Perempuan Petani

Penelitiannya menunjukkan penyuluhan pertanian sebagai ujung tombak pembangunan di pedesaan belum sepenuhnya responsif gender, seperti hanya mengundang petani laki-laki sehingga pengambilan keputusan didominasi laki-laki.

Jumat, 2 Mei 2025
A A
Guru Besar Penyuluhan Gender IPB University, Prof. Anna Fatchiya. Foto Dok. IPB University.

Guru Besar Penyuluhan Gender IPB University, Prof. Anna Fatchiya. Foto Dok. IPB University.

Share on FacebookShare on Twitter

Regulasi belum optimal

Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pengarusutamaan Gender sebenarnya telah mengamanatkan bahwa seluruh kebijakan dan program pemerintah harus memperhatikan potensi, masalah, kebutuhan, dan aspirasi baik laki-laki maupun perempuan dalam setiap tahapannya.

Tujuan akhirnya adalah mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Namun implementasinya di berbagai sektor belum optimal.

Ia juga membandingkan program penyuluhan pertanian yang didanai lembaga internasional, pemerintah pusat, dan program rutin. Hasilnya, program yang didanai dari luar negeri cenderung lebih memperhatikan keterlibatan perempuan melalui unsur afirmasi.

Baca juga: Gamahumat akan Diuji Coba untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah di Lahan Bekas Tambang

Sementara program nasional belum secara eksplisit mencantumkan hal tersebut. Lebih lagi, banyak program rutin tidak mempertimbangkan kondisi perempuan, misalnya dalam penjadwalan kegiatan penyuluhan.

Inovasi responsif gender

Anna menyoroti aspek inovasi dan teknologi bagi perempuan tani. Ia menuturkan, teknologi pertanian yang dihasilkan perlu mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan perempuan.

Contohnya, alat penyemprot hama penyakit tanaman sawit terlalu berat sehingga tidak sesuai untuk pekerja perempuan yang dominan bekerja di perkebunan.

Baca juga: Akademisi dan LBH se-Jawa Ajukan Permohonan Informasi Publik Soal Pengelolaan PLTU ke KLH

“Inovasi yang responsif gender, baik dari segi ergonomi maupun kemudahan penggunaan bagi laki-laki dan perempuan, menjadi sangat penting,” ucap dia.

Untuk meningkatkan responsivitas gender dalam kebijakan dan program pembangunan, terutama di sektor pertanian, Anna menyarankan beberapa langkah kunci.

Pertama, komitmen kuat dari para pemimpin di semua tingkatan pemerintahan dan perguruan tinggi untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam program pembangunan. Kedua, pengumpulan dan analisis data terpilah gender yang akurat untuk mengidentifikasi perbedaan kebutuhan antara laki-laki dan perempuan.

Baca juga: Bencana Karhutla 244 Hari, Apel Kesiapsiagaan Karhutla 2025 Digelar

Ketiga, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (aparatur pemerintah dan pihak terkait) dalam pemahaman konsep kesetaraan dan keadilan gender, termasuk keseimbangan representasi gender dalam tim penyuluh.

Keempat, penyediaan sarana dan prasarana yang responsif gender, yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh semua. Kelima, implementasi Anggaran Responsif Gender (ARG) yang memastikan alokasi dana mempertimbangkan kebutuhan dan prioritas laki-laki maupun perempuan. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bias genderFakultas Ekologi Manusia IPB Universityperempuan petaniperubahan iklimProf. Anna Fatchiya

Editor

Next Post
Kantung semar, salah satu tanaman khas Indonesia. Foto ambquinn/pixabay.com.

Ada Keberlanjutan Ekonomi Masyarakat dari Dampak Konservasi Kekayaan Hayati

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media