Wanaloka.com – Gunung Dukono kembali menjadi perhatian setelah mengalami erupsi bersamaan dengan sejumlah pendaki yang tengah berada di seputaran bibir kawah pada 8 Mei 2026. Tiga pendaki ditemukan dalam kondisi tewas.
Padahal pihak Dinas Pariwisata setempat pun menindaklanjuti dengan menutup jalur pendakian dan wisata sejak April 2026. Menyusul peningkatan aktivitas gunung api yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara itu sejak akhir Maret 2026.
Adalah Dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi, dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Mirzam Abdurrachman menjelaskan Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api dengan aktivitas tinggi di Indonesia. Aktivitas tersebut menjadikan Dukono menarik untuk diamati, terutama bagi pendaki yang ingin menikmati panorama alam sekaligus menyaksikan fenomena erupsi secara langsung. Namun, daya tarik tersebut tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan.
“Gunung api itu menjadi semakin menarik ketika aktif. Para pendaki ingin menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan atraksi yang luar biasa,” ujar Mirzam.
Aktivitas erupsi, baik dalam skala kecil maupun besar, tetap memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan. Keinginan untuk memperoleh foto, video, maupun popularitas di media sosial tidak sebanding dengan bahaya yang dapat terjadi di lapangan.
“Keselamatan itu tidak bisa digantikan dengan kesenangan kita, popularitas kita, mendapatkan like dari video maupun foto saat kita bisa swafoto waktu erupsi,” ia mengingatkan.
Status gunung api ditentukan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik. Status tersebut terdiri atas normal (level 1), waspada (level 2), siaga (level 3), hingga awas (level 4. Peningkatan status biasanya didasarkan pada sejumlah indikator, seperti aktivitas kegempaan, erupsi kecil, dan perubahan aktivitas gunung.
Dalam konteks Gunung Dukono, ia memaparkan pada Agustus 2024, status gunung berada pada level 2 dengan rekomendasi radius aman sejauh 3 kilometer. Pada Desember 2024, radius rekomendasi tersebut meningkat menjadi 4 kilometer. Selanjutnya, pada 17 April 2026, status Dukono berada pada level 3 sehingga aktivitas pendakian seharusnya tidak dilakukan.
“Kalau tadi jarak amannya sampai 4 kilometer, sekarang pendakian sudah tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun,” tegas dia.
Material vulkanik tak selalu ikut arah angin
Dalam video singkat di berbagai media sosial, tampak pemandu meminta para pendaki kembali naik ke atas saat erupsi Dukono membumbung tinggi. Sembari melihat ke atas untuk melihat ke arah mana angin menyapunya.
Padahal bahaya gunung api tidak hanya berasal dari abu vulkanik. Memperhatikan arah angin memang dapat membantu menghindari sebaran abu, tetapi langkah tersebut hanya mengurangi salah satu jenis risiko. Erupsi gunung api juga dapat menghasilkan bom vulkanik, awan panas, gas beracun, aliran lava, lahar, hingga longsor.
Upaya yang dilakukan dengan melihat ke mana arah angin hanya meminimalisir salah satu bencana, yaitu jatuhnya abu vulkanik yang terbawa angin. Namun material seperti bom vulkanik sangat berbahaya karena terlontar secara balistik dan tidak mengikuti arah angin. Sebagaimana material batu besar yang menghantam tubuh dua korban asal Singapura tersebut.
Selain itu, awan panas memiliki kecepatan tinggi sehingga sulit dihindari apabila sudah melintas.
“Kalau yang keluar adalah wedus gembel dengan kecepatan 150 kilometer per jam, mau naik, mau turun, mau ke mana pun, kalau sudah melintas, kita tidak punya kesempatan waktu untuk lari,” papar dia.
Peringatan dini yang mudah dipahami
Sistem peringatan dini tidak hanya bergantung pada teknologi. Informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan pemerintah harus dapat diterima masyarakat, dipahami dengan baik, serta disampaikan melalui pihak yang dipercaya masyarakat setempat.
Tantangan di lapangan muncul karena tidak semua masyarakat memiliki akses internet, memahami sistem peringatan dini, maupun memahami bahasa Indonesia dengan baik.
“Tidak semua terhubung dengan jaringan internet. Tidak semua orang memahami warning system. Ada beberapa yang juga tidak bisa berbahasa Indonesia di daerah itu,” jelas dia.
Peran tokoh masyarakat, kepala desa, pemandu lokal, dan pihak yang dipercaya warga perlu dilibatkan sebagai penghubung informasi. Dengan demikian, informasi ilmiah dapat diterima masyarakat melalui bahasa yang lebih mudah dipahami.






Discussion about this post