Senin, 9 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Catahu Walhi Region Sumatera, Negara Gagal Lindungi Rakyat dan Lingkungan Sumatera

Karhutla, bencana ekologis, kerusakan DAS, konflik agraria, proyek PSN dan kriminalisasi rakyat menjadi ancaman serius ekologi Pulau Sumatera.

Senin, 15 Januari 2024
A A
Deforestasi hutan di Sumatera. Foto Facebook Yayasan WWF Indonesia.

Deforestasi hutan di Sumatera. Foto Facebook Yayasan WWF Indonesia.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tiga kali putaran Debat Pilpres 2024 telah dilakukan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilaai belum ada kandidat yang memperlihatkan gagasan dan komitmen atas perlindungan dan pemulihan lingkungan di Indonesia. Ketiga pasangan capres dan cawapres secara gamblang menunjukkan keberpihakan pada paradigma ekonomi yang bertumpu pada sektor ekstraktif, seperti perkebunan dan pertambangan.

“Model ekonomi ekstraktif yang ditopang kebijakan politik menjadi sumber berbagai kerusakan lingkungan, krisis iklim dan konflik sosial di berbagai tempat di Indonesia,” kata Eksekutif Nasional (Eknas) Walhi, Uli Arta Siagian dalam Catatan Akhir Tahun Walhi Nasional dan Walhi Region Sumatera tertanggal 15 Januari 2024.

Selama kurang lebih 10 tahun terakhir, kewenangan kekuasaan tidak digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan perlindungan lingkungan hidup. Kekuasaan justru dipergunakan untuk alat mengotak-atik regulasi yang memberi kelonggaran bagi investasi dan kegiatan usaha ekstraktif.

Baca Juga: Potensi Bahaya Tinggi, Perlu Susun Pedoman Teknis K3 Sektor Migas

Sementara instrumen hukum dipergunakan sebagai alat menindas bagi mereka yang berjuang untuk lingkungan. Sebaliknya, hukum memberikan impunitas bagi pelaku kejahatan lingkungan.

Otoritas pemegang kekuasaan juga menerbitkan atau merevisi berbagai peraturan guna memastikan kemudahan investasi dengan melemahkan instrumen lingkungan hidup dan penegakan hukum. Beberapa peraturan tersebut antara lain UU Cipta Kerja, revisi UU Mineral dan Batu Bara, revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi, UU Ibu Kota Negara, Kitab UU Hukum Pidana (KUHP).

Pada akhir 2023 lalu, Presiden Joko Widodo memberikan kado buruk melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2023 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2018 tentang Penanganan Dampak Sosial Kemasyarakatan dalam Rangka Penyediaan Tanah Untuk Pembangunan Nasional. Lewat perpres ini, pemerintah bermaksud mempercepat proses perampasan tanah rakyat demi menggenjot pembangunan berbagai proyek strategis nasional (PSN).

Baca Juga: Medan Zoo Kesulitan Operasional, BKSDA Sumut Utamakan Keselamatan Satwa

Dalam dua periode rezim pemerintahannya, Jokowi menutup ruang partisipasi publik dalam fase pembentukan undang-undang, mulai dari perencanaan, pembahasan hingga penetapan. Gelombang protes atas berbagai produk kebijakan yang berdampak buruk pada rakyat dan lingkungan justru direspon dengan represi dan kriminalisasi.

Walhi mencatat sepanjang rezim Jokowi, sebanyak 827 warga negara mengalami kriminalisasi dan kekerasan. Terhitung 145 orang ditangkap, 28 orang tersangka, 620 orang mengalami luka-luka akibat kekerasan aparat, dan 6 orang meninggal dunia.

Bukan hanya kriminalisasi dan kekerasan yang dialami rakyat, krisis politik menyebabkan bencana ekologis serta krisis iklim. Walhi mencatat dari tahun 2015 hingga 2022, Indonesia mengalami puluhan ribu bencana yang 90 persen di antaranya merupakan bencana ekologis. Alih-alih menangani krisis iklim dengan mengurangi secara drastis pelepasan emisi, pemerintah justru menyelenggarakan serangkaian solusi palsu penanganan iklim seperti perdagangan karbon, Carbon Capture Storage (CCS), hilirisasi nikel dan program transisi palsu energi lainnya.

Baca Juga: Kapan Indonesia Melarang Anjing dan Kucing Dijual dan Dikonsumsi?

Eksploitasi Pulau Sumatera
Krisis ekologis juga mengancam keselamatan rakyat di Sumatera. Walhi mencatat Pulau Sumatera telah dibebani izin Hak Guna Usaha (HGU) sawit seluas 2.326.417 hektare. Sedangkan luasan Izin Usaha Pertambangan (IUP) mencapai 2.434.661 hektare. Luas izin di sektor kehutanan mencapai 5.670.700 hektare.

Eksploitasi Pulau Sumatera mengakibatkan hutan seluas 119.626 hektare mengalami deforestasi dan setidaknya seluas 141.522 hektare hutan dan lahan gambut di Sumatera terbakar sepanjang 2023. Bukan hanya karhutla, tetapi juga bencana ekologis, kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), konflik agraria, proyek-proyek strategis nasional serta kriminalisasi rakyat.

“Bukti gagalnya pengurus negara melindungi rakyat dan lingkungan di Sumatera,” tegas Direktur Eksekutif Daerah Walhi Aceh, Ahmad Shalihin.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: daerah aliran sungaiDebat Pilpres 2024Krisis IklimPerpres Nomor 78 Tahun 2023WalhiWalhi Region Sumatera

Editor

Next Post
Penampakan siklon tropis Anggrek dan bibit siklon 99S dari citra satelit pada 16 Januari 2024. Foto Dok. BMKG.

Muncul Siklon Tropis Anggrek dan Bibit Siklon 99S, Waspada Gelombang Tinggi

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media