Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Irwan Meilano: Gempa Ishikawa Bukan Terkuat di Jepang, Tapi Picu Tsunami

Jepang disebut negara yang sering mengalami gempa. Kekuatan gempa di setiap wilayah berbeda.

Rabu, 3 Januari 2024
A A
Pakar gempa ITB, Prof. Irwan Meilano. Foto Dok.ITB.

Pakar gempa ITB, Prof. rwan Meilano. Foto Dok.ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pakar gempa Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Irwan Meilano menyatakan, sumber gempa di pantai timur Jepang lebih berbahaya karena kekuatannya dapat mencapai 8 skala ricther. Namun, gempa di pantai barat pun, seperti yang terjadi di Prefektur Ishikawa, Jepang pada 1 Januari 2024, memiliki potensi gempa yang cukup signifikan, meskipun tidak sebesar di pantai timur.

“Gempa di wilayah pantai barat Jepang tidak sebesar pantai timur. Namun bisa menghasilkan tsunami dan goncangannya lebih kuat karena lebih dekat dengan garis pantai,” ujar Irwan pada 2 Januari 2024.

Dalam konteks gempa di Jepang, gempa awal tahun 2024 tersebut bukan gempa terkuat yang terjadi di negara tersebut. Namun termasuk gempa terkuat untuk wilayah pantai barat. Sebab pertemuan antar lempeng lebih dekat dengan garis pantai dibandingkan dengan pantai timur.

Baca Juga: Kolaborasi Antarnegara Teliti Asal Populasi Pari Manta di Indonesia

“Yang menjadi consern, lokasi gempa sangat dekat dengan daratan, dengan kota-kota besar seperti Ishikawa, Kanazawadan juga infrastruktur strategis Jepang lainnya,” tutur Irwan.

Usai gempa besar terjadi, umumnya akan terjadi banyak gempa susulan. Terdapat dua faktor yang menyebabkannya, yakni magnitudo gempa yang besar dan waktu. Semakin besar magnitudonya, gempa susulan berpotensi lebih banyak. Sementara dalam jangka waktu dekat sejak gempa pertama, gempa susulan pun akan lebih banyak terjadi. Seiring waktu, gempa susulan semakin sedikit dan magnitudonya semakin kecil.

Faktor lain yang menjadikan gempa susulan banyak terjadi karena banyak jaringan pengamatan gempa di Jepang. Dengan demikian, gempa-gempa kecil pun akan terdeteksi.

Baca Juga: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem hingga 10 Januari 2024

“Jumlah (gempa) itu, selain dari magnitudo juga dipengaruhi faktor kapasitas kami untuk mengamati,” ujarnya.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: gempa Ishikawagempa Jepanggempa susulanpantai barat Jepangpantai timur JepangProf Irwan Meilano

Editor

Next Post
Pemasangan seismograf pascagempa Sumedang. Foto Dok. Tim Seismologi ITB.

Mengapa Tim Seismologi ITB Pasang 22 Seismograf Pascagempa Sumedang?

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media