Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

IKN Mereplikasi Konsep Rehabilitasi Lahan Kritis Hutan Wanagama di Gunungkidul

Hutan ini diharapkan menjadi model restorasi hutan hujan tropis dalam mengatur hidrologi dan iklim mikro di IKN serta konservasi jenis-jenis tanaman asli (native species) hutan hujan tropis dari kepunahan masa mendatang.

Jumat, 13 September 2024
A A
Pencanangan Wanagama Nusantara di IKN, 13 September 2024. Foto PPID KLHK.

Pencanangan Wanagama Nusantara di IKN, 13 September 2024. Foto PPID KLHK.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanagama Nusantara diharapkan akan menjadi window of the tropical world yang merepresentasikan komitmen global Indonesia dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta mencerminkan pengetahuan lokal Indonesia.

Tujuan pengembangan Wanagama Nusantara adalah untuk mengembangkan ekosistem restorasi hutan hujan tropis. Juga mengembangkan research hub dalam menjawab tantangan global di bidang kesehatan tropis, biodiversitas/restorasi, energi terbaharukan, instruktur hijau dan tata kelola kebijakan.

Baca Juga: Kaya Ragam Bebatuan, Bangka Belitung Punya Potensi Geowisata

Sementara prinsip pengembangan Wanagama Nusantara ada empat,meliputi windows of the world; tata kelola yang inklusif; restorasi biodiversitas untuk pengembangan biomedicine dan etnofarmasi; serta pembangunan mengedepankan aspek kesehatan dan kesejahteraan.

Program utama pertama Wanagama Nusantara terbagi menjadi tiga, yaitu Pengembangan zonasi hutan pendidikan; Pengembangan Institute for Future Life; dan Restorasi, Reforestasi dan Enrichment Planting. Untuk pengembangan zonasi pendidikan, Wanagama Nusantara terdiri dari delapan zonasi yaitu Zona Konservasi, Zona Healing Forest, Zona Ecotourism, Zona Agro Forestry, Zona Eco Edu Forestry, Zona Herbal Medicine, Zona Miniature Hutan Hujan Tropis, dan Zona hutan global.

Kemudian, dua embung akan dibangun sebagai sumber air bersih. Sistem tata kelola air yang inovatif akan diterapkan di kawasan ini. Embung yang dibangun tidak hanya menyimpan air, tetapi airnya dapat dikelola menjadi air minum dengan mengadaptasi pengelolaan air Toyagama.

Baca Juga: Happy Ferdiansyah, Stop Pelihara Burung Liar!

Selain itu, Wanagama Nusantara juga memanfaatkan air hujan melalui teknologi Gama Rain Filter. Teknologi ini mengubah air hujan menjadi air serbaguna hingga air minum serta membantu mengalirkan air limpasan menjadi air tanah.

Program utama kedua adalah pembangunan Institute of Future Life (IFL). IFL sebagai salah satu fasilitas pendidikan dan penelitian dengan konsep pusat riset multidisiplin yang terintegrasi dengan konsep smart dan green building. IFL juga akan menjadi rumah bagi pengembangan hub riset internasional.

Terdapat tiga agenda besar yang akan dijalankan di IFL, yaitu Pembangunan infrastruktur; pengembangan agenda riset dan advokasi yang berfokus pada isu sustainability dan climate adaptation, biodiversity dan biomedicine, health dan longevity, smart dan inclusive city; serta sustainable micro-climate monitoring system.

Baca Juga: Dataran Dieng Diusulkan Jadi Taman Bumi Nasional untuk Mempelajari Panas Bumi

Sustainable micro-climate monitoring system menjadi bagian dari pengembangan kawasan Wanagama Nusantara. Sistem ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan standar parameter iklim yang krusial dalam menjaga kondisi iklim mikro yang ideal dan berkelanjutan di IKN serta dapat berperan dalam mitigasi kebakaran hutan.

Program utama ketiga adalah Restorasi, Reforestasi dan Enrichment Planting. Restorasi dan reforestasi menjadi bentuk kontribusi Ibu Kota Nusantara pada tujuan perubahan iklim global dengan berperan sebagai penyerap karbon, mengendalikan kawasan terbangun untuk meminimalkan emisi, dan berupaya menjadi netral karbon pada tahun 2045. Wanagama Nusantara diharapkan dapat menjadi model pengembalian fungsi hutan tropis.

Baca Juga: Penelitian BRIN, Vaksin Mpox Terbatas sehingga Pakai Vaksin Cacar karena Mirip

Saat ini, hutan di Wanagama didominasi tanaman eukaliptus. Dengan program enrichment planting, kawasan ini akan lebih beragam dengan penanaman tanaman endemik Kalimantan seperti tengkawang, meranti merah, dan ulin. Penyebaran bibit dan pemantauan pertumbuhan tanaman dilakukan dengan memanfaatkan teknologi kendaraan udara tak berawak. Dengan demikian dapat berpartisipasi menciptakan keanegaragaman hayati.

Pengembangan kawasan Wanagama Nusantara diharapkan mampu menjadi pusat pendidikan dan penelitian lintas disiplin ilmu yang dapat berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati, sejalan dengan visi Indonesia untuk membangun kota yang cerdas, hijau, dan ramah lingkungan. [WLC02]

Sumber: PPID KLHK, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: forest cityhutan tropisIKNrehabilitasi lahan kritisWanagama Nusantara

Editor

Next Post
Tongkang pengangkut batubara di perairan Sungai Mahakam. Foto Dok Wanaloka.com.

Indonesia Rentan Perubahan Iklim, Pemerintah Masih Gunakan Batu Bara

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media