Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Burhanuddin Masy’ud: Konservasi Eksitu Bisa Ubah Satwa Dilindungi Jadi Tak Dilindungi

Spesies dengan laju pertumbuhan populasi rendah dan habitat rusak dapat dilakukan konservasi eksitu dan penangkaran di luar habitatnya.

Selasa, 26 September 2023
A A
Guru Besar Ilmu Ekologi Manajemen Satwa Liar IPB UNiversity, Prof. Burhanuddin Masy’ud. Foto ipb.ac.id.

Guru Besar Ilmu Ekologi Manajemen Satwa Liar IPB UNiversity, Prof. Burhanuddin Masy’ud. Foto ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Di lain sisi, pengembangan konservasi eksitu dan penangkaran satwa liar sebagai bagian dari strategi konservasi biodiversitas harus memperhatikan prinsip filosofi dan etika konservasi yang telah menjadi komitmen komunitas global. Hal penting lainnya adalah prinsip etika dan kesejahteraan satwa (animal welfare and ethics) atau lazim disebut dengan lima hak kebebasan satwa.

Baca Juga: Diskusi UGM, Ini Alasan Pemerintah Ngotot Bangun PSN Rempang

“Keberhasilan pengembangbiakan satwa di eksitu dan penangkaran telah terbukti berkontribusi positif terhadap perubahan status perlindungan lima jenis burung berkicau menjadi jenis tidak dilindungi,” kata Guru Besar Ilmu Ekologi Manajemen Satwa Liar itu.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor 106 Tahun 2016, lima burung tersebut meliputi cucak rawa, kucica hutan atau murai batu, jalak suren, anis-bentet kecil, dan anis-bentet sangihe.

Keberadaan sejumlah lembaga konservasi dan unit-unit penangkaran satwa liar, khususnya di Indonesia juga memberikan kontribusi berarti dari segi ekologis, sosial ekonomi dan budaya. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: aktivitas reproduksi satwa liarFakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB Universitykonservasi eksituProf. Burhanuddin Masy’udumbuhan afrodisiak

Editor

Next Post
Ilustrasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto esdm.go.id.

Pemerintah Permudah Izin Lingkungan Pendirian SPKLU

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media