Tak hanya itu, melalui pemanfaatan kearifan lokal masyarakat adat, AI juga dapat membantu dalam menghadapi krisis iklim. Biandro menyebut, menggabungkan AI dengan data satelit dapat memantau deforestasi secara real time, memprediksi cuaca setempat, serta mendeteksi perubahan ekosistem.
“Integrasi ini bisa menciptakan model pengelolaan alam yang adaptif. Jangan sampai mengikis kearifan lokal. Hilangnya kearifan berarti hilangnya identitas,” imbuh dia.
Ia mencontohkan sistem irigasi subak di Bali dan agroforestri di Maluku sebagai bukti kearifan lokal yang menjaga ketahanan pangan serta kelestarian alam.
Baca juga: Pelepasliaran Kucing Akibatkan Overpopulasi, Zoonosis hingga Mengganggu Ekosistem
“Nilai-nilai kelokalan ini menjadi alternatif berkelanjutan dibanding pertanian monokultur industri. Bahkan beberapa komunitas sudah memanfaatkan teknologi sambil tetap memegang tradisi,” imbuh dia.
Masa depan masyarakat adat sangat bergantung pada keputusan yang diambil hari ini. Untuk itu, menurut Biandro, ada empat hal mendesak yang harus segera otoritas lakukan. Meliputi mengesahkan RUU Masyarakat Adat, mendorong digitalisasi pengetahuan adat dengan komunitas yang menjadi pengelola, melindungi wilayah adat sebagai benteng keanekaragaman hayati, serta mengembangkan skema ekonomi berkelanjutan berbasis budaya.
Masyarakat adat saat ini menghadapi konflik lahan, eksploitasi alam, modernisasi yang menjauhkan generasi muda dari akar budaya, dan minimnya partisipasi dalam pengambilan keputusan.
“Jika dibiarkan, kita berisiko kehilangan identitas sebagai bangsa multikultural,” kata dia mengingatkan. [WLC02]
Sumber: Unair







Discussion about this post