Selasa, 15 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bisik Serayu Festival 2024, Seniman Prihatin atas Ekosistem Budaya Sungai yang Hilang

Banyak seni budaya yang lahir dari ekosistem sungai. Salah satunya, kunclungan, sebuah permainan air yang menghasilkan bunyi atau suara menyerupai ketukan gendang.

Minggu, 8 September 2024
A A
Bisik Serayu Festival 2024 di Banyumas, Jawa Tengah pada 6-8 September 2024. Foto Istimewa.

Bisik Serayu Festival 2024 di Banyumas, Jawa Tengah pada 6-8 September 2024. Foto Istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Malam Minggu, 7 September 2024, pinggiran Sungai Serayu, Banyumas menjadi sangat Istimewa. Sebab menjadi ajang gelaran perayaan ulang tahun sang maestro lengger lanang sekaligus koreografer kelahiran Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rianto.

Perayaan hari lahir itu dikemas dalam perhelatan Bisik Serayu Festival 2024 sejak 6-8 September 2024 yang diinisiasi Rianto. Gagasan festival budaya yang menampilkan beragam seniman dalam dan luar negeri itu dilatari keprihatinan Rianto atas ekosistem budaya sungai yang sudah mulai hilang. Terlebih filosofi lengger Banyumas sangat lekat dengan air dan sungai.

“Spiritualitas dan inspirasi lengger bermula dari medium air, sungai dan habitat di dalamnya,” ungkap penari lulusan ISI Surakarta ini dalam siaran tertulis tertanggal 8 September 2024.

Baca Juga: Ada Delapan Gempa Susulan Pasca Gempa Gianyar Magnitudo 4.9

Lewat Bisik Serayu Festival 2024, Rianto ingin membangun kembali ekosistem budaya yang harmonis dan mendamaikan dengan berbagai kegiatan kesenian yang didasarkan dari pengetahuan yang bersumber dan terhubung dengan alam. Dengan demikian, kesenian memiliki jiwa.

Rianto menegaskan, betapa banyak seni budaya yang lahir dari ekosistem sungai. Salah satunya, kunclungan, sebuah permainan air yang menghasilkan bunyi atau suara menyerupai ketukan gendang. Salah satu syair lengger berisi tentang ratapan tentang kehidupan sungai. Begitupun keweran pada gerak lengger adalah ekspresi ikan yang berenang.

“Pada festival ini, kunclungan ditampilkan dalam bentuk koreografi di atas panggung dengan konsep mandala,” ujar lelaki yang mendirikan Teras Serayu dan Riyanto Dance Studio.

Baca Juga: Kenaikan Muka Air Laut dan Penurunan Tanah Tak Masuk Kategori Bencana

Mimpi Rianto untuk kembali menghidupkan kesadaran publik di daerah-daerah yang dilewati Sungai Serayu demi menjaga ekologi yang ada di aliran sungai yang bermuara di Samudra Hindia ini membutuhkan kerja sama semua pihak. Tak terkecuali anak-anak. Sebab, ia mengakui perkembangan zaman telah menjauhkan anak-anak dari alam sehingga lebih memilih bermain menggunakan gadget.

“Saya mengajak anak-anak sekitar sini ikut membersihkan lokasi acara, memunguti sampah. Lalu beberapa mereka langsung nyemplung ke air dan membersihkan banyak sampah yang berserakan di Sungai Serayu,” ujar Rianto.

Tercerabutnya seni dan budaya dari alamnya tidak saja menjadi kecemasan Rianto. Kendati alam melahirkan ruang-ruang budaya, tetapi karya-karya seni yang tumbuh dari ruang tersebut kebanyakan sekadar menjadi produk. Betapa masyarakat kian terasing dari alam sekitar yang menghidupinya.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Bisik Serayu Festival 2024ekosistem sungaiKabupaten BanyumasMaestro lengger RiantoSungai Serayu

Editor

Next Post
Ilustrasi persiapan pemberian vaksin. Foto Tumisu/pixabay.com.

Penelitian BRIN, Vaksin Mpox Terbatas sehingga Pakai Vaksin Cacar karena Mirip

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media