Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Banjir Perkotaan, Dosen ITB Sarankan Lembaga Khusus Tangani Banjir

Jumat, 12 Januari 2024
A A
Penampakan banjir di Braga, Kota Bandung, Jawa Barat pada 11 Januari 2024. Foto bnpb.go.id.

Penampakan banjir di Braga, Kota Bandung, Jawa Barat pada 11 Januari 2024. Foto bnpb.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Bencana banjir melanda Kota Bandung, Jawa Barat pada 11 Januari 2024. Bencana itu dipicu hujan berintensitas tinggi yang mengakibatkan Sungai CIkapundung meluap hingga ke permukiman warga.

Merujuk laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Jumat, 12 Januari 2024 pukul 00.46 WIB, sebanyak 600 jiwa dan 600 rumah di wilayah Kelurahan Braga Kecamatan Sumur Bandung terdampak banjir. Sedangkan 150 jiwa memilih mengungsi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini waspada potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang yang diprediksi terjadi di Kota Bandung dan sebagian wilayah Jawa Barat pada hari ini.

Baca Juga: BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Mengancam hingga Februari 2024

BNPB pun mengimbau kepada pemerintah daerah maupun masyarakat, khsususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana banjir seperti di sekitar daerah aliran sungai, agar melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Antara lain dengan membersihkan secara rutin saluran air, drainase dan sungai dari sampah agar tidak terjadi penyumbatan atau pendangkalan yang mengakibatkan debit air mudah meluap saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi

Lembaga Khusus Banjir
Pengelolaan volume air yang meningkat saat hujan deras dapat dilakukan dengan infiltrasi (penguatan daya serap) maupun run off (penguatan daya tampung). Jika infiltrasi diutamakan menjadi solusi, maka lahan terbuka hijau harus dibuat banyak sehingga daya serap air semakin besar.

Persoalannya, wilayah di Kota Bandung, khususnya bagian utara, yang mestinya menjadi daerah serapan sudah dipenuhi dengan permukiman. Solusi berupa infiltrasi atau menambah daya serap pun dipandang menjadi tidak realistis.

Baca Juga: Riset BRIN, Amblesan Tanah Jadi Bahaya Tersembunyi karena Sulit Terdeteksi

Alternatif solusi lain adalah penguatan daya tampung, baik dengan melakukan normalisasi area sungai, naturalisasi, maupun kolam retensi. Namun upaya itu memiliki tantangan karena kondisi kota yang sudah padat.

Kapasitas Sungai Cikapundung relatif kecil sehingga tidak dapat menampung volume air yang besar. Pemerintah sudah melakukan mitigasi melalui pembuatan tanggul sehingga sedikit menambah kapasitas sungai dan air tidak luber ke samping kiri dan kanan sungai. Namun, ketika volume airnya besar berpotensi menjebol tanggul.

“Realitasnya, apakah daya tampung dapat disiapkan secara maksimal karena di lapangan sudah padat sehingga sulit untuk pelebaran sungai. Kolam retensi pun sulit dilakukan. Akhirnya yang memungkinkan ditanggul setinggi mungkin. Persoalannya, ketika tanggul tersebut jebol bencananya juga luar biasa,” ujar Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (FITB ITB), Heri Andreas, Jumat, 12 Januari 2024.

Baca Juga: Ismawan, Waspada Gempa Meski Tinggal di Zona Sesar Belum Dipetakan

Dosen dari Kelompok Keahlian Sains Rekayasa dan Inovasi Geodesi itu menjelaskan, curah hujan memiliki karakteristik rendah, tinggi, dan bisa sangat tinggi serta memiliki masanya. Hingga akhirnya muncul siklus banjir 5 tahunan hingga dalam waktu yang lebih cepat maupun lama.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bencana banjirBNPBinfiltrasiITBKelompok Keahlian Sains Rekayasa dan Inovasi GeodesiKota Bandungprogram biopori

Editor

Next Post
Peralatan tim BMKG yang meneliti gempa Sumedang. Foto Dok. BMKG.

Kisah Para Peneliti Gempa Sumedang

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media