Rabu, 28 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Indonesia Desak Negara Maju Mendanai Pelestarian Keanekaragaman Hayati Dunia

Keanekaragaman hayati banyak terdapat di negara-negara berkembang dan negara-negara maju turut memanfaatkan. Indonesia menagih komitmen negara maju untuk bertanggung jawab mendanai pelestariannya.

Rabu, 21 Desember 2022
A A
Wamen LHK Alue Dohong (kanan) dalam COP-15 CBD di Montreal, Kanada pada 7-19 Desember 2022.Foto ppid.menlhk.go.id

Wamen LHK Alue Dohong (kiri) dalam COP-15 CBD di Montreal, Kanada pada 7-19 Desember 2022.Foto ppid.menlhk.go.id

Share on FacebookShare on Twitter

Alue Dohong juga menyatakan dukungannya atas posisi 70 negara berkembang lain yang tergabung dalam Like-Minded Countries (LMCs) untuk meminta COP-15 membentuk Global Biodiversity Fund untuk mengurangi gap pembiayaan dalam mengimplementasikan GBF.

Selama ini, Indonesia menerima bantuan kerja sama dalam pelaksanaan konservasi melalui Global Environment Facility (GEF). Namun besaran kontribusi GEF dalam pembiayaan nasional untuk konservasi masih sangat minim, yakni hanya 0,7 persen dari total kebutuhan pendanaan nasional untuk konservasi.

“Indonesia meminta komitmen lebih kuat dari negara-negara maju untuk meningkatkan kontribusi ke GEF secara signifikan, selagi negara-negara berkembang mencari alternatif funding melalui Global Biodiversity Fund,” ujar Alue Dohong.

Baca Juga: Analisis BMKG Gempa Mag5,3 Pesisir Barat Lampung

Secara nasional, lanjut Alue, Indonesia telah berhasil mencapai berbagai target konservasi dalam GBF. Indonesia juga mendukung penuh penyusunan GBF yang ambisius, tetapi pragmatis.

“Kita semua harus memahami tidak semua negara memiliki kapasitas dan kemampuan yang sama. Tidak semua negara memiliki keahlian, teknologi, maupun kemampuan finansial yang dapat disandingkan dengan negara maju. Indonesia mendukung penuh penerapan CBDR melalui voluntary commitment yang menghormati penuh kondisi, prioritas, dan kapabilitas tiap-tiap negara,” tegas Alue Dohong pada sesi penutupan Sidang COP-15.

Hingga 2020, lebih dari 54 persen kawasan hutan sudah merupakan kawasan lindung. Sedangkan sekitar 8,7 persen kawasan penting laut sudah dilindungi secara hukum. Pemerintah Indonesia berencana menambah luasan kawasan lindung laut mencapai 32,5 juta hektare pada 2030 dan secara bertahap akan ditingkatkan menjadi 30 persen pada 2045.

Baca Juga: Populasi Badak Jawa di TNUK Bertambah, Menteri Siti Beri Nama LordZac

Di sela-sela sidang COP-15, Alue Dohong beserta delegasi juga melakukan berbagai pertemuan bilateral dengan menteri dan pejabat tinggi sejumlah negara, yaitu Kanada, Australia, Inggris, Jerman, dan Belanda.

Alue Dohong juga bertemu dengan perwakilan dari Institute Dayakologi. Dalam pertemuan tersebut, ia memberikan pemahaman mengenai posisi Indonesia yang memprioritaskan hasil COP-15 yang adil dan berkelanjutan serta mengakui CBDR. Serta meminta kontribusi nyata dari negara maju untuk meningkatkan komitmen pendanaan, transfer teknologi dan peningkatan kapasitas bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. [WLC02]

Sumber: Kementerian LHK

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: COP-15 CBDKerangka Keanekaragaman Hayati GlobalKonfensi Keanekaragaman HayatiKonferensi Para Pihak ke-15negara berkembangnegara majuWamen LHK Alue Dohong

Editor

Next Post
Acara peluncuran program 100 Paket Wisata Nusantara untuk menyambut libur Nataru. Foto kemenparekraf.go.id

Libur Nataru, Kemenparekraf Luncurkan 100 'Pak Wisnu'

Discussion about this post

TERKINI

  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media