Senin, 9 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Cuaca Panas Tiap Tahun Makin Ekstrem, Penggunaan AC Justru Meningkatkan Udara Panas

Untuk mengurangi efek panas memerlukan waktu lama, yakni memperbanyak ruang terbuka hijau (RTH) dengan menambah penanaman pohon-pohon di lingkungan sekitar.

Sabtu, 25 Oktober 2025
A A
Air conditioner yang dipasang di rumah-rumah. Foto terimakasih0/pixabay.com.

Air conditioner yang dipasang di rumah-rumah. Foto terimakasih0/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Emilya Nurjani, Sampaikanlah Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dengan Bahasa Mudah Dipahami

Polutan di atmosfer meningkat

Fenomena peningkatan suhu tersebut, menurut Sonni berkaitan dengan proses absorbsi radiasi medan elektromagnetik dari atmosfer. Kondisi itu berpengaruh langsung terhadap perubahan suhu udara, khususnya di lapisan troposfer bagian bawah.

Sementara atmosfer berfungsi menjadi medium yang menerima radiasi dari dua sumber utama, yakni Matahari dan Bumi. Radiasi dari Matahari disebut radiasi gelombang pendek, sedangkan radiasi dari Bumi disebut radiasi gelombang panjang.

“Keduanya memiliki spektrum absorpsi berbeda,” kata Sonni.

Radiasi matahari lebih banyak diserap di lapisan stratosfer hingga termosfer, terutama pada spektrum ultraviolet (UV). Sementara radiasi gelombang panjang dari permukaan Bumi lebih dominan diserap di lapisan troposfer pada spektrum inframerah (IR).

Baca juga: Belajar dari Kearifan Lokal Kasepuhan Girijaya dan Tahura Atasi Perubahan Iklim

Besarnya energi radiasi yang diserap atmosfer sangat bergantung pada kerapatan partikel pengabsorpsi dan intensitas radiasi yang diterima. Semakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat.

Ada dua faktor utama yang memicu pemanasan udara di lapisan bawah atmosfer. Pertama, peningkatan konsentrasi gas-gas pengabsorpsi radiasi gelombang panjang seperti uap air, karbon dioksida (CO₂), serta partikel aerosol dari polutan dan debu. Proses ini dikenal dengan efek rumah kaca yang menyebabkan panas dari Bumi terperangkap di atmosfer.

“Polutan di atmosfer meningkat,” kata Sonni.

Kedua, perubahan tutupan lahan akibat alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun turut memengaruhi kapasitas panas permukaan Bumi. Permukaan dengan kapasitas panas rendah, seperti beton atau aspal, lebih cepat menyerap dan memancarkan panas dibandingkan tanah atau vegetasi.

“Ini membuat suhu permukaan meningkat dan memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah,” tegas dia. [WLC02]

Sumber: UGM, IPB Univeristy

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Air Conditionercuaca panasDepartemen Geofisika dan Meteorologi IPB UniversityPusat Studi Lingkungan Hidup UGMruang terbuka hijau

Editor

Next Post
TPST Kranon di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Portal Pemkot Yogyakarta.

Walhi Yogyakarta Desak DIY Tolak Proyek PSEL yang Meningkatkan Degradasi Lingkungan di Piyungan

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media