Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Fenomena Blood Moon 7-8 September 2025 adalah Salah Satu yang Terlama

Sejumlah daerah di Asia, Australia, Afrika, dan Eropa menyaksikan fenomena ini pada 7-8 September 2025, kecuali Benua Amerika karena di sana siang hari.

Senin, 8 September 2025
A A
Ilustrasi blood moon. Foto adege/pixabay.com.

Ilustrasi blood moon. Foto adege/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Fenomena astronomi langka berupa Gerhana Bulan Total telah berlangsung di langit Indonesia semalam, antara pergantian waktu 7–8 September 2025. Media sering menyebutnya. Bahkan menurut data ilmiah, fenomena yang berlangsung sekitar 82 menit ini salah satu yang terlama dalam dekade ini.

Gerhana Bulan Total atau Blood Moon (Bulan merah darah) adalah peristiwa astronomi ketika Bumi tepat berada di antara Matahari dan Bulan saat purnama. Bayangan Bumi sepenuhnya menutupi permukaan purnama dan memunculkan rona merah yang dramatis.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Thomas Djamaluddin menjelaskan fenomena Bulan Merah Darah disebabkan pembiasan cahaya Matahari melalui atmosfer Bumi yang menyaring cahaya biru dan memungkinkan gelombang merah yang lebih panjang membias ke bulan.

Baca juga: Janji Menteri Lingkungan Hidup, Fokuskan Anggaran 2026 untuk Kelola Sampah dan Kendalikan Perubahan Iklim

“Alih-alih menjadi gelap saat GBT, purnama berubah warna jadi memerah,” jelas Thomas.

Akhirnya, hanya cahaya merah yang mencapai Bulan. Sebab warna lain telah dihamburkan oleh atmosfer Bumi.

Gerhana ini dapat disaksikan secara langsung dari seluruh wilayah Indonesia, sehingga menjadikannya kesempatan sempurna untuk mengamati langit malam tanpa alat khusus.

Baca juga: Geopark Kaldera Toba Kembali Menerima Status Green Card

Fenomena ini pun mudah diamati di Indonesia. Gerhana ini bisa terlihat tanpa bantuan alat, hanya dengan mata telanjang sudah bisa menikmatinya.

“Tentu saja bila ada teleskop dan kamera akan lebih baik lagi untuk mengabadikannya,” ujar dia.

Fenomena GBT ini terbagi menjadi beberapa fase. Meliputi fase penumbral (bayangan lembut yang tidak tampak jelas), gerhana sebagian, dan gerhana total, lalu kembali ke fase gerhana sebagian dan penumbral. Setiap tahapan menawarkan nuansa visual yang berbeda dan sangat memukau bagi pengamat langit.

Baca juga: Dua Pekan Siaga, Status Gunung Lewotobi Laki-Laki Naik Lagi Menjadi Awas

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: blood moonBMKGBRINgerhana bulan total

Editor

Next Post
Lokasi korservasi badak Jawa di Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Foto Dok. Kementerian Kehutanan.

Penyelamatan Badak Jawa-Sumatera Tak Hanya Konservasi Kawasan, Juga Konservasi Genetik

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media