Jumat, 22 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

BRIN Teliti Kualitas Udara Tiga Kota, Bandung Lampaui Batas Aman

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang berbahaya bagi kesehatan. Ukurannya yang sangat halus dapat masuk ke paru dan aliran darah.

Jumat, 22 Mei 2026
A A
Teknologi untuk riset kualitas udara. Foto Dok. BRIN.

Teknologi untuk riset kualitas udara. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Selain mengukur kadar polusi, ia dan tim menemukan bentuk partikel PM2.5 di Bandung yang bentuknya tidak beraturan, menggumpal, dan menyerupai agregat. Berbeda dengan bentuk partikel PM2.5 yang ditemukan di Jakarta yang cenderung semi-kristalin, memanjang, dan tabular menyerupai persegi. Sedangkan di Tangerang, partikel lebih banyak berbentuk aglomerasi dan faset bersudut.

“Bentuk partikel ini penting dipelajari dan bermanfaat untuk penelitian lebih lanjut karena dapat memberi petunjuk sumber pencemaran sekaligus potensi dampaknya bagi kesehatan. Partikel yang tajam dan tidak beraturan bisa lebih mudah mengiritasi saluran pernapasan,” ujar Feni.

Dari sisi kandungan unsur, Bandung-Tamansari banyak dipengaruhi debu tanah, pembakaran biomassa, dan kendaraan bermotor. Sedangkan Jakarta Selatan menunjukkan pengaruh kuat dari emisi kendaraan serta udara dari laut. Sementara Tangerang Selatan memiliki kandungan sulfur dan timbal yang cukup tinggi.

“Setiap kota memiliki sumber polusi yang berbeda. Karena itu, penanganannya juga tidak bisa disamakan dan harus menyesuaikan kondisi daerah masing-masing,” imbuh dia.

Ia berharap, masyarakat semakin sadar polusi udara bukan hanya asap yang terlihat, tetapi juga partikel kecil tak kasatmata yang dapat berdampak besar terhadap kesehatan. Diperlukan kepedulian bersama baik dari masyarakat maupun pemangku kepentingan untuk menjaga kualitas udara demi kesehatan kita semua.

Sistem peringatan dini berbasis data

Sementara Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono menegaskan pentingnya penguatan sistem peringatan dini polusi udara berbasis data terpadu untuk melindungi masyarakat dari dampak kesehatan akibat pencemaran udara. Ia mengajak untuk melihat realitas polusi udara melalui pengalaman sehari-hari masyarakat Jabodetabek.

“Pernah tidak, ketika malam hujan deras lalu keesokan paginya cerah dan tidak ada awan, kita bisa melihat Gunung Salak dan Gunung Gede dengan jelas? Tapi hari-hari biasa, gunung itu tidak terlihat karena tertutup kabut abu-abu. Kabut itulah polusi udara yang ada di sekitar kita setiap hari,” ujar Dante. dalam Seminar Nasional Sistem Peringatan Dini Polusi Udara yang diselenggarakan Universitas Indonesia bersama Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Indonesia di ruang Singosari hotel Borobudur Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Polusi udara merupakan ancaman kesehatan serius yang berdampak pada seluruh kelompok usia. Mengacu data WHO, 9 dari 10 orang di dunia hidup di wilayah dengan udara tercemar.

Anak-anak berisiko terkena pneumonia hingga gangguan tumbuh kembang. Lansia menghadapi risiko penurunan fungsi organ. Pasien penyakit kronis rentan mengalami perburukan dan komplikasi. Dan para pekerja di luar ruangan terancam penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Menurut Dante, Kemenkes terus memperkuat transformasi kesehatan untuk menghadapi dampak kesehatan akibat polusi udara. Mulai dari aspek promotif dan preventif hingga kesiapan layanan kesehatan.

Namun tantangan terbesar saat ini adalah belum adanya sistem data terpadu yang menghubungkan kualitas udara dengan dampak kesehatan secara langsung.

“Celah inilah yang menjadi peluang kami untuk sama-sama memperkuat sistem peringatan dini melalui integrasi data yang kuat,” kata dia.

Ia berharap seminar nasional ini dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendorong pengembangan sistem peringatan dini polusi udara yang berbasis data, responsif, dan berorientasi jangka panjang.

“Melalui sistem peringatan dini yang baik, kami dapat merespons risiko polusi udara lebih cepat dan tepat serta melindungi kelompok rentan. Demi mewujudkan Indonesia yang tidak hanya maju dan mandiri, tetapi juga sehat dan lestari,” tutur dia.

Sementara Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Prof. Indri Hapsari Susilowati menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem. Mengingat isu kesehatan kini tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan dan perubahan ekosistem di bumi. Seminar ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pembelajaran, kebijakan, dan aksi nyata terkait pengendalian polusi udara.

“Semoga acara ini bisa berjalan lancar, memberikan manfaat, dan menjadi ruang untuk mencari ilmu bersama,” ujar dia.

Seminar nasional ini dihadiri perwakilan kementerian/lembaga, akademisi, peneliti, pemerintah daerah, serta para pegiat lingkungan dan kesehatan dari wilayah Jabodetabek. [WLC02]

Sumber: BRIN, Kementerian Kesehatan

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINKemenkesKualitas UdaraPartikulat HalusPM2.5

Editor

Discussion about this post

TERKINI

  • Teknologi untuk riset kualitas udara. Foto Dok. BRIN.BRIN Teliti Kualitas Udara Tiga Kota, Bandung Lampaui Batas Aman
    In Lingkungan
    Jumat, 22 Mei 2026
  • Presiden Prabowo Subianto saat akan menyampaikan pidato pada Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026, 20 Mei 2026. Foto Kris/BPMI Setpres.Cabut PP 21/2026, Potensi Kerusakan SDA Sulit Dipertanggungjawabkan
    In Lingkungan
    Jumat, 22 Mei 2026
  • Ilustrasi kualitas udara di kota besar yang memburuk. Foto Yamu_Jay/Pixabay.com.Walhi: Pantauan Kualitas Udara Lima Kota Besar Indonesia Memburuk
    In News
    Rabu, 13 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Bergadder/Pixabay.com.Mengenal Hantavirus, Penyakit Zoonosis dengan Rantai Penularan Utama dari Tikus
    In Rehat
    Rabu, 13 Mei 2026
  • Mengapati dan mendokumentasikan letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 dari jauh. Foto Dok. Mirzam Abdurrachman.Erupsi Dukono, Pentingnya Pemahaman Risiko dan Peringatan Dini yang Mudah Dipahami
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media