Wanaloka.com – Penunjukan PT Ormat Geothermal Indonesia oleh Pemerintah Indonesia sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Rano di Halmahera Barat, Maluku Utara berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026 tanggal 8 Januari 2026 adalah keputusan yang jauh melampaui sekadar urusan administratif.
Mengingat perusahaan ini tercatat memiliki afiliasi dengan Ormat Technologies Inc, sebuah korporasi energi raksasa yang memiliki jaringan bisnis dengan ekosistem industri Israel.
“Perusahaan ini termasuk yang didirikan di Yavne, Israel pada 1965,” kataDinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Maluku Utara, Julfikar Sangaji.
Berangkat dari itu, Jatam Maluku Utara berpandangan keputusan pemerintah ini secara terang-terangan mengabaikan moral, etika, dan kepedulian sosial. Di mana Israel secara brutal dan terang-terangan melakukan genosida terhadap ribuan warga sipil Palestina, termasuk anak-anak oleh militer Israel.
Namun suara kemanusiaan itu diabaikan. Di balik proyek ekstraktif berskala besar, Julfikar menduga keuntungan finansial mungkin hanyalah permukaan. Namun yang sebenarnya diduga akan diperkuat adalah jaringan kekuasaan transnasional yang rakus. Begitu pula ketika perusahaan melakukan operasi. Dimungkinkan akan ada arus modal dari penjualan listrik dan setiap keuntungan yang masuk akan mengalir deras ke perusahaan induk dan pemegang saham.
Baca juga: Tak Ada Fase Aman Melihat Gerhana Matahari Cincin Tanpa Penapis
Keuntungan lokal bukan lagi soal warga, tetapi alat dan sarana untuk memperluas cengkeraman ekonomi dan politik global, memperkuat posisi negara asal perusahaan dalam diplomasi, ekonomi, dan militer. Sumber daya alam diperlakukan semata-mata sebagai komoditas untuk menumpuk kekayaan segelintir elite. Bahkan proyek energi yang diklaim “hijau” atau “bersih” hanyalah kamuflase kapitalisme.
“Kepentingan global diprioritaskan, sementara kesejahteraan warga diinjak-injak demi laba, dan kekuasaan, dan kekerasan,” tegas dia.
Jatam Maluku Utara tidak bermaksud menyederhanakan realitas dengan mengatakan satu proyek di Halmahera langsung membiayai satu peluru untuk menembak mati warga di Gaza. Namun kenyataannya, arus modal global berfungsi sebagai jaringan kekuasaan yang memperkuat struktur negara dan korporasi. Keputusan investasi, meski tampak terpisah, memiliki dampak etis, politik, dan ekonomi yang luas, bahwa setiap rupiah yang masuk ke perusahaan induk secara langsung menambah kekuatan negara asal untuk mencampuri wilayah lain melalui tekanan ekonomi, diplomasi, bahkan intervensi militer.
“Di balik proyek yang tampak “netral” atau “teknis” itu, warga menjadi pion tidak terlihat dalam permainan kekuasaan global,” imbuh dia.
Keadilan energi untuk masyarakat adat
Sementara itu, di Talaga Rano, Halmahera Barat, Masyarakat Adat Wayoli yang hidup di sekitarnya, sepenuhnya bergantung pada tanah, hutan, dan sumber-sumber air yang diwariskan turun-temurun. Saat proyek proyek panas bumi beroperasi, bukan sekadar proyek Pembangunan. Melainkan upaya perampokan langsung terhadap tanah, air, dan hak warga untuk mempertahankan budaya dan identitas mereka.






Discussion about this post