Selasa, 28 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Indonesia Desak Negara Maju Mendanai Pelestarian Keanekaragaman Hayati Dunia

Keanekaragaman hayati banyak terdapat di negara-negara berkembang dan negara-negara maju turut memanfaatkan. Indonesia menagih komitmen negara maju untuk bertanggung jawab mendanai pelestariannya.

Rabu, 21 Desember 2022
A A
Wamen LHK Alue Dohong (kanan) dalam COP-15 CBD di Montreal, Kanada pada 7-19 Desember 2022.Foto ppid.menlhk.go.id

Wamen LHK Alue Dohong (kiri) dalam COP-15 CBD di Montreal, Kanada pada 7-19 Desember 2022.Foto ppid.menlhk.go.id

Share on FacebookShare on Twitter

Alue Dohong juga menyatakan dukungannya atas posisi 70 negara berkembang lain yang tergabung dalam Like-Minded Countries (LMCs) untuk meminta COP-15 membentuk Global Biodiversity Fund untuk mengurangi gap pembiayaan dalam mengimplementasikan GBF.

Selama ini, Indonesia menerima bantuan kerja sama dalam pelaksanaan konservasi melalui Global Environment Facility (GEF). Namun besaran kontribusi GEF dalam pembiayaan nasional untuk konservasi masih sangat minim, yakni hanya 0,7 persen dari total kebutuhan pendanaan nasional untuk konservasi.

“Indonesia meminta komitmen lebih kuat dari negara-negara maju untuk meningkatkan kontribusi ke GEF secara signifikan, selagi negara-negara berkembang mencari alternatif funding melalui Global Biodiversity Fund,” ujar Alue Dohong.

Baca Juga: Analisis BMKG Gempa Mag5,3 Pesisir Barat Lampung

Secara nasional, lanjut Alue, Indonesia telah berhasil mencapai berbagai target konservasi dalam GBF. Indonesia juga mendukung penuh penyusunan GBF yang ambisius, tetapi pragmatis.

“Kita semua harus memahami tidak semua negara memiliki kapasitas dan kemampuan yang sama. Tidak semua negara memiliki keahlian, teknologi, maupun kemampuan finansial yang dapat disandingkan dengan negara maju. Indonesia mendukung penuh penerapan CBDR melalui voluntary commitment yang menghormati penuh kondisi, prioritas, dan kapabilitas tiap-tiap negara,” tegas Alue Dohong pada sesi penutupan Sidang COP-15.

Hingga 2020, lebih dari 54 persen kawasan hutan sudah merupakan kawasan lindung. Sedangkan sekitar 8,7 persen kawasan penting laut sudah dilindungi secara hukum. Pemerintah Indonesia berencana menambah luasan kawasan lindung laut mencapai 32,5 juta hektare pada 2030 dan secara bertahap akan ditingkatkan menjadi 30 persen pada 2045.

Baca Juga: Populasi Badak Jawa di TNUK Bertambah, Menteri Siti Beri Nama LordZac

Di sela-sela sidang COP-15, Alue Dohong beserta delegasi juga melakukan berbagai pertemuan bilateral dengan menteri dan pejabat tinggi sejumlah negara, yaitu Kanada, Australia, Inggris, Jerman, dan Belanda.

Alue Dohong juga bertemu dengan perwakilan dari Institute Dayakologi. Dalam pertemuan tersebut, ia memberikan pemahaman mengenai posisi Indonesia yang memprioritaskan hasil COP-15 yang adil dan berkelanjutan serta mengakui CBDR. Serta meminta kontribusi nyata dari negara maju untuk meningkatkan komitmen pendanaan, transfer teknologi dan peningkatan kapasitas bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. [WLC02]

Sumber: Kementerian LHK

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: COP-15 CBDKerangka Keanekaragaman Hayati GlobalKonfensi Keanekaragaman HayatiKonferensi Para Pihak ke-15negara berkembangnegara majuWamen LHK Alue Dohong

Editor

Next Post
Acara peluncuran program 100 Paket Wisata Nusantara untuk menyambut libur Nataru. Foto kemenparekraf.go.id

Libur Nataru, Kemenparekraf Luncurkan 100 'Pak Wisnu'

Discussion about this post

TERKINI

  • Penampakan permukaan peraran Danau Toba di Sumatra Utara. Foto Thiadon/Pixabay.com.Penurunan Muka Air Danau Toba Pasca 1984 Ekstrem, Mengapa?
    In Rehat
    Rabu, 22 Juli 2026
  • Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.Proyek PSEL Yogyakarta Ditunda, Mengapa Konsorsium Pemenang Tender Sudah Diumumkan?
    In News
    Selasa, 21 Juli 2026
  • Ilustrasi regenerasi pohon. Foto Agnieszka/Pixabay.com.Mekanisme Regenerasi Pohon dan Nilai Spiritual Ekologis dalam Al-Qur’an
    In IPTEK
    Senin, 20 Juli 2026
  • Kebakaran di TPA Benowo di Surabaya, 19 Juli 2026. Foto Dok. DKPKP Surabaya.TPA Benowo Terbakar, Risiko Sistem Pemrosesan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 20 Juli 2026
  • Mengenal orangutan tapanuli. Foto Dok PPID Kemenlhk.Survei Terbaru Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Jadi Pijakan Kebijakan Konservasi
    In News
    Sabtu, 18 Juli 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media