Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Biandro Wisnuyana, Kecerdasan Buatan Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Masyarakat Adat

Setiap penggunaan data budaya harus transparan, dengan persetujuan penuh komunitas masyarakat adat. Mereka berhak menolak atau menerima, dan tetap memegang kendali atas data mereka.

Sabtu, 9 Agustus 2025
A A
Antropolog Unair, Biandro Wisnuyana. Foto Dok. Kominfo Jatim.

Antropolog Unair, Biandro Wisnuyana. Foto Dok. Kominfo Jatim.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema “Indigenous Peoples and AI: Defending Rights, Sharing Futures” dalam peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia pada 9 Agustus 2025. Mengajak publik untuk melihat bagaimana teknologi, khususnya akal imitasi (AI), berperan dalam melindungi hak dan masa depan masyarakat adat.

Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Biandro Wisnuyana mengatakan, kondisi masyarakat adat di Indonesia masih cukup rentan. Isu soal masyarakat adat bersifat paradoks. Sebab di satu sisi, pengakuan formal terhadap hak-hak mereka mulai menguat. Di sisi lain, realitas di lapangan jauh dari harapan.

Meskipun Putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012 menetapkan hutan adat bukan lagi bagian dari hutan negara. Tetapi, aktivitas perkebunan dan pertambangan yang masif kerap menggerus kedaulatan wilayah adat.

Baca juga: Kementerian Kehutanan Targetkan Penetapan 100 Ribu Ha Hutan Adat 2025

Pisau bermata dua

Melihat kondisi tersebut, Biandro mengibaratkan perkembangan teknologi, terutama AI bak pisau bermata dua. Artinya, ada peluang besar yang dapat otoritas manfaatkan lewat AI. Mulai dari pendokumentasian bahasa dan arsip budaya, pembuatan peta digital wilayah adat, hingga analisis terhadap ancaman lingkungan.

Namun, terdapat risiko yang juga tidak kalah besar. Salah satunya adalah data colonialism, yaitu pengambilan data budaya tanpa persetujuan atau penyalahgunaan teknologi untuk ekspansi industri ke wilayah adat. Oleh karena itu, prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) sangat penting untuk diterapkan.

“Setiap penggunaan data budaya harus transparan, dengan persetujuan penuh komunitas. Mereka berhak menolak atau menerima, dan tetap memegang kendali atas data mereka,” jelas dia.

Baca juga: Empat Hotel Bintang Tiga di Puncak Disegel karena Buang Limbah ke Ciliwung

AI bagi masyarakat adat

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Biandro WisnuyanaFisip UnairHari Masyarakat Adat Seduniakecerdasan buatan

Editor

Next Post
Pegunungan Arfak di Papua Barat. Foto BBKSDA Papua Barat.

Peternakan Sapi Perah di Pegunungan Arfak akan Dihidupkan Lagi

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media