Sabtu, 3 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Husin Alatas: Fenomena Aphelion Bukan Penyebab Batuk Pilek

Pemanasan global disinyalir menjadi penyebab cuaca ekstrim sehingga memicu kemunculan berbagai penyakit. Bukan disebabkan fenomena Aphelion.

Selasa, 1 Maret 2022
A A
Prof. Husin Alatas. Foto ipb.ac.id.

Prof. Husin Alatas. Foto ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

“Secara fisik sulit untuk merasakan efek dari posisi Aphelion dan Perihelion, mengingat penyimpangan intensitas energi matahari yang sampai ke bumi dibanding dengan rata-rata tahunan hanya berkisar 3.5 persen saja,” imbuh Husin.

Baca Juga: Muhammad Buce Saleh: Luas Tutupan Hutan Terus Menurun Sejak 1990-2020

Aphelion dan Perihelion merupakan dinamika rutin alam yang terkait dengan orbit bumi yang berbentuk eliptik. Sehingga tidak perlu diposisikan sebagai sebuah fenomena yang berdampak negatif bagi kesehatan yang dapat dimunculkan pada dinamika cuaca. Kedua posisi istimewa bumi tersebut secara praktis berdampak relatif kecil dibanding dengan kondisi rata-rata, sehingga kecil peluangnya untuk menimbulkan kondisi perubahan cuaca yang ekstrim.

“Menghindari hoaks terkait fenomena alam yang dikaitkan dengan kondisi buruk tertentu perlu dilakukan dengan mengupayakan sikap kritis dan skeptis. Dan bersandar pada sains yang benar dan bukan pada pseudo-sains,” kata Husin. [WLC02]

Sumber: ipb.ac.id, 24 Februari 2022

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Aphelion dan PerhelionCuaca Ekstremfenomena AphelionIPB Universitypemanasan globalperihelion

Editor

Next Post
Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Foto wanaloka.com.

Mengenang Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta Lewat Relief

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media