Hujan yang masih turun tidak serta-merta menandakan prediksi keliru. Indikasi menuju kemarau panjang tetap terlihat berdasarkan tren (kecenderungan) suhu muka laut yang meningkat di Samudera Pasifik.
Kondisi tersebut menjadi sinyal awal berkembangnya fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan di Indonesia pada saat musim penghujan. Bahkan, berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang.
“Diprediksi demikian, dengan durasi sekitar enam bulan,” imbuh dia.
Sonni juga mengungkapkan, awal musim kemarau berpotensi datang lebih cepat dari biasanya, khususnya di wilayah Pulau Jawa yang umumnya memasuki kemarau pada Juli. Percepatan ini berkaitan adanya kenaikan suhu muka laut di Pasifik Tengah dan Timur yang menyebabkan berkurangnya pembentukan awan di Indonesia.
“Kenaikan suhu muka laut ini berdampak pada pengurangan formasi awan-awan di Indonesia,” jelas dia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa El Nino dan La Nina merupakan produk fenomena interaksi laut-atmosfer dalam skala besar yang menyebabkan ada pergeseran Sirkulasi Walker di atmosfer tropis. Periodisitas kejadian El-Nino dan La Nina ini sekitar 4 sampai 5 tahun sekali.
“Sirkulasi Walker adalah sirkulasi arah barat–timur, di mana udara naik di atas benua dan turun di atas samudera,” terang di.
Terkait istilah “Godzilla El Nino” yang ramai diperbincangkan, Sonni menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada kategori Super El Nino dengan intensitas sangat relatif kuat terhadap kejadian El Nino biasanya.
El Nino Godzilla mengacu pada Super El Nino, yakni saat suhu muka laut di Pasifik bisa naik sekitar 2,5 derajat Celcius, bahkan lebih di atas kenaikan suhu muka laut pada kejadian El Nino biasa.
“Biasanya, Godzilla El Nino berlangsung rata-rata selama satu tahunan,” ungkap dia
Fenomena ini pernah terjadi pada tahun 1982, 1997, dan 2015 dengan dampak besar secara global seperti kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan. Namun ia menilai kondisi saat ini masih berada pada kategori lemah hingga moderat.
“Jujur saja, kekuatannya masih lemah ke moderat,” kata dia.
Dalam analisisnya, ia juga mengaitkan potensi Super El Nino (Godzilla El Nino) dengan aktivitas sunspot atau bintik hitam pada matahari. Berdasarkan data sunspot dan data curah hujan di 72 stasiun di Pulau Jawa selama 35 tahun menunjukkan intensitas El Nino dapat diperkuat sunspot.
Kemudian berdasarkan data sunspot dan data Nino 3.4 menunjukkan Godzilla El Nino selalu terjadi setelah sunspot maksimum. Sunspot maksimum tahun 2025 berpotensi diikuti El Nino kuat pada 2026.
Meski begitu, ia menekankan kajian ini masih memerlukan data jangka panjang dan ruang yang lebih luas agar penjelasan ilmiahnya semakin kuat. Masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi dan memahami bahwa kondisi cuaca saat ini merupakan bagian dari proses transisi musim yang kompleks. [WLC02]
Sumber: BMKG, IPB University







Discussion about this post