Kamis, 29 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Gayatri Marliyani: Gempa Bumi di Laut Mindanao Umum Terjadi

Gempa di Mindanao menjadi pengingat bagi Indonesia yang sama-sama berada di kawasan Cincin Api Pasifik, di mana Asia Tenggara berada di lingkungan tektonik aktif.

Jumat, 12 Juni 2026
A A
Dosen Geologi Fakultas Teknik UGM, Gayatri Indah Marliyani. Foto Kagama.co

Dosen Geologi Fakultas Teknik UGM, Gayatri Indah Marliyani. Foto Kagama.co

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Mindanao, Filipina, pada 8 Juni 2026 merupakan salah satu jenis gempa yang umum terjadi di kawasan pertemuan lempeng tektonik, seperti Filipina dan Indonesia. Di wilayah Laut Mindanao terdapat zona subduksi, yakni daerah tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya.

“Proses penunjaman ini berlangsung sangat lambat, hanya beberapa sentimeter per tahun, tetapi energi terus terakumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun,” jelas Dosen Geologi Fakultas Teknik UGM, Gayatri Indah Marliyani, Kamis, 11 Juni 2026.

Hubungan antara tegangan dan gempa bumi bisa terjadi. Jika tegangan yang tersimpan telah melebihi kekuatan batuan, maka bidang patahan akan patah dan bergerak secara tiba-tiba sehingga menghasilkan gempa bumi. Pada mekanisme sesar naik, salah satu blok batuan terdorong terhadap blok lainnya akibat gaya kompresi.

Gayatri memberi catatan. Jika pergerakan tersebut terjadi di bawah laut, sehingga menyebabkan pengangkatan atau penurunan dasar laut secara tiba-tiba, maka kolom air di atasnya turut terdorong sehingga dapat membangkitkan gelombang tsunami.

“Kombinasi antara magnitudo besar, sumber gempa di laut, kedalaman relatif dangkal, dan mekanisme sesar naik merupakan kondisi yang perlu diwaspadai terhadap potensi tsunami,” ungkap dia.

Penyebab utama gempa di Laut Mindanao tersebut adalah aktivitas tektonik di zona subduksi Laut Mindanao. Sekaligus menjadi pengingat, bahwa kawasan Asia Tenggara berada di lingkungan tektonik yang sangat aktif. Gempa yang berpotensi memicu tsunami hingga sejumlah wilayah Indonesia ini terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).

Sumber gempa bukan berasal dari satu patahan darat yang memanjang hingga Sulawesi, melainkan akibat pergerakan lempeng tektonik yang memang aktif di kawasan tersebut. Ia menjelaskan getaran dapat dirasakan hingga Sulawesi karena energi gelombang seismik dari gempa besar mampu menjalar ratusan hingga ribuan kilometer dari sumbernya.

“Semakin besar magnitudo gempa, semakin luas wilayah yang dapat merasakan guncangannya,” ujar dia.

Lokasi episenter dan kedalaman gempa memiliki peran penting dalam menentukan potensi tsunami. Sebab, gempa yang terjadi di bawah laut memiliki peluang lebih besar membangkitkan tsunami dibandingkan gempa di daratan. Namun, magnitudo tidak cukup untuk menentukan ada atau tidaknya tsunami karena mekanisme patahan dan besarnya perubahan dasar laut juga menjadi faktor penentu.

Gayatri menilai kejadian gempa di Mindanao menjadi pengingat bagi Indonesia yang sama-sama berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Ia menekankan Indonesia memiliki banyak sumber gempa besar, baik yang berasal dari zona subduksi di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi maupun dari sesar-sesar aktif di daratan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: FilipinaGayatri Indah MarliyaniGempa bumiJurusan Geologi Fakultas Teknik UGMLaut Mindanao

Editor

Next Post
Sidang gugatan intervensi Walhi atas kasus gugatan KLH melawan PT TPL di PN Medan, 10 Juni 2026. Foto Dok. Walhi.

Gugatan Intervensi Walhi, PT TPL Harus Pulihkan 29.939 Ha Kawasan Terdampak Senilai Rp2,6 Triliun

Discussion about this post

TERKINI

  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media