Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kelinci Bertelinga Panjang, Marmut Bertelinga Bulat

Di Indonesi, daging kelinci diperjualbelikan untuk dikonsumsi, sedangan marmut menjadi hewan peliharaan.

Senin, 18 Agustus 2025
A A
Kelinci dan marmut. Foto freepik.

Kelinci dan marmut. Foto freepik.

Share on FacebookShare on Twitter

Asal-usul keduanya juga berbeda. Kelinci berasal dari Eropa dan Afrika Utara dan hidup di dalam liang bawah tanah, sedangkan marmut berasal dari pegunungan Andes di Amerika Selatan dan tinggal di permukaan tanah.

Dari segi reproduksi, kelinci lebih produktif karena ovulasi terjadi setelah kawin (induced ovulator), dengan masa kebuntingan sekitar 28–32 hari dan jumlah anak bisa mencapai 12 ekor. Sebaliknya, marmut memiliki masa kebuntingan lebih panjang, 59–72 hari, dan hanya melahirkan 2–4 anak.

Terkait aspek konsumsi, Baihaqi menyebut bahwa daging keduanya dapat dimakan dan halal bagi Muslim. Daging kelinci tinggi protein, rendah lemak dan kolesterol, sementara daging marmut juga tinggi protein namun dengan ukuran tubuh yang lebih kecil.

Baca juga: Menyusuri Jejak Rafflesia di Kawasan Bandealit Jawa Timur

“Fatwa halal untuk daging kelinci telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mayoritas ulama juga membolehkan konsumsi marmut,” ujar dia.

Di Indonesia, potensi ekonomi kelinci lebih besar karena sudah banyak dikembangkan sebagai sumber daging dan hewan hias. Sementara itu, marmut masih lebih umum dijadikan hewan peliharaan.

“Dengan meningkatnya minat terhadap kelinci hias dan konsumsi daging kelinci, peluang usaha peternakan kelinci semakin menjanjikan,” imbuh dia. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB Universitykelincimarmut

Editor

Next Post
Ilustrasi krisis air. Foto balouriarajesh/pixabay.com.

Ancaman Krisis Air, 1 dari 4 Penduduk Dunia Sulit Mengakses Air Bersih

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media