Minggu, 21 Desember 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Burhanuddin Masy’ud: Konservasi Eksitu Bisa Ubah Satwa Dilindungi Jadi Tak Dilindungi

Spesies dengan laju pertumbuhan populasi rendah dan habitat rusak dapat dilakukan konservasi eksitu dan penangkaran di luar habitatnya.

Selasa, 26 September 2023
A A
Guru Besar Ilmu Ekologi Manajemen Satwa Liar IPB UNiversity, Prof. Burhanuddin Masy’ud. Foto ipb.ac.id.

Guru Besar Ilmu Ekologi Manajemen Satwa Liar IPB UNiversity, Prof. Burhanuddin Masy’ud. Foto ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia termasuk negara megabiodiversitas karena kekayaan hayatinya terbesar ketiga di dunia, termasuk keanekaragaman satwa liarnya. Menurut Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Burhanuddin Masy’ud, kondisi tersebut mesti dijaga kelestarian, keberadaan dan pengembangan pemanfaatannya secara berkelanjutan.

Burhan mengulas konservasi eksitu dan penangkaran sebagai strategi pengawetan dan pemanfaatan satwa liar berkelanjutan penting dilakukan. Semisal, beberapa spesies burung yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti jalak putih, kakatua raja, seringkali menjadi incaran pemburu di alam. Tindakan itu berpotensi mengancam kelestarian spesies di alam.

Upaya menjamin kelestarian dilakukan dengan konservasi insitu di habitat alaminya. Sementara untuk spesies yang laju pertumbuhan populasinya rendah dan kerusakan habitatnya tinggi, cara yang dilakukan adalah melalui konservasi eksitu dan upaya penangkaran di luar habitatnya.

Baca Juga: Pemerintah Hanya Menggeser Rumah, Walhi: Warga Rempang Jangan Terhasut

Burhan juga menjelaskan pendekatan untuk meningkatkan aktivitas reproduksi satwa di eksitu dapat dilakukan dengan pemanfaatan tumbuhan afrodisiak berbasis kearifan lokal. Tujuannya untuk menstimulasi aktivitas reproduksi satwa. Afrodisiak merupakan makanan atau herbal yang diyakini dapat meningkatkan gairah seksual.

“Hasil percobaan kami bersama tim membuktikan pemberian kapsul bubuk daun sanrego (Lunasia amara) dan akar pasak bumi (Eurycoma longifolia) berhasil menstimulasi libido seksual dan aktivitas perkawinan pada rusa timor jantan. Pemberian kapsul bubuk daun tabat barito (Ficus deltoidea Jack) dapat merangsang estrus (birahi) dan perkawinan pada rusa timor betina,” papar Burhan dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada 21 September 2023.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: aktivitas reproduksi satwa liarFakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB Universitykonservasi eksituProf. Burhanuddin Masy’udumbuhan afrodisiak

Editor

Next Post
Ilustrasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto esdm.go.id.

Pemerintah Permudah Izin Lingkungan Pendirian SPKLU

Discussion about this post

TERKINI

  • Masyarakat adat Awyu, Papua mengajukan permohonan kasasi ke MA terkait upaya mempertahankan kelestarian hutan Papua. Foto Dok. Walhi Papua.Walhi Papua Tolak Rencana Prabowo Buka Perkebunan Sawit di Papua
    In News
    Rabu, 17 Desember 2025
  • Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Terancam Punah, DIY Didesak Terbitkan Larangan Perdagangan Monyet Ekor Panjang
    In News
    Selasa, 16 Desember 2025
  • Evakuasi warga terdampak banjir di Bali pada Minggu, 14 Desember 2025. Foto BNPB.Banjir di Bali Menewaskan Seorang Turis Mancanegara
    In Bencana
    Senin, 15 Desember 2025
  • Penanganan darurat bencana Sumatra, pengerukan Sungai Aek Doras, Kota Sibolga, Sumatra Utara. Foto BNPB.Bencana Sumatra, Korban Tewas Mencapai Seribu Lebih
    In Bencana
    Senin, 15 Desember 2025
  • FAMM Indonesia bersama Kaoem Telapak menggelar "FAMM Fest: mempertemukan Suara, Seni, dan Rasa" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam rangka peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) pada 10 Desember 2025.Perempuan di Garis Depan Krisis Ekologis
    In News
    Sabtu, 13 Desember 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media