Wanaloka.com – Plastik adalah salah satu material yang banyak digunakan mulai dari skala industri hingga penggunaan rumah tangga. Namun, plastik berbasis minyak bumi menunjukkan ketahanan yang ekstrem terhadap degradasi alami, sehingga mengakibatkan penumpukan limbah yang substansial.
Kondisi ini mendorong peningkatan kekhawatiran global mengenai konsekuensi lingkungan dari polusi plastik. Upaya penelitian saat ini difokuskan pada identifikasi material alternatif, seperti bioplastik yang menawarkan keberlanjutan yang lebih baik.
Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Rina Wahyuningsih meneliti bioplastik berbasis pati singkong yang telah mendapatkan perhatian cukup besar di Indonesia. Mengingat kelimpahan singkong di alam, efektivitas biaya, dan sifat ramah lingkungan.
Bioplastik adalah material berkelanjutan yang sering dibuat dari polimer alami, seperti pati, selulosa, kitosan, serta protein dan lemak. Semuanya bersumber dari bahan terbarukan.
Baca juga: Coronavirus Anjing Sulit Menular pada Manusia
“Bioplastik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme, sehingga tidak meninggalkan racun berbahaya di lingkungan karena bahan-bahan alaminya,” kata Rina, Jumat, 20 Februari 2026.
Bioplastik dapat terurai di tanah hingga 60-90 persen dalam waktu enam hari. Tidak seperti plastik konvensional yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai. Namun, bioplastik menunjukkan sifat mekanik dan ketahanan air yang buruk karena sifat hidrofilik pati yang mengganggu stabilitasnya.
“Penambahan plasticizer, seperti gelatin diperlukan untuk meningkatkan stabilitas dan sifat mekaniknya,” terang dia.
Gelatin berasal dari kolagen terhidrolisis yang ditemukan dalam jaringan ikat hewan, sehingga gelatin memiliki sifat hidrokoloid. Sifat-sifat ini memungkinkan gelatin untuk membentuk lembaran tipis dan elastis, menjadikannya bahan yang ideal untuk memproduksi bioplastik.






Discussion about this post