Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Hutan, Penjaga Keseimbangan Air untuk Atasi Krisis Iklim

Sabtu, 15 Maret 2025
A A
Ilustrasi lahan gambut. Foto Dok. Cifor.

Ilustrasi lahan gambut. Foto Dok. Cifor.

Share on FacebookShare on Twitter

“Seperti yang telah diketahui, kebakaran lahan gambut menyebabkan kabut asap,” kata dia.

Api atau kebakaran lahan gambut tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum terjadinya kebakaran, didahului dengan berkurangnya level air tanah di area lahan gambut. Dari hasil pengukuran level air, terlihat bahwa air tanah di area lahan gambut menurun dari tahun ke tahun.

Baca juga: Puncak Kemarau 2025 Diprediksi Juni-Agustus, Tak Sekering 2023

“Jika level air di lahan gambut menurun, maka akan menyebabkan sistem yang tidak stabil di area gambut. Inilah yang kemudian menyebabkan banjir di satu waktu dan kekeringan di waktu yang lain,” jelas Sulaiman.

Kondisi ini sebenarnya masih dapat diperbaiki. Hutan hujan dapat menjaga ketersediaan air tanah. Hutan menyebabkan terjadinya flying river yang membawa water vapor (uap air). Uap air ini yang akan menjaga distribusi turunnya hujan. Deforestasi akan mengganggu proses natural terjadinya flying river tersebut sehingga mengakibatkan perubahan pola hujan dan kekeringan.

Webinar Integrated Water Resource Management (IWRM) to Adapt to Climate Change merupakan kerja sama antara Komite Nasional Indonesia untuk Program IHP Unesco dan Indonesia Regional Training Centre (INA-RTC) of World Meteorological Organization.

Baca juga: Tambang Ilegal Asal Kanada Nekad Beroperasi, Warga Sangihe Tuntut Penegakan Hukum

Dalam webinar ini, Chief of Natural Sciences Unit, UNESCO Regional Office in Jakarta, Engin Koncagul, mengatakan bahwa air tanah perlu sistem pengelolaan yang baik. Penurunan level air tanah akibat eksploitasi berlebihan adalah ancaman besar bagi dunia. Padahal, ekosistem Bumi banyak yang bergantung pada air tanah.

Direktur Bina Teknik Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Muhammad Rizal menambahkan, perubahan iklim menjadi tantangan bagi sumber daya air di Indonesia. Perubahan pola hujan membuat permasalahan seperti terlalu sedikit hujan akan menyebabkan kekeringan, sementara terlalu banyak hujan akan menyebabkan banjir. Dengan demikian diperlukan pengelolaan sumber daya air untuk memperbaiki ketahanan air di Indonesia. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINHutanhutan gambutKrisis Iklimperubahan iklim

Editor

Next Post
Ketua PP Muhammadiyah M. Busyro Muqoddas menyalurkan bantuan untuk warga Wadas terdampak PSN, 15 Maret 2025. Foto Dok. Muhammadiyah.

Muhammadiyah Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Warga Wadas Terdampak PSN

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media