Rabu, 4 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Christopher Stremme: EEHV Jadi Penyebab Kematian Misterius Anak Gajah

Anak gajah yang mati mendadak sehingga terkesan misterius ternyata kebanyakan disebabkan virus. Seperti apa virus yang dimaksud?

Selasa, 19 September 2023
A A
Spesialis Kesehatan dan Konservasi Satwa Liar Universitas Syiah Kuala, Christoper Stremme DVM. Foto ildlife.usk.ac.id.

Spesialis Kesehatan dan Konservasi Satwa Liar Universitas Syiah Kuala, Christoper Stremme DVM. Foto ildlife.usk.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Elephant Herpesvirus jenis Elephant endotheliotropic herpesviruses (EEHV) atau Elephantid betaherpesvirus 1 (ElHV-1) menjadi penyebab dominan kematian misterius anak gajah di dunia konservasi. Tingkat mortalitas pada anak gajah yang terinfeksi mencapai 80 persen kejadian.

Spesialis Kesehatan dan Konservasi Satwa Liar Universitas Syiah Kuala, Christopher Stremme DVM (Doctor of Veterinary Medicine) mengatakan anak gajah yang mati secara mendadak sebetulnya telah menunjukkan gejala. Beberapa symptom ringan yang harus menjadi perhatian adalah kekurangan nafsu makan dan inkoordinasi gerakan. Secara fisik anak gajah akan terlihat normal, tetapi secara nyata virus tersebut telah merusak organ dalam anak gajah.

“Jika dilakukan pembedahan, kita dapat menemukan jantung, lambung, hingga otak telah rusak akibat mengalami hemoragi (pendarahan, red),” kata Christopher saat menyampaikan dalam Kuliah Umum IV (Wild) Kelompok Minat Profesi Veteriner Pet and Wild Animal (KMPV PW) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga dengan bertemakan “Elephant Herpesvirus” pada 6 September 2023.

Baca Juga: PSN Pulau Rempang, Ombudsman Sebut Ada Potensi Maladministrasi

Diagnosa Pakai PCR
Diagnosa pada anak gajah yang suspect menggunakan PCR dengan spesifik primer. Jika gajah mengalami kematian, maka tim kesehatan hewan konservasi harus melakukan pemeriksaan forensik secara post mortem untuk mengetahui penyebab utama kematian. Post Mortem diambil sampel dari jaringan yang memiliki kelainan konsistensi maupun bentuk untuk pengecekan lebih lanjut.

“Sampel dapat disimpan dalam paling lama 6 bulan dalam suhu minus 20 derajat celcius, direndam alkohol 95 persen, maupun formalin 8-10 persen,” jelas Christoper.

Anak gajah yang terkena Elephant Herpesvirus akan mengalami kekurangan cairan di dalam pembuluh darah. Upaya perawatan awal yang harus dilakukan adalah dengan mengisi volume cairan lewat intravena ataupun rektal menggunakan larutan NaCl fisiologis. Ditambah dengan terapi antiviral dengan penggunaan Famciclovir sesuai dosis.

Baca Juga: Yonvitner: Mangrove Ibarat Ibu yang Diperlukan untuk Mengasuh Banyak Anak

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: anak gajahEEHVElephant endotheliotropic herpesviruseskematian mendadakkonservasi gajahpembuluh darahpost mortemSpesialis Kesehatan dan Konservasi Satwa Liar Universitas Syiah Kuala Christopher Stremme

Editor

Next Post
Pembukaan The 4th Workshop of Blue Carbon Hub Think Thank - IORA di Bali. Foto Dok. Kemenko Marves.

Ekosistem Karbon Biru Diklaim Dukung Keberlanjutan Ekonomi Biru

Discussion about this post

TERKINI

  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media