Kamis, 29 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Meutia Ismet: Tambang Nikel Teluk Buli Ancam Ekosistem Laut hingga Kesehatan

Pemulihan lingkungan harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir dengan mengatasi sumber masalah di daratan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh ekosistem maupun masyarakat.

Sabtu, 13 Juni 2026
A A
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet. Foto itk.ipb.ac.id.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet. Foto itk.ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Aktivitas pertambangan nikel yang berkembang pesat di wilayah pesisir, termasuk di kawasan Teluk Buli di Kabupaten Halmahera Timur, belakangan ini yang menjadi perhatian publik akibat perubahan kondisi perairan, perlu dikelola lebih hati-hati.

Menurut Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet, dampak pertambangan wilayah pesisir tidak hanya berpotensi mengganggu ekosistem laut. Melainkan juga memengaruhi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi pesisir dalam jangka panjang.

Meutia menjelaskan, salah satu dampak paling mudah diamati adalah peningkatan kekeruhan dan perubahan warna di perairan akibat masuknya sedimentasi dari daratan ke laut. Pembukaan lahan tambang membuat lapisan permukaan tanah menjadi tidak stabil sehingga mudah terbawa air hujan menuju perairan pesisir.

Masuknya material padatan tersuspensi dalam jumlah yang besar dapat menurunkan kualitas perairan. Kekeruhan yang meningkat akan menghambat masuknya cahaya matahari ke kolom perairan, sehingga mengganggu proses fotosintesis berbagai organisme laut fotosintesis.

“Juga menurunkan konsentrasi oksigen perairan akibat meningkatnya bahan organik dari daratan yang terdekomposisi,” jelas Meutia.

Peningkatan sedimentasi di perairan juga dapat mengancam keberlangsungan ekosistem terumbu karang. Sedimentasi yang menutupi permukaan karang akan mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan alga simbion untuk berfotosintesis.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan stres pada terumbu karang yang memicu pemutihan (coral bleaching), hingga kematian,” jelas dia.

Kerusakan terumbu karang tidak hanya berdampak pada satu jenis organisme. Berbagai biota laut yang menjadikan terumbu karang sebagai habitat, tempat mencari makan, dan lokasi pemijahan akan kehilangan ruang hidupnya. Dampak serupa juga berpotensi terjadi pada ekosistem lamun dan mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB UniversityKabupaten Halmahera TimurMeutia Samira Ismettambang nikelTeluk Buliterumbu karang

Editor

Next Post
Ilustrasi pembela HAM dan lingkungan. Foto Nickype/AI Generatde/Pixabay.com.

Draf Hak Alam dan Perlindungan Pembela Lingkungan Lemah, Walhi Minta Revisi UU HAM Ditunda

Discussion about this post

TERKINI

  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media