Dampaknya, populasi mangsa alami piton, seperti babi hutan (Sus sp.), rusa (Cervidae), kijang (Muntiacus muntjak), dan beberapa jenis primata, semakin berkurang. Kondisi ini memaksa piton mencari mangsa alternatif ke kebun dan permukiman masyarakat, mulai dari ayam, kambing, sapi. Bahkan dalam kasus ekstrem adalah memangsa manusia.
Perlu mitigasi segera
Haris menjelaskan karakteristik piton memang sebagai predator oportunis. Piton hanya memangsa hewan hidup. Ia menyergap mangsanya, melilit, mematahkan tulang mangsa, lalu menelannya utuh.
Baca juga: Kemenhut Klaim Pembangunan Fasilitas Wisata TN Komodo di Zona Pemanfaatan
Dengan sifat adaptif yang dimiliki, memungkinkan piton hidup di hutan primer, sekunder, hingga sekitar saluran air di perkotaan. Langkah mitigasi perlu segera dilakukan.
“Solusi jangka pendek harus dilakukan melalui zonasi risiko dan edukasi warga. Yang lebih penting adalah menjaga habitatnya seperti hutan primer, hutan sekunder, kawasan karst, dan hutan riparian (hutan yang berbatasan langsung dengan badan air),” papar dia.
Selain itu, perlu ada sistem peta konflik manusia-satwa liar, khususnya permukiman dan aktivitas manusia di pinggiran hutan. Zona merah bisa ditetapkan sebagai langkah mitigasi berbasis data GPS dari kejadian sebelumnya.
“Edukasi juga penting. Banyak kasus terjadi karena masyarakat tidak tahu cara mengenali piton atau langkah evakuasi saat berhadapan dengan ular,” ucap dia. [WLC02]
Sumber: IPB University
Discussion about this post