Wanaloka.com – Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin memastikan pemerintah terus memantau secara ketat kontak erat kasus Hantavirus di wilayah DKI Jakarta. Meski sempat menjadi perhatian publik, Budi menegaskan virus ini tidak mudah menular antarmanusia seperti Covid-19.
“Kita akan pantau sampai benar-benar yakin dan bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan sudah aman,” ujar Budi dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Kasus yang sedang ditangani berasal dari kontak erat seorang WNA yang sempat berada di kapal luar negeri. Pemerintah bergerak cepat setelah menerima informasi dari otoritas kesehatan Inggris pada 7 Mei 2026. Pada 8 Mei 2026, pasien berhasil diidentifikasi dan segera dievakuasi ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso untuk menjalani isolasi.
“Indonesia sejak pandemi Covid-19 sudah jauh lebih baik dalam hal surveilans dan kerja sama internasionalnya,” klaim dia.
Hingga saat ini, hasil pemeriksaan terhadap seluruh kontak erat menunjukkan hasil negatif. Namun, pasien tetap diisolasi guna melewati masa inkubasi. Pemerintah menetapkan masa pemantauan selama dua minggu terhitung sejak 8 Mei 2026.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kementerian Kesehatan, Andi Saguni menyampaikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan karantina mandiri. Namun pemerintah memilih pasien diisolasi di fasilitas kesehatan sebagai langkah kehati-hatian (precautionary measures).
“RSPI Sulianti Saroso dipilih karena merupakan rumah sakit khusus infeksi, sehingga kami bisa benar-benar fokus menangani pasiennya,” tutur Andi.
HFRS beredar di Indonesia
Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah munculnya wabah pada kapal pesiar yang berlayar dari Argentina menuju Eropa. Penyakit yang disebabkan Hantavirus strain Andes itu menjadi sorotan karena memiliki kemampuan penularan antar manusia, meskipun dalam tingkat terbatas. WHO pun menyatakan risiko pandemi global dari wabah ini masih rendah karena penularannya memerlukan kontak erat dalam waktu lama.
Secara klinis, penyakit yang disebabkan Orthohantavirus ini umumnya menular melalui kontak dengan hewan pengerat, seperti tikus dan curut, baik melalui gigitan maupun paparan cairan tubuh (air liur, urin, feses).
Ada dua jenis manifestasi klinis utama, yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dengan masa inkubasi 1-2 minggu, serta Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Hingga saat ini, belum ada pengobatan spesifik untuk Hantavirus sehingga penanganan dilakukan secara simtomatis dan suportif berdasarkan gejala yang muncul.
Sementara varian Hantavirus yang beredar di Indonesia, menurut Budi berasal dari varian Asia dengan tingkat kematian (case fatality rate) antara 5 hingga 15 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibanding varian Andes di Amerika Selatan yang menyerang paru-paru dengan risiko kematian mencapai 50-60 persen.
“Jadi 99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia,” kata Budi.
Ia mengimbau masyarakat tidak panik dan tetap menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam mencegah perkembangbiakan tikus di rumah, rumah makan, maupun tempat kerja.
Risiko pandemi global masih rendah
Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Riris Andono Ahmad menjelaskan Hantavirus yang berasal dari jenis virus strain Andes dominan hidup di kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Virus ini diketahui dapat menyebabkan HPS atau sindrom paru-paru yang berpotensi fatal.
Berbeda dengan sebagian besar hantavirus lainnya, strain Andes memiliki kemampuan menular antar manusia dengan masa inkubasi berkisar antara 4 hingga 42 hari.
“Hantavirus dari strain Andes mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antar manusia,” ujar Riris dalam online talkshow bertajuk “Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia” yang diadakan Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM, Rabu, 13 Mei 2026.
Dalam paparannya, Riris menyebut wabah pada kapal pesiar tersebut melibatkan delapan kasus infeksi yang terdiri dari enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus tersangka. Ada tiga korban meninggal dunia dari total 147 penumpang dan awak kapal. Negara-negara terdampak meliputi Belanda, Afrika Selatan, Inggris, Jerman, Swiss, dan Argentina.
Penularan Hantavirus terjadi melalui dua jalur, yakni primer dan sekunder. Jalur primer berasal dari kontak manusia dengan tikus, termasuk melalui kotoran, urin, maupun gigitan tikus. Sementara pada strain Andes, penularan sekunder dapat terjadi antarmanusia melalui droplet atau percikan cairan tubuh.
Namun mekanisme penularannya tidak semudah Covid-19 karena membutuhkan kontak erat dan berlangsung lama dengan penderita.
Langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat meliputi penggunaan alat pelindung diri (APD), menjaga kebersihan tangan, serta menjaga jarak dari individu yang terinfeksi. Upaya tersebut dinilai penting terutama bagi tenaga kesehatan maupun individu yang berada di wilayah dengan risiko paparan tikus tinggi.






Discussion about this post