Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Cuaca Panas Tiap Tahun Makin Ekstrem, Penggunaan AC Justru Meningkatkan Udara Panas

Untuk mengurangi efek panas memerlukan waktu lama, yakni memperbanyak ruang terbuka hijau (RTH) dengan menambah penanaman pohon-pohon di lingkungan sekitar.

Sabtu, 25 Oktober 2025
A A
Air conditioner yang dipasang di rumah-rumah. Foto terimakasih0/pixabay.com.

Air conditioner yang dipasang di rumah-rumah. Foto terimakasih0/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Emilya Nurjani, Sampaikanlah Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dengan Bahasa Mudah Dipahami

Polutan di atmosfer meningkat

Fenomena peningkatan suhu tersebut, menurut Sonni berkaitan dengan proses absorbsi radiasi medan elektromagnetik dari atmosfer. Kondisi itu berpengaruh langsung terhadap perubahan suhu udara, khususnya di lapisan troposfer bagian bawah.

Sementara atmosfer berfungsi menjadi medium yang menerima radiasi dari dua sumber utama, yakni Matahari dan Bumi. Radiasi dari Matahari disebut radiasi gelombang pendek, sedangkan radiasi dari Bumi disebut radiasi gelombang panjang.

“Keduanya memiliki spektrum absorpsi berbeda,” kata Sonni.

Radiasi matahari lebih banyak diserap di lapisan stratosfer hingga termosfer, terutama pada spektrum ultraviolet (UV). Sementara radiasi gelombang panjang dari permukaan Bumi lebih dominan diserap di lapisan troposfer pada spektrum inframerah (IR).

Baca juga: Belajar dari Kearifan Lokal Kasepuhan Girijaya dan Tahura Atasi Perubahan Iklim

Besarnya energi radiasi yang diserap atmosfer sangat bergantung pada kerapatan partikel pengabsorpsi dan intensitas radiasi yang diterima. Semakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat.

Ada dua faktor utama yang memicu pemanasan udara di lapisan bawah atmosfer. Pertama, peningkatan konsentrasi gas-gas pengabsorpsi radiasi gelombang panjang seperti uap air, karbon dioksida (CO₂), serta partikel aerosol dari polutan dan debu. Proses ini dikenal dengan efek rumah kaca yang menyebabkan panas dari Bumi terperangkap di atmosfer.

“Polutan di atmosfer meningkat,” kata Sonni.

Kedua, perubahan tutupan lahan akibat alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun turut memengaruhi kapasitas panas permukaan Bumi. Permukaan dengan kapasitas panas rendah, seperti beton atau aspal, lebih cepat menyerap dan memancarkan panas dibandingkan tanah atau vegetasi.

“Ini membuat suhu permukaan meningkat dan memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah,” tegas dia. [WLC02]

Sumber: UGM, IPB Univeristy

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Air Conditionercuaca panasDepartemen Geofisika dan Meteorologi IPB UniversityPusat Studi Lingkungan Hidup UGMruang terbuka hijau

Editor

Next Post
TPST Kranon di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Portal Pemkot Yogyakarta.

Walhi Yogyakarta Desak DIY Tolak Proyek PSEL yang Meningkatkan Degradasi Lingkungan di Piyungan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media