Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya

Dalam jangka pendek, sebagian orang yang menjalani program diet ini bisa mengalami penurunan berat badan yang cepat, tetapi bukan akibat penurunan lemak yang sehat.

Minggu, 8 Februari 2026
A A
Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.

Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Namun manfaat tersebut harus ditimbang dengan risiko kesehatan yang menyertainya. Risiko terbesar berkaitan dengan kesehatan jantung, ginjal, dan saluran cerna. Konsumsi pangan hewani tanpa sayur dan buah cenderung tinggi lemak jenuh dan kolesterol, yang berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL), terutama pada individu dengan riwayat dislipidemia. Tidak adanya serat juga dapat mengganggu metabolisme lipid.

Di sisi lain, asupan protein yang sangat tinggi dapat meningkatkan beban kerja ginjal, terutama apabila tidak disertai hidrasi yang cukup. Ginjal dipaksa menyaring limbah nitrogen lebih keras, sehingga meningkatkan risiko kerusakan ginjal, hingga gagal ginjal. Apalagi yang sudah memiliki riwayat penyakit ginjal.

Sementara pada saluran cerna, ketiadaan serat dapat menyebabkan konstipasi dan ketidakseimbangan mikrobiota usus. Asupan lemak tinggi juga memicu produksi asam empedu berlebih. Dalam jangka panjang, ini bisa merusak mukosa usus, memicu peradangan kronis, hingga meningkatkan risiko kanker kolorektal. Asam empedu sekunder yang tinggi dapat bertindak sebagai karsinogen bagi sel-sel usus.

Ia juga menyoroti hilangnya produksi asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids (SCFA) seperti butirat akibat tidak adanya serat nabati. Padahal SCFA memiliki efek protektif terhadap kesehatan usus, sistem imun, dan metabolisme tubuh.

Baca juga: Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir

“Risiko-risiko ini sering kali bersifat silent dan kumulatif,” ia mengingatkan.

Alternatif diet aman

Alternatif diet yang lebih aman, Sri Anna merekomendasikan pola makan yang seimbang dan telah terbukti secara ilmiah. Salah satunya adalah Mediterranean diet yang menyeimbangkan protein hewani dan nabati, tinggi serat, serta lemak tak jenuh. Diet ini terbukti menurunkan risiko penyakit tidak menular.

Pilihan lain adalah diet tinggi protein seimbang dengan porsi protein sekitar 20–25 persen energi, tetap mengandung karbohidrat kompleks dan serat. Diet ini lebih berkelanjutan dibandingkan diet ekstrem rendah karbohidrat.

Ia juga menekankan pentingnya menerapkan pola makan gizi seimbang dengan panduan “Isi Piringku” berbasis pangan lokal. Pola ini mudah diterapkan, sesuai budaya makan Indonesia, dan aman untuk populasi luas. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Diet KarnivoraFakultas Ekologi Manusia IPB UniversityIsi PiringkuPola Makan Gizi Seimbang

Editor

Next Post
Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.

Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media