Minggu, 12 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Meutia Ismet: Tambang Nikel Teluk Buli Ancam Ekosistem Laut hingga Kesehatan

Pemulihan lingkungan harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir dengan mengatasi sumber masalah di daratan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh ekosistem maupun masyarakat.

Sabtu, 13 Juni 2026
A A
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet. Foto itk.ipb.ac.id.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet. Foto itk.ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Aktivitas pertambangan nikel yang berkembang pesat di wilayah pesisir, termasuk di kawasan Teluk Buli di Kabupaten Halmahera Timur, belakangan ini yang menjadi perhatian publik akibat perubahan kondisi perairan, perlu dikelola lebih hati-hati.

Menurut Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet, dampak pertambangan wilayah pesisir tidak hanya berpotensi mengganggu ekosistem laut. Melainkan juga memengaruhi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi pesisir dalam jangka panjang.

Meutia menjelaskan, salah satu dampak paling mudah diamati adalah peningkatan kekeruhan dan perubahan warna di perairan akibat masuknya sedimentasi dari daratan ke laut. Pembukaan lahan tambang membuat lapisan permukaan tanah menjadi tidak stabil sehingga mudah terbawa air hujan menuju perairan pesisir.

Masuknya material padatan tersuspensi dalam jumlah yang besar dapat menurunkan kualitas perairan. Kekeruhan yang meningkat akan menghambat masuknya cahaya matahari ke kolom perairan, sehingga mengganggu proses fotosintesis berbagai organisme laut fotosintesis.

“Juga menurunkan konsentrasi oksigen perairan akibat meningkatnya bahan organik dari daratan yang terdekomposisi,” jelas Meutia.

Peningkatan sedimentasi di perairan juga dapat mengancam keberlangsungan ekosistem terumbu karang. Sedimentasi yang menutupi permukaan karang akan mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan alga simbion untuk berfotosintesis.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan stres pada terumbu karang yang memicu pemutihan (coral bleaching), hingga kematian,” jelas dia.

Kerusakan terumbu karang tidak hanya berdampak pada satu jenis organisme. Berbagai biota laut yang menjadikan terumbu karang sebagai habitat, tempat mencari makan, dan lokasi pemijahan akan kehilangan ruang hidupnya. Dampak serupa juga berpotensi terjadi pada ekosistem lamun dan mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB UniversityKabupaten Halmahera TimurMeutia Samira Ismettambang nikelTeluk Buliterumbu karang

Editor

Next Post
Ilustrasi pembela HAM dan lingkungan. Foto Nickype/AI Generatde/Pixabay.com.

Draf Hak Alam dan Perlindungan Pembela Lingkungan Lemah, Walhi Minta Revisi UU HAM Ditunda

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi bocah minum air karena kepanasan. Foto Pezibear/Pixabay.com.Kesadaran Masyarakat atas Heatstroke dan Heat Stress Rendah, Ini Alasannya
    In IPTEK
    Jumat, 10 Juli 2026
  • Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.Alarm Dua Kematian Bulan Juni, Heatstroke dan Heat Stress Belum Jadi Perhatian 
    In IPTEK
    Kamis, 9 Juli 2026
  • Ilustrasi tanaman sorgum. Foto RJA1988/Pixabay.com.Kerentanan Pangan Akibat El Nino dan Kemarau Panjang 2026: Kekeringan hingga Ancaman Hama
    In IPTEK
    Senin, 29 Juni 2026
  • Penambangan nikel. Foto djkn.kemenkeu.go.id.Walhi: Kemiskinan Indonesia Naik Akibat Ekonomi Dibangun di Atas Kerusakan Lingkungan
    In News
    Minggu, 28 Juni 2026
  • Ilustrasi forest healing. Foto Pexels/Pixabay.com.Healing Forest Tak Bisa Sembarangan, Apa Syaratnya?
    In Traveling
    Minggu, 28 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media