Jumat, 11 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Anggrek Merapi, Beraroma Wangi dan Mampu Bertahan Saat Erupsi

Saat ini sudah ditemukan setidaknya 59 jenis anggrek Merapi yang dilestarikan di Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM).

Selasa, 12 Mei 2026
A A
Salah satu jenis anggrek Merapi. Foto Dok. TNG Merapi.

Salah satu jenis anggrek Merapi. Foto Dok. TNG Merapi.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia memiliki sekitar 5.000 spesies anggrek yang tersebar luas di berbagai wilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga menjadi keunikan spesies anggrek daerah tersebut. Keberagaman ini menempatkan Indonesia menjadi persebaran anggrek terbesar kedua di dunia. Pelestariannya menjadi sangat penting agar tidak mengalami kepunahan.

Salah satu jenis anggrek yang menjadi ikon Yogyakarta adalah anggrek Vanda tricolor. Anggrek dengan kelopak bunga berwarna putih dengan totol-totol coklat kemerahan serta bibir bunga berwarna putih menjadi ciri khasnya. Anggrek yang ditemukan di sekitar lereng Gunung Merapi ini juga mengeluarkan aroma yang sangat wangi pada pagi hari.

Keunikan lainnya, anggrek Vanda tricolor memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap panas.

“Terbukti, saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010, anggrek ini masih ditemukan dan bertahan di habitatnya,” kata Guru Besar Fakultas Biologi UGM, Prof. Endang Semiarti, Senin, 11 Mei 2026.

Hingga saat ini sudah ditemukan setidaknya 59 jenis anggrek Merapi yang dilestarikan di Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Namun, jumlah ini dapat terjadi pengurangan akibat faktor alam maupun faktor manusia seperti bencana alam, perubahan iklim, hingga pembangunan infrastruktur. Penemuan jenis anggrek baru juga dapat tetap terjadi apabila masyarakat atau peneliti melakukan eksplorasi ke hutan.

“Banyak spesies anggrek di hutan-hutan yang belum teridentifikasi jenisnya,” kata dia.

Bagi Endang, salah satu langkah penting dalam konservasi dapat dilakukan dengan pendekatan berbasis masyarakat. Mengajari masyarakat sekitar lereng gunung/hutan untuk melestarikan anggrek dengan membudidayakan di halaman rumah agar mendapatkan suasana seperti habitat aslinya.

“Saya bersama para pecinta anggrek mengedukasi warga sekitar hutan untuk melakukan konservasi mandiri dengan pengilangan dan penaburan biji yang lebih sederhana agar mudah diikuti semua orang,” ucap dia.

Selain menggunakan cara sederhana, konservasi dapat dilakukan oleh para peneliti maupun  akademisi dengan inovasi. Seperti yang dilakukan Endang dan mahasiswa nya dengan melakukan inovasi Kultur In Vitro dari berbagai jenis anggrek yang didapatkannya dari berbagai daerah di Indonesia.

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah memproyeksikan anggrek Vanda tricolor sebagai ikon daerah. Upaya ini dilakukan melalui instruksi penanaman anggrek di seluruh instansi perkantoran di wilayah Yogyakarta.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Anggrek MerapiFakultas Biologi UGMGunung MerapiVanda tricolor

Editor

Next Post
Mengapati dan mendokumentasikan letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 dari jauh. Foto Dok. Mirzam Abdurrachman.

Erupsi Dukono, Pentingnya Pemahaman Risiko dan Peringatan Dini yang Mudah Dipahami

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media