Wanaloka.com – Fenomena “pulau sampah” di Muara Angke yang tengah disorot menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak berhenti di tempat pembuangan. Namun berdampak luas terhadap lingkungan perairan.
Pakar Pencemaran dan Toksikologi dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof. Etty Riani menyoroti dampak serius keberadaan “pulau sampah” di Muara Angke. Komposisi sampah di kawasan tersebut didominasi plastik, baik makroplastik maupun mikroplastik.
“Kami menemukan sampah plastik yang sangat banyak dan terjebak dalam sedimen mangrove. Jenis yang banyak ditemukan antara lain kantong plastik, botol plastik, kemasan makanan dan minuman, styrofoam, bekas jaring, serta sampah rumah tangga,” ungkap Etty.
Keberadaan sampah plastik secara langsung mengganggu fungsi ekologis mangrove. Plastik yang bersifat kedap dapat menutupi pneumatofor atau akar napas mangrove sehingga menghambat pertukaran oksigen. Selain itu, plastik yang menutupi sedimen berpotensi mengubah karakteristik fisik, kimia, dan biologis sedimen serta menghambat regenerasi bibit mangrove.
Keberadaan sampah juga berdampak pada kualitas perairan. Sampah plastik dapat menurunkan kelarutan oksigen (DO), meningkatkan potensi terbentuknya gas beracun seperti amonia, H₂S, dan nitrit, serta meningkatkan kandungan mikroplastik, nanoplastik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3) di lingkungan perairan.
“Pulau sampah ini juga memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada ikan dan burung yang sengaja mengonsumsi plastik atau mikroplastik karena mengiranya sebagai makanan,” jelas dia.






Discussion about this post