Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Buku Green Energy, Indonesia Belum Optimalkan Energi Baru Terbarukan yang Melimpah

Green energy merupakan tuntutan zaman, karena menjadi sebuah keniscayaan bagi peradaban manusia.

Senin, 3 Januari 2022
A A
Peluncuran buku Green Energy. Foto geologi.ugm.ac.id.

Peluncuran buku Green Energy. Foto geologi.ugm.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Saat ini, Indonesia memiliki potensi EBT sejumlah 417,8 GW, tetapi yang dimanfaatkan baru 2,5 persen atau 10,4 GW. Rinciannya, panas bumi memiliki potensi 29,3 GW (dimanfaatkan 8,9 persen), bioenergi potensi 32,6 GW (dimanfaatkan 5,8 persen), bayu atau angin potensi 60,6 GW (dimanfaatkan 0,3 persen), hidro atau air 75 GW (dimanfaatkan 8,2 persen), serta energi surya atau matahari potensi 207 GW (dimanfaatkan 0,07 persen).

Baca Juga: Ingin Tahu Jenis dan Tipe Warna Kulitmu? Simak Penjelasan Dokter Flandiana

Selain itu, ada sumber energi arus laut dengan potensi 17,9 GW yang belum dimanfaatkan sama sekali. Indonesia juga memiliki bahan baku untuk energi hijau, yakni mineral yang mendukung untuk pembuatan baterai (terutama) untuk mobil listrik. Indonesia memiliki 25 persen dari cadangan nikel di seluruh dunia sehingga semestinya dapat memerankan peranan sentral dalam transformasi bahan bakar fosil menuju bahan bakar listrik.

“Indonesia punya peran strategis dan dominan dalam usaha dunia mewujudkan green energy,’’ terang Direktur J Resource Asia Pacific, Adi Maryono.

Baca Juga: Prof. Wahyu Andayani: Lindungi Hutan Lewat Pembangunan KPH

Ia menambahkan, Indonesia juga memiliki cadangan logam tanah jarang (rare earth element/REE) untuk pembuatan baterei. Cadangan itu ada di Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Sayang pengembangan REE masih terkendala pada ketersediaan regulasi yang tidak jelas dan belum memberikan stimulus pada pelaku usaha,’’ kata Ketua IAGI periode 2014-2020 itu. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Ahli GeologiEnergi fosilenergi hijauenergi terbarukanUGM

Editor

Next Post
Gunung Semeru memuntahkan abu vulkanis pada Senin, 3 Januari 2022. Foto PVMBG.

Erupsi Gunung Semeru Muntahkan Abu Vulkanis Setinggi 200 Meter  

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media