Jumat, 10 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Fedik Abdul Ratam, Tantangan Pembuatan Vaksin Inavac dari Alat hingga Dana

Vaksin Inavac merupakan salah satu vaksin karya anak bangsa yang diproduksi Unair.

Minggu, 8 Januari 2023
A A
Guru Besar FKH Unair, Prof. Fedik Abdul Rantam. Foto bprin.unair.ac.id.

Guru Besar FKH Unair, Prof. Fedik Abdul Rantam. Foto bprin.unair.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Salah satu perjuangan saat pandemi Covid-19 adalah pembuatan Vaksin Merah Putih atau Inavac karya dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair yang digagas Prof. Fedik Abdul Rantam. Ia mengungkap perjuangan panjang untuk memperoleh sampel pengujian vaksin Covid-19 karena membutuhkan 17 tahapan.

“Kerja sama antara Unair dengan PT Biotis itu awalnya mengisolasi 29 virus. Kemudian diseleksi hingga akhirnya didapat satu sampel terbaik,” terang Guru Besar FKH Unair itu dalam talkshow di sela Pameran Arsip Pandemi Covid-19 di Balai Pemuda, Alun-alun Surabaya, 4 Januari 2023.

Untuk mencapai semua tahapan itu bukan tanpa hambatan. Ada kendala peralatan yang harus dioptimalkan terlebih dahulu. Juga pendanaan yang awalnya tidak disokong oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, tapi kemudian didukung Kementerian Kesehatan.

Baca Juga: Memantik Pembangunan Museum Covid-19 Lewat Pameran Arsip Unair

“Meskipun begitu, saya dan tim merasa senang karena presentasi progres kami selalu bagus. Itulah pentingnya excellence with morality, dengan kemampuan yang kami miliki, juga ketulusan kami membantu orang lain akan didapat hasil yang baik dan maksimal,” papar Fedik.

Tidak sedikit pula masyarakat Indonesia yang menentang vaksin karena menganggap tidak akan terinfeksi Covid-19 meskipun tidak vaksin. Fedik pun mengaitkan dengan kasus bertahun-tahun lalu.

“Kami tentu tidak bisa memaksa orang lain, tapi kami bisa melihat dari realitanya saja. Indonesia dulu mengalami penurunan banyak kasus, contohnya influenza juga karena vaksin,” jelas Fedik.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BPOMEUAPameran Arsip Pandemi Covid-19Prof. Fedik Abdul RantamUnairvaksin Inavacvaksin Merah Putih

Editor

Next Post
Guru Besar Farmasi Unair, Prof. Retno Sari. Foto unair.ac.id

Retno Sari, Atasi Panic Buying dengan Hand Sanitizer dari Daun Sirih

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi tanaman sorgum. Foto RJA1988/Pixabay.com.Kerentanan Pangan Akibat El Nino dan Kemarau Panjang 2026: Kekeringan hingga Ancaman Hama
    In IPTEK
    Senin, 29 Juni 2026
  • Penambangan nikel. Foto djkn.kemenkeu.go.id.Walhi: Kemiskinan Indonesia Naik Akibat Ekonomi Dibangun di Atas Kerusakan Lingkungan
    In News
    Minggu, 28 Juni 2026
  • Ilustrasi forest healing. Foto Pexels/Pixabay.com.Healing Forest Tak Bisa Sembarangan, Apa Syaratnya?
    In Traveling
    Minggu, 28 Juni 2026
  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Rob mengepung rumah nelayan di pesisir utara Jawa Tengah. Foto Iven Sumardiyantoro/peneliti independen.Pembangunan Abaikan Krisis Iklim Mengancam Hak Generasi Anak-anak Pesisir
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media