Sabtu, 10 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Curah Hujan Tinggi, Waspada Permukiman di Dekat Sungai dan di Pegunungan

Rabu, 5 November 2025
A A
Ilustrasi banjir. Foto Hermann/pixabay.com.

Ilustrasi banjir. Foto Hermann/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Adanya bencana tersebut juga bisa dikenali lebih awal dengan memperhatikan sekitarnya. Apabila ada retakan tanah atau struktur bangunan, miringnya tiang atau pohon, serta guguran tanah atau batuan di lereng dapat menjadi tanda-tanda longsor.

Sedangkan banjir terjadi diawali dengan hujan deras terus menerus, permukaan air sungai mulai naik, hingga munculnya genangan air di jalan atau sekitar rumah. Perlu digalakkan ronda lingkungan, khususnya setelah hujan mengamati tanda-tanda banjir atau longsor di sekitar sehingga dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasinya.

Bagi Wahyu, relokasi dan usaha fisik untuk mitigasi bencana harus dilakukan bersama-sama dengan kolaborasi berbagai pihak baik pemerintah, akademisi, masyarakat, dan media massa. Selain itu, solusi efektif yang bisa dilakukan untuk mencegah bencana banjir dan longsor dapat dilakukan dengan modifikasi cuaca.

Baca juga: Sebanyak 15 Korban Hilang Akibat Banjir Longsor di Nduga Papua Belum Ditemukan

“Jadi modifikasi cuaca merupakan salah satu usaha efektif untuk mencegah terjadinya banjir dan longsor,” kata dia.

Wahyu menambahkan perubahan iklim global tidak dapat dihindari, memang harus dihadapi dan beradaptasi dengan kondisi tersebut termasuk akibatnya seperti bencana banjir dan longsor. Menghindari daerah-daerah yang rentan terhadap banjir dan longsor baik secara permanen maupun sementara, menjadi cara untuk menghadapi bencana tersebut.

“Bencana bukan hanya permasalahan pemerintah. Tapi juga tanggung jawab kita bersama untuk menghindari dan meminimalkan dampak kejadian bencana,” imbuh dia. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Banjir dan LongsorBMKGcurah hujan tinggiperubahan iklimTeknik Geologi Fakultas Teknik UGM

Editor

Next Post
Kebun sagu. Foto agrotek.id.

Atasi Ketergantungan Pangan, Komisi IV Minta Sagu Kembali Jadi Makanan Pokok Papua

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media