Wanaloka.com – Aktivitas pertambangan nikel yang berkembang pesat di wilayah pesisir, termasuk di kawasan Teluk Buli di Kabupaten Halmahera Timur, belakangan ini yang menjadi perhatian publik akibat perubahan kondisi perairan, perlu dikelola lebih hati-hati.
Menurut Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet, dampak pertambangan wilayah pesisir tidak hanya berpotensi mengganggu ekosistem laut. Melainkan juga memengaruhi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi pesisir dalam jangka panjang.
Meutia menjelaskan, salah satu dampak paling mudah diamati adalah peningkatan kekeruhan dan perubahan warna di perairan akibat masuknya sedimentasi dari daratan ke laut. Pembukaan lahan tambang membuat lapisan permukaan tanah menjadi tidak stabil sehingga mudah terbawa air hujan menuju perairan pesisir.
Masuknya material padatan tersuspensi dalam jumlah yang besar dapat menurunkan kualitas perairan. Kekeruhan yang meningkat akan menghambat masuknya cahaya matahari ke kolom perairan, sehingga mengganggu proses fotosintesis berbagai organisme laut fotosintesis.
“Juga menurunkan konsentrasi oksigen perairan akibat meningkatnya bahan organik dari daratan yang terdekomposisi,” jelas Meutia.
Peningkatan sedimentasi di perairan juga dapat mengancam keberlangsungan ekosistem terumbu karang. Sedimentasi yang menutupi permukaan karang akan mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan alga simbion untuk berfotosintesis.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan stres pada terumbu karang yang memicu pemutihan (coral bleaching), hingga kematian,” jelas dia.
Kerusakan terumbu karang tidak hanya berdampak pada satu jenis organisme. Berbagai biota laut yang menjadikan terumbu karang sebagai habitat, tempat mencari makan, dan lokasi pemijahan akan kehilangan ruang hidupnya. Dampak serupa juga berpotensi terjadi pada ekosistem lamun dan mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir.






Discussion about this post