Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Deforestasi Penyebab Utama Konflik Ular Piton dengan Manusia

Yang terjadi sebenarnya bukan satwa yang masuk kampung dan perkebunan serta aktivitas anthropogenic lainnya. Tapi kampung dan manusialah yang semakin intensif  masuk hutan.

Kamis, 7 Agustus 2025
A A
Ular piton. Foto nature_with_eshan/pixabay.com.

Ular piton. Foto nature_with_eshan/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Dampaknya, populasi mangsa alami piton, seperti babi hutan (Sus sp.), rusa (Cervidae), kijang (Muntiacus muntjak), dan beberapa jenis primata, semakin berkurang. Kondisi ini memaksa piton mencari mangsa alternatif ke kebun dan permukiman masyarakat, mulai dari ayam, kambing, sapi. Bahkan dalam kasus ekstrem adalah memangsa manusia.

Perlu mitigasi segera

Haris menjelaskan karakteristik piton memang sebagai predator oportunis. Piton hanya memangsa hewan hidup. Ia menyergap mangsanya, melilit, mematahkan tulang mangsa, lalu menelannya utuh.

Baca juga: Kemenhut Klaim Pembangunan Fasilitas Wisata TN Komodo di Zona Pemanfaatan

Dengan sifat adaptif yang dimiliki, memungkinkan piton hidup di hutan primer, sekunder, hingga sekitar saluran air di perkotaan. Langkah mitigasi perlu segera dilakukan.

“Solusi jangka pendek harus dilakukan melalui zonasi risiko dan edukasi warga. Yang lebih penting adalah menjaga habitatnya seperti hutan primer, hutan sekunder, kawasan karst, dan hutan riparian (hutan yang berbatasan langsung dengan badan air),” papar dia.

Selain itu, perlu ada sistem peta konflik manusia-satwa liar, khususnya permukiman dan aktivitas manusia di pinggiran hutan. Zona merah bisa ditetapkan sebagai langkah mitigasi berbasis data GPS dari kejadian sebelumnya.

“Edukasi juga penting. Banyak kasus terjadi karena masyarakat tidak tahu cara mengenali piton atau langkah evakuasi saat berhadapan dengan ular,” ucap dia. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: deforestasiIPB Universitykonflik dengan manusiaular piton

Editor

Next Post
Mempawah Mangrove Park (MMP), Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Foto Yunaidi Joepoet/WWF Indonesia.

Dalam 40 Tahun, Satu Juta Hektare Lahan Mangrove Hilang Akibat Alih Fungsi Lahan

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media